Pages

Showing posts with label Kerja. Show all posts
Showing posts with label Kerja. Show all posts

Sunday, November 15, 2015

Hari yang Panik

Hari ini tepat dua hari setelah kejadian ledakan bom di Paris yang menewaskan sekitar 100 orang lebih. Dua hari tentu saja masih sangat hangat untuk diperbincangkan. Apalagi untuk warga jerman, sebagai penduduk yang tinggal bersebelahan dengan negara Perancis ini. Tema ini sudah pasti akan banyak dikaitkan dengan teror dan islam.

Pasca kejadian ini membuat saya takut terkena dampaknya. Kenapa? Karena saya sebagai seorang mahasiswi jerman yang setiap langkahnya ke luar rumah membawa identitas agama saya. Jilbab. Hari ini pula hari pertama saya bekerja di tempat baru. Di rumah sakit yayasan Balser sebagai tenaga bantu memberikan suntikan bius peridural. Muncul ketakutan saya jika pasiennya bertindak tidak ramah kepada saya pasca kejadian di Paris kemarin. Atau para pasien bertanya banyak tentang agama saya, bukan untuk mencari tahu namun untuk mencari kesalahan-kesalahannya dan mengaitkan dengan peristiwa kemarin. Sempat terpikir untuk menunda pekerjaan ini di bulan depan saja. Namun entah kenapa akhirnya saya beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk memulai pekerjaan baru saya ini.

Sesampainya di rumah sakit, saya mencoba menenangkan diri. Mencoba berdzikir dalam hati agar perasaan gusar itu pergi. Hari ini ternyata ada 7 pasien yang harus saya beri suntikan. Saya mulai mencatat nama-nama mereka dan mempersiapkan semua alat-alatnya. Mulailah saya masuk ke kamar pasien satu ke pasien lain. Alhamdulillah mereka semua ramah tanpa berkomentar apa-apa mengenai kejadian kemarin. Sampai ketika saya masuk ke pasien ke-4, Herr Schneider. Saya kenal beliau sebelumnya, ketika saya melakukan percobaan kerja. Saya mulai menyapanya dengan selamat pagi dan menanyakan kabarnya. Ia terlihat senang pagi itu. Herr Schneider mulai menyalakan televisi dan mencari siaran berita. Ups.. saya sudah mengerti apa yang akan terjadi berikutnya, Herr Schneider pun mengalihkan tema lain ke tema ini.

Schneider : "Apakah anda sudah tau mengenai serangan teroris di Paris Jumat kemarin?"

Syifa : "Ya, saya sudah dengar tentang itu. Saya benar-benar menyayangkan kejadian tersebut."

Schneider : "Sekitar 129 orang meninggal dunia. Mereka tidak bersalah sama sekali."

Syifa : ''Oya? Saya dengar bahkan sampai 150 orang. Entahlah.. Jika mereka mengaku islam seperti agama saya ini, mereka sangat salah menginterpretasi agama. Atau mereka mungkin disetir oleh beberapa kelompok orang untuk melakukan ledakan ini."

Schneider : "Benar saya setuju dengan itu. Lagipula katanya salah satu pelakunya adalah penduduk Perancis sendiri."

Syifa : "Ya? Hmