Pages

Thursday, October 29, 2015

Berdakwah Melalu Bahasa

So, kann jemand Surah Al-Balad vorlesen?
Jadi siapakah yang bisa membacakan surat Al-Balad?

Inilah pertanyaan yang guru saya lemparkan pada kami hari ini. Semester ini saya memang mencoba menambah kesibukan lagi dengan mengambil kursus bahasa Arab. Awalnya saya mencoba masuk di kelas A1. Karena saya merasa belum bisa banyak mengerti bahasa Arab. 

Hari pertama kelas bahasa arab sudah membuat saya überrascht (terkejut). Kelas ini diisi oleh 30 mahasiswa. Lebih dari kapasitas kelas seharusnya. Sedikit perasaan senang, karena ternyata banyak orang jerman yang tertarik dengan bahasa ini. Setelah sesi perkenalan dimulai, dosen kami menjelaskan seputar bahasa, tradisi dan budaya di negara-negara timur tengah. Ia menjelaskan bahwa saat ini hanya 3 bahasa yang bisa dipastikan tidak akan punah, bahkan akan terus berkembang. Apa saja? yaitu bahasa Inggris, Arab dan China. Mengapa bahasa Arab tidak akan bisa punah? salah satu yang menjaminnya adalah karena Al-Quran. Al-Quran yang diturunkan dengan bahasa Arab dan dibaca oleh umat muslim dari berbagai belahan dunia dengan berlatar belakang berbagai macam bahasa ibu, membuat bahasa arab tidak akan bisa punah.

Dosen saya pun menjelaskan bahwa dunia arab dan islam tidak dapat dipisahkan. Namun banyak orang yang salah mengerti. Misalnya wanita yang dituntut untuk selalu berada di rumah adalah ajaran Islam. Padahal itu adalah tradisi yang memang ada sebelum Islam datang. Setelah Islam datang, Islam mengajarinya namun tradisi ini sayangnya masih melekat. Ada satu cerita ketika salah satu mahasiswa bertanya, mengapa segala sesuatu dimulai dengan sisi kanan seperti menulis, membaca, memegang sesuatu dsb. Lalu dosen saya pun menjelaskan dengan satu cerita ketika Rasulullah memberi tahu seorang anak lelaki yang makan menggunakan tangan kirinya dan juga menyebut satu hadis mengenai itu. Disitu saya ragu. Kenapa ia menjelaskan menggunakan hadis juga? apakah murid-murid ini akan mengerti? Saya merasa kelas ini bukan kelas bahasa arab biasa dimana orang belajar bagaimana bisa berdialog dengan bahasa arab, dan bagaimana orang mengenal budaya arab. Namun kelas ini lebih seperti kelas TPA seperti saya waktu kecil. Kelas mengaji.

Setelah dua kali pertemuan, saya lompat ke kelas level A2. Karena saya merasa di kelas A1 terlalu langsam dan saya bisa mengejarnya di rumah. Di kelas ini ternyata si dosen pun berbicara lebih banyak mengenai islam. Tidak heran, karena dikelas ini mahasiswa muslim adalah dominannya sekitar 90% dari keseluruhan. Lambat laun saya mengerti... Dosen ini ternyata juga seorang muslim dan ia mencoba berdakwah, mengenalkan islam, menjelaskan islam melalu bahasa. Seperti permintaan ia untuk membaca surat Al-Balad, ketika kita sedang memulai tema Negara. (Al-Balad = Negara). Di kelasnya sesekali ia membubuhi beberapa info, pengetahuan tambahan mengenai islam dan ilmu pengetahuan. Seperti misalnya ia menjelaskan ada 3 negara yang disebutkan dalam Al-Quran salah satunya Bahrain. Darimana kata Bahrain berasal? Dari kata Bahr yang berarti Laut. Bahrain berarti dua laut. Al-Quran menyebut kata bahrain untuk menunjukkan ada dua laut yang tidak bisa menyatu yang tercantum salah satunya dalam surat Ar-Rahman. 

Melihat ekspresi mahasiswa non-muslim dan mahasiswa muslim lainnya yang belum mengetahui tentang dua laut yang tak bisa menyatu ini membuat saya menjadi hormat kepada dosen ini. Senang sekali melihat muslim bisa menjadi agen, mengenalkan islam yang sesungguhnya kepada masyarakat luar :) Semoga Allah SWT memberikan Anda pahala yang berlipat ganda.




Gießen, 29.10.2015
sambil-menikmati-dedaunan-yang-berguguran


Berdakwah Melalui Karya

#Repost von https://www.masjid-indonesia.de/reportase-pengajian-bersama-asma-nadia/

Ada yang berbeda di pengajian bulanan Oktober (10/10/15). Bersamaan dengan adanya Frankfurter Buchmesse juga datang para penulis buku dari Indonesia yaitu Asma Nadia dan Dian Pelangi. Pada kesempatan itu, ada semangat baru yang ditanamkan oleh kedua pembicara. Bahwa setiap dari kita seharusnya menulis atau merekam setiap hikmah atau kejadian yang kita alami. Menurut Asma, menulis adalah menyampaikan hal yang juga merupakan upaya untuk melipatgandakan amalan kecil yang kita punya.
Dalam menulis buku ada beberapa tantangan yang akan dihadapi. Adapun tantangan yang akan ditemui seperti  bagaimana agar buku mampu menembus rumah produksi, dan setelah itu mempromosikannya. Beberapa buku  dari Asma sudah diangkat ke layar lebar dan ada juga yang dibuat sinetron. Lewat karyanya ada dakwah yang disisipkan. Nilai-nilai moral dari karyanya pun dijaga hingga tidak melewati ketentuan syariat islam, baik dalam proses pembuatan film itu dan penyiarannya.
Saat menulis terkadang ada momen ketika si penulis kehabisan ide di tengah-tengah tulisan, hingga menjadi sulit untuk menyelesaikannya. Lalu kapankah waktu terbaik untuk menulis?, “ menulis seharusnya bisa dimana saja dan kapan saja. Sama seperti belajar, masing-masing pribadi mempunyai waktu dan keadaan tertentu yang membuatnya mampu fokus semaksimal mungkin,“ ujar Asma.
Selain itu Asma juga berbagi tips bagaimana untuk konsisten dalam menulis. Contohnya, mengembangkan kata dengan memperbanyak pustaka, mengembangkan ide dan menyelesaikan sebuah cerita harus dengan alasan atau “why” yang kuat, dan melakukan riset untuk data dalam cerita harus selengkap mungkin.
Pesan khusus dari Asma Nadia,“ orang yang alim, yang cerdas, atau yang bijaksana harus menulis buku. Karena dengan buku itu kebaikannya akan terus mengalir ke banyak sosok lain. Meski si penulis sudah meninggal, pahala kebaikannya lewat karya itu akan terus mengalir.“ (/AH&BM)





Saturday, October 3, 2015

Mereka Saudaraku


Sejenak saya menyadari, tiga wanita di kursi sebelah seperti membicarakan diri saya. Namun dengan bahasa yang tak saya mengerti. Bukan bahasa jerman, inggris, arab bahkan indonesia. Saya hadapkan wajah saya ke arah mereka dan melemparkan senyum yang agak ragu. Merekapun tersenyum balik lalu mengajak saya berbicara dengan bahasa yang saya tidak kenali. 

"Me??.. Indonesia.. Ya, Indonesia..", ucap saya sambil menerka pertanyaan mereka. Rupanya mereka berbicara bahasa kurdi. Bahasa yang kerap digunakan di beberapa daerah negara Turki, Suriah, Irak dan Iran. 

Mereka adalah pengungsi. Ya.. kali ini Jerman sedang dibanjiri oleh pengungsi dari negara-negara konflik sana. Di kota Gießen sendiri hampir di setiap sisi jalan, kalian akan menemukan sekelompok warga dengan wajah khas timur tengahnya. Dan siang ini saya bertemu mereka, khususnya tiga wanita yang sebelumnya membicarakan saya. Mungkin karena kami adalah saudara, terlihat dari tampak luarnya karena kami semua mengenakan jilbab. Ingin rasanya mengobrol dan mengajak berkeliling kota bersama, agar mereka tidak merasa asing di negara baru yang-dengan-terpaksa-mau-tidak-mau menjadi naungan mereka sementara. Sayangnya bahasa membatasi komunikasi kami. 

Pemandangan saya beralih kepada sisi lain. Seorang lelaki tua yang duduk di depan saya, tertunduk. Ia sibuk bermain dengan whatsappnya, mengirimkan banyak sekali voicenote dalam setiap menitnya. Mengirimkan pesan dengan huruf arab gundul yang tentunya saya tidak mengerti. Mungkin ia sedang berkomunikasi dengan keluarga lainnya yang terpisah antar negara, yang juga mengungsi ke belahan dunia lain, atau bahkan masih berada di negara tercintanya yang dalam keadaan porak poranda. Barangkali pesan itu berisi kalimat kekhawatiran mengenai keadaan keluarganya, atau bahkan kalimat sayang untuk sekedar mengobati rindu akan mereka. 

Teringat juga cerita salah teman saya asal turki. Ia bersama keluarganya dengan sigap membantu beberapa pengungsi yang baru datang ke kota Gießen setelah melalui perjalanan yang jauh. Tampak seorang wanita terlihat menangis. Wanita ini memiliki gangguan psikis karena tekanan yang dialami akibat konflik di negaranya. Disebelah wanita tersebut, terlihat juga sebuah kantong hitam yang cukup besar. Teman saya hampir berteriak, ketika menyadari isi karung itu adalah seorang bayi! Bayi dari wanita tersebut. Malang sekali nasib si bayi. Sang ibu pun hanya bisa menangis terus menerus. Ia seperti benar-benar ketakutan. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap dirinya dan bayi yang ia bawa. Bagaimana bisaaa??? tanya saya dalam hati.

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang mereka rasakan saat ini. Hati ini hanya bisa berontak marah, tidak mengerti apa yang saat ini sebenarnya terjadi. Sayangnya raga ini belum bisa berbuat banyak, walau jiwa sangat ingin berontak. 

Saudaraku disana... bersabarlah..  إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan mohon maafkan saudaramu disini, yang belum bisa banyak membantu untukmu..



Wednesday, September 9, 2015

Praktikum di Hausarztpraxis & Frau Weber

Assalamu’alaikum wr. wb semuaaa J

Kali ini saya mau menceritakan Ablauf kegiatan praktikum di Haursaztpraxis (Praktek dokter umum). Seharusnya sih saya udah mulai praktikum dari dua hari yang lalu. Tapi karena males dan masih jetlag dari Aachen (*alesan) jadi deh izin dan baru mulai Rabu ini.

Soo... jadi ceritanya praxis (praktek dokter) ini buka jam 07.00. Perawatnya sudah bersiap-siap mulai jam 06.30. Mereka ngecek apakah semua Komputer sudah siap dan mendengarkan pesan-pesan Mailbox dari para pasiennya. Mulai jam 07.00 datang bestellte Patienten (pasien yang sudah bikin janji) untuk diperiksa di Labor. Bisa diambil darahnya, pemeriksaan EKG, cek Urin dan Ultraschall. Bagi penderita diabetes biasanya diminta juga untuk melepas kauskakinya, untuk dilihat apakah ada luka atau pembusukan pada bagian kaki (typsiches Zeichnen Diabetpatienten). Oya, jangan harap jam segini udah liat dokter hehe. Mereka baru dateng sekitar jam 08.00 atau 08.15.

Mulai jam 08.15 saya mengikuti dokter di kamar konsultasinya. Mir ist sehr aufgefallen, pasien yang dateng kasusnya hampir samaaaaa semua. Kalo ga sakit bagian leher, atau sakit bagian perut. Diagnosa nya pun juga mirip, sakit bagian leher karena otot-otot dibagian sana terlalu spannend (tegang), sehingga menyebabkan ketidaknyamanan ketika menggerakkan kepala atau melakukan pekerjaan dengan banyak gerakan bagian bahu. Untuk memeriksa otot bagian mana yang tegang, bisa dengan cara ditekan pada bagian yang sakit (tekan bagian leher dan bahu). Kita akan segera ‘ngeh’ kalo bagian yang sakit lebih keras disbanding daerah lainnya. Selain itu bisa juga dengan meminta pasien untuk menggerakkan kepala ke kiri dan kanan, juga atas dan bawah. Sebagai terapi yang sederhana, kita bisa berikan Wärme/Kälte pada bagian yang sakit, misalnya Voltaren. Ini akan membuat otot sedikit relax. Bisa juga dengan quadeln, memberikan suntikan anastesi agar otot menjadi relax kembali. Pada kasus yang lebih serius, disarankan untuk mengikuti Krankengymnastik 3 mal die Woche, untuk melatih otot-otot tubuh agar mudah relax.

Pasien yang datang karena mengeluh sakit bagian perut, biasanya menderita Magen-Darm-Infektion (Infeksi pada lambung dan usus) atau infeksi pada lambung karena Schutzfaktor pada lambung yang menurun fungsinya. Ketika saya bertanya pada Frau doktor Böttga, mengapa tidak banyak variasi kasus hari ini, ia hanya bereaksi „So ist es im Hausarztpraxis“ – ya memang begini di praktek dokter umum. Ternyata memang kita tidak banyak menemukan kasus baru disini. Tiba-tiba jadi kepikiran, mungkin di musim-musim ujian akan datang lebih banyak lagi pasien (terutama mahasiswa), yang mengeluh sakit kepala dan sakit leher agar bisa dapat surat keterangan sakit dan diizinkan tidak mengikuti ujian hehe :D

Serunya lagi.. ketika saya sedang mengikuti dokter Böttga memeriksa seorang alte Omi (nenek tua), nenek ini memperhatikan saya secara tidak biasa. Saya pun seperti mengenalinya. Ketika melihat nama yang tertera pada kertas resep „Emmi Weber“. Nama yang tidak asing. Iseng lah saya bertanya padanya

Saya : “Frau Weber, wurden Sie schonmal operiert? Vielleicht im St. Josefs?“ – Ibu Weber, apakah Ibu pernah dioperasi? Mungkin di rumah sakit St. Josefs?

Fr. Weber : „Ja, war ich. Das war Schulter-OP. Ich hab mir schon gedacht. Ihr Gesicht habe ich schon erkannt. „ – Iya, pernah. Waktu itu operasi bagian bahu. Saya sudah menyangka, saya mengenali wajah anda.

Saya : „Das war aber schon lange her, ne? März 2014? Sie waren bei Herrn Doktor Askevold. Schön, dass Sie an mich noch erinnern. Sonst alles gut? – Itu udah lama kan ya? Maret 2014. Anda dulu sama dokter Askevold. Senang anda masih mengingat saya. Kabar anda baik?

Lalu kami berbicang-bincang cukup lama. Sampai akhirnya dokter Böttga datang memberikan resep dan pembicaraan kami pun berakhir.

Saya : „Ok, Frau Weber.. vielleicht treffen wir uns wieder irgendwannmal. Ich wünsche Ihnen alles Gute!!‘‘ – Ok Ibu Weber, mungkin kita ketemu lagi kapan-kapan. I wish you all the best!!.

Fr. Weber : „Ja aber hoffentlich nie wieder im Krankenhaus oder im Praxis hehe. Tschüß meine Süße!“ – Ya, tapi semoga ga ketemu di rumah sakit atau di praktek dokter hehe. Bye meine Süße!

Senangnya bertemu dengan Frau Weber hari ini. Terlebih lagi dia mengenali saya. Padahal saya ingat, saat di rumah sakit St. Josefs, saya tidak terlalu sering bertemu dengannya. Hanya sesekali mengantarkan makanan dan pernah membantu Frau Weber ketika mandi dan memakai baju, karena saat pasca operasi, tangan kanannya masih belum bisa berfungsi dengan baik. Hal ini yang membuat saya suka bekerja di bidang kesehatan. Bertemu banyak orang baru, berkenalan dan mengenal banyak cerita tentang mereka. Membuat hidup semakin berwarna ;)

Gießen, 09.09.2015

Sambil-menikmati-anggur-manis-ditemani-lagu-maher-zain

Tuesday, September 1, 2015

بر الوالدين ( Berbakti Pada Orang Tua )

'' Ambu ada rasa takut kehilangan teteh.. Ambu bisa menikmati hidup bareng sama teteh cuma sampe teteh usia 18 tahun.  Intens bersama, ngobrol, becanda juga berselisih pendapat cuma sd teteh usia 18 thn... ''

Kalimat ini, menjadi obrolan penutup saya dengan Ambu (*panggilan untuk Ibu dalam bahasa Sunda) tadi malam. Kalimat ini membuat saya meneteskan air mata dan juga membuat saya berpikir tentang pentingnya berbakti pada orang tua. Menjadi pesan tersendiri untuk saya.. Bahwa jangan hanya fokus mempersiapkan diri untuk menjadi calon istri yang sholihah saja, tapi juga tetap sibukkan diri untuk menjadi anak yang sholihah. Sebelum wanita menjadi tanggungan suaminya, selagi masih menjadi tanggung jawab ayahnya, kirimkan pahala sebanyak-banyaknya untuk mereka. Melalui amal shalih anaknya. Lantas, bagaimana kalo selama ini yang dikirimkan hanyalah dosa? :( Naudzubillahi mindzalik. 

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang tua saya, memberi rahmat dan kesejahteraan kepada mereka, dan mematikannya dalam keadaan khusnul khotimah..




Aachen, 1 September 2015
bersama-rintik-hujan-di-pagi-hari

Friday, August 28, 2015

Tanya Jawab Seputar Kuliah di Jerman

Assalamu'alaikum semua! :)

melihat semakin banyaknya E-Mail yg masuk bertanya seputar kuliah di Jerman, saya akan merangkum beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan, untuk memudahkan teman-teman mendapatkan info tersebut. Jika temen-temen punya pertanyaan lain, silahkan kontak saya langsung. InsyaAllah saya jawab semampu saya :D

Apa kuliah di jerman sangat sulit ?

Sulit iya. sangat sulit iya, bagi yg ga mau berusaha hehe. kuliah di jerman mmg sulit, krn kuliahnya ga pake bhs indonesia. sistemnya jg bkn sistem indonesia. makanya harus kuat2 mental. tapi sulit bukan berarti ga bisa yah :)

Kakak masuk kuliah apa udah bisa bahasa jerman ? boleh kasih tips gak buat blajar bahasa jerman?

Belum bisa sama sekali. Saya belajar bahasa Jerman setelah lulus UN. Belajar di Goethe Institut Jakarta selama 6 bulan sampai level B1. Lanjut sebentar sampai B2 lalu pergi ke Jerman. Disana saya ga kursus bahasa Jerman lagi sampai saya mulai Studienkolleg.

Tipsnya.. setiap orang pasti punya cara beda2 ya. Kalo saya dulu suka nonton film di perpustakaannya Goethe Jakarta. Dari menonton film kita banyak ngumpulin kata-kata baru. Juga banyak baca-baca artikel dalam bhs jerman. Dulu saya punya buku kecil yang suka saya bawa kemana-mana. Setiap saya denger kata baru yang saya ga ngerti, saya catet dan dirumah langsung dicek artinya. Kamar saya juga penuh dengan tempelan kata atau ungkapan dalam Bahasa jerman. Dengan cara itu saya belajar banyak. Kekurangan saya saat itu berlatih bicara, karena saya termasuk yang sungkan dan malu untuk memulai. Mungkin untuk berlatih bicara bisa cari partnernya. Di Goethe Jakarta banyak bule-bule jerman yang berkeliaran kok hehe ;)

Kalo mau tanya2 dan konsultasi untuk kuliah di Jerman kemana ya, yang terpercaya?

Bisa ke DAAD Jakarta (http://www.daadjkt.org/)

di kota tempat kakak kuliah mahal ga biaya hidupnya?

Hmmm relatif. Di Gießen sewa rumah itu berkisar 200-350€. Untuk biaya makan beda-beda pastinya tiap orang. Biaya Semester sekitar 300€/semester. Asuransi 30€/bulan (untuk yang privat) atau 80€/bulan untuk yang gesetzlich.

Untuk masuk M-kurs itu sertifikatnya bisa B1 aja apa harus langsung B2?

bisa B1 atau B2. tergantung studienkolleg yg dituju mintanya apa. Tapi saranku minimal bisa B2.

Dulu kakak kesini pake agen apa?

Saya ga pake agen. Pengurusan semuanya sendiri.

Kak, ngurus sendiri tanpa agen ribet ga?

Ribet itu pasti, namanya juga mengurus sendiri. Apalagi kalo situasinya spt saya, ga punya kenalan siapa2, ga bisa bahasanya dsb.  Kalo ribet di awal keuntungannya banyak. Pas sampe jerman jadi ga asing karena semua informasi udah didapat dari mengurus sendiri ini. Sementara banyak temen yang pake jasa agen datang ke jerman melongo karena minim info. Tentu biaya pengurusannya pun jadi lebih murah juga jadi punya koneksi yang luas.

Kakak tes Studienkolleg di Indonesia atau di Jerman?

Saya tes di Indonesia dan Jerman. Tes di Indonesia tapi bukan untuk Studienkolleg Indonesia, melainkan Studienkolleg Berlin. Sebenarnya itu dadakan. Karena saya mendapatkan tempat untuk tes di Charite Berlin, namun saat itu saya masih di Indonesia. Jadi saya minta ke pihak Charite nya, agar saya diizinkan untuk tes di Indonesia. Tapi ternyata dapet tempatnya di Jerman.

Kakak bisa cerita tahapan sampai kakak diterima di studkol? Terima kasih :)

waduh kalo saya cerita panjang ya hehe. intinya Mei-Desember 2011 kursus bahasa jerman. Jan 2012 berangkat dan tes2 masuk studienkolleg. Maret 2012 - Desember 2012 Studienkolleg. lanjut Maret 2013 - skrg kuliah kedokteran. begitu :D

Kakak tes di berapa studkol? Dan keterima dimana aja?

Kalo ga salah saya daftar 9 Studienkolleg, yang dapet panggilan hanya 6. Dan dari sebanyak itu hanya keterima 1.

kalau kata kakak nih mending studienkolleg di tangerang atau di jerman langsung?

Krn saya ga pernah ngerasain Studienkolleg tanggerang, jadi saya ga bisa bandingin :D yg jelas kalo langsung di Jerman, belajarnya langsung dengan org jerman.  Bisa belajar langsung jg dgn lingkungannya. Kekurangannya, susah dapet tempat disini. Krn saingannya bukan sm org indonesia aja tp dgn semua calon mahasiswa asing.

Kan pas masuk studienkolleg udah di kelompokin tuh, yang mau masuk kedokteran, farmasi, ekonomi, sastra, sama teknik. nah, misalnya aku ambil M-kurs nih, nah itu nanti kalau udah lulus studienkollegnya langsung bisa masuk kedokteran apa bisa jadi masuk jurusan lain?

M-Kurs itu artinya bukan untuk yg mau medizin aja. M memang dr kata Medizin. Yg harus masuk M-Kurs itu adalah calon2 mahasiswa yg mau kuliah di jurusan kesehatan spt kedokteran, gizi, farmasi dsb. T-Kurs untuk calon mahasiswa teknik dsb. G-Kurs untuk yang ingin kuliah bahasa dan musik, W-Kurs untuk yang ingin kuliah ekonomi.

Kak mau tanya dong emang bener ya kalo kuliah bachelor kedokteran di jerman terus kerja di indonesia tidak bisa, kalo pun bisa ada masa penyetaraannya? kalo ada berapa lama?

ga hanya di jerman. Semua dokter lulusan luar Indonesia dan ingin bekerja di Indonesia harus mengikuti penyetaraan dulu. Lamanya sekitar 1-2 tahun. Tujuannya untuk menyesuaikan dengan sistem kedokteran di Indonesia.

Menurut kakak bedanya kuliah kedokteran di indonesia sama di jerman apa ya?

wah saya ga bisa jawab banyak krn saya sendiri belum pernah kuliah kedokteran di Indonesia, jd ga bisa membandingkan. Kalo dari ngobrol2 dgn teman fakultas kedokteran di Indonesia, bedanya mungkin dr semester awal kita udah mencicipi rumah sakit. Sering banget malah. Dari semester 1. Sementara mereka mungkin baru semester akhir2 aja. Dan disini kita membedah mayat sejak semester 1 dalam kelompok kecil (1 mayat 8 orang), dari mulai jenazahnya utuh sampai  tinggal organ-organnya saja yang terlihat.

kalo mau kuliah dengan jurusan kedokteran gigi apakah ada? atau harus umum dulu baru spesialis gigi?

Untuk kedokteran gigi disini juga ada. Seperti di Indonesia, ambil jurusannya langsung kedokteran gigi. Banyak juga temen disini yang ambil dua jurusan yaitu kedokteran umum dan gigi, krn mereka nantinya mau jadi dokter bedah mulut. Masalah gaji, dokter bedah mulut adalah salah satu yg favorit :)

Kakak kuliah dengan beasiswa?

Engga L lebih tepatnya belum. Doain ya biar saya bisa cepet dapet beasiswa :D

Ada permasalahan ga kuliah disana dengan berhijab? Denger-denger Jerman termasuk negara yang rasis banget.

Mengenai berhijab.. Memang setiap org mungkin punya pengalaman berbeda2. Kalo ada yg bilang jerman rasis bener. Yang bilang jerman ga rasis, itu juga bener hehe. Tergantung dimana org itu tinggal, gimana org itu bersikap terhadap orang2 sekitar dan sebagainya. Saya pribadi Alhamdulillah sampe saat ini ga pernah punya masalah dengan berhijab. Bahkan temen2 di sekeliling saya pun hampir ga ada juga yg punya masalah dgn itu. Saya skrg tinggal bersama kurang lebih 6 org jerman dan 4 mahasiswa asing lainnya. Ada jg yg Atheis yg memang ga percaya adanya Tuhan dan agama. Tapi toleransi disini sangat kuat. Mereka ngerti kenapa kita ga makan pas Ramadhan, kadang juga sahur jam 3 dini hari ditemenin sama temen yg lagi mabuk :D Saya juga pernah diingatkan solat sama Nenek kenalan saya dan pernah juga diingatkan jangan membeli es krim dgn rasa A dan B oleh penjual es krim krn mengandung alkohol. Penjual itu bisa mengingatkannya karena melihat aku berhijab.

Kalo lagi di jalan ketemu dengan wanita berhijab lainnya, biasanya kita saling melempar senyum dan menyapa dengan salam. Bahkan terkadang mengobrol layaknya teman lama yang sudah lama berpisah, bertukar kontak, lalu bertambah deh saudara seimannya ;)

Satu2nya kendala saya cuma satu waktu, kelita melamar kerja menjadi  tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Saya ditolak krn berhijab, dengan alasan higienitas dsb. Namun itu benar-benar urusan kecil. Toh Alhamdulillah saya bisa bekerja membantu dokter di ruang operasi, yang higienitasnya juga sangat diutamakan J

menurut kakak, disana perlakuan orang yang menguji mental banget apa kak?

Hmmm buatku perlakuan org disini sewajarnya aja. Yang lebih menguji mental itu gimana bisa bertahan disini, melakukan aktifitas sehari-hari, berkomunikasi dgn org dgn bukan bahasa dan budaya sendiri hehe. Juga menguji mental adalah jauh dari keluarga, jauh dr sahabat-sahabat, ketika temen2 sebaya di Indonesia udah lulus duluan, nikah duluan hehe

kakak punya part time job gitu ga? kalau punya, susah gak ngebagi waktunya sama kuliah?

Punya, dan memang susah bagi waktunya. Krn biasanya habis kerja itu cape, jd susah untuk mulai belajar. Tapi itu buat saya ya... tiap orang kan beda2 kemampuannya. Jd saya porsinya masih 80% kuliah. Kerja lebih banyak ketika sedang libur semester. Kalo kerja saat waktu kuliah, saya ambil yang kerjanya ga tiap hari atau hanya sebentar.

Kalau part time job paling enak itu apa ya?

Beda-beda ketertarikan dan kemampuan tiap orang J

Kaka pernah kerja part time apa aja?


Hmmm.. jd loper koran, cleaning service di hotel, pekerja di pabrik mobil, perawat di panti jompo, jd tour guide, jd pendamping mahasiswa yang baru dateng ke jerman, kerja di kampus (HiWi), kerja di pabrik coklat dan bantu-bantu di ruang operasi hehe.

Tuesday, August 18, 2015

Drama Coklat

Layaknya seorang wanita yang takut ditinggal oleh kekasihnya.. merasa gelisah jika kekasihnya pergi. Sama seperti yang saya rasakan hari ini ketika kerja. Bukan dengan kekasih, melainkan teman kerja saya, Salma (nama disamarkan) hehe. Pasalnya sudah 4 hari saya dan Salma bekerja bersama di mesin yang sama, yang SELALU ngadat. Julius nama mesin tersebut. Julius ini mengemas coklat-coklat kelinci Bunny dengan baju berwarna gold. Sayangnya ia seringkali ngadat, membuat saya dan Salma kewalahan. Saya juga makin kebakaran jenggot kalo Salma meninggalkan saya hanya untuk ke toilet atau istirahat 10 menit. Itu berarti ketika Julius rewel, saya harus memperbaikinya sendiri. Saya harus memasukkan coklat Bunny secara manual ke dalam cetakan dalam mesin berjalan secara cepat, bersamaan dengan itu saya juga harus memperhatikan coklat Bunny yang lain agar tidak menumpuk dan sebagainya.. Sementara mesin tidak boleh diberhentikan. Karena setiap waktu kerjanya, kami harus memproduksi coklat minimal 400kg. Seperti kebakaran jenggot. Rasanya ingin menangis sudah :(

Sudah dua hari juga kepala bidang bagian produksi "COKLAT MINIS" kami diwakili oleh orang lain. Mendengar obrolan dari para pekerja disini, mereka kurang senang dengan si ibu wakil ini. Entah kenapa, yang jelas semua terlihat "malas" dengannya. Benar saja.. ketika saya ketemu dan melemparkan senyuman,  ternyata dia hanya melihat saya dengan muka datar, namun tidak kepada pekerja lainnya. Tak lama Salma meminta izin kepadanya agar saya dan Salma diizinkan pergi sholat sebentar. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya datar namun sedikit sinis.

Ibu : "Wo wollt ihr denn beten?" - "Emang kalian mau ibadah dimana?"
Salma : "Da, hinter der Treppe." - "Disana, dibalik tangga."
Ibu : "Weiß du, dass es verboten ist?!", - "Kamu tau kalo itu ga boleh?!" , tanyanya dengan logat rusia yang kental. "Ich hatte einmal jemand mit der Tür geschlagen, da sie hinter der Treppe gebetet hat. Selber Schuld! Ich musste ja dringend auf Toilette. Hahahaha!!" - "Gue pernah nabrak orang kena pintu, pas dia lagi ibadah di belakang tangga. Ya, salah sendiri! gue kan mau buru-buru ke toilet hahahaha", tawanya terbahak-bahak.

Salma : "Egal Syifa.. kommt!" - "Bodo amat Syifa, ayo!", Salma pun langsung menarik tanganku  dan menghiraukan ibu tersebut yang sedang menertawakan hal yang sebenarnya sangat tidak lucu. Sekejap pikiran suudzon saya keluar, apakah ibu ini tidak suka dengan saya dan Salma. Mungkin karena kita berdua memakai jilbab. Entahlah.

Ketika kami selesai shalat, Salma berkata padaku.

Salma : "Egal Syifa, was die Kafiren zu uns machen. Allah wird immer bei uns Enscha Allah. Mach Dua, hoffentlich schaffen wir ein Beten Raum zu realisieren. Ein Chef von Lindt ist ja auch ein deutscher Muslim." - "Terserah Syifa, apa yang orang kafir lakuin ke kita, Allah akan selalu bareng kita InsyaAllah. Doakan semoga kita bisa merealisasikan satu ruangan khusus untuk solat. Salah satu bos disini juga seorang muslim asli Jerman."

Hari berikutnya di ruang istirahat. Ibu perwakilan itu berbisik kepada Nihad, salah satu pekerja disana. Tak lama 4 pasang mata tertuju kepada saya, disusul yang lain, yang ikut menoleh dan berbisik. Hä, ada apa ini, pikir saya ragu. 

Setelah itu Nihad pun menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ternyata si ibu tersebut menginvestigasi Nihad, apakah kemarin dia membantu saya dan Salma ketika memproduksi coklat. Pasalnya kemarin Julius memang ngadat terus, dan kami hanya berdua. Salma beserta saya, yang hanya seorang mahasisiwi dengan pengalaman kerja baru 3 hari. Ibu itu tidak percaya bahwa kita hanya berdua mengerjakannya. Karena ternyata kemarin kita berhasil memproduksi 470kg coklat!! Lebih dari yang seharusnya, dan belum pernah sebelumnya ada yang berhasil mengerjakan sebanyak ini.

"Na.. siehst du! Allah hilft uns, Alhamdulillah. Egal was die Kafiren sagt, hauptsache arbeiten wir ehrlich. Enscha Allah heute schaffen wir 600 kg!!" - "Nah liat kan.. Allah bantu kita. Terserah orang-orang kafir itu mau ngomong apa, yang penting kita kerja dengan jujur. InsyaAllah hari ini kita bis produksi 600kg!!", katanya dengan tawa sumringah.

"He.. eh..", saya tertawa pasrah. 600 kg badan saya jadi apa habis ini :")










Aachen, 18 Augustus 2015
sambil-menikmati-dinginnya-Aachen-hari-ini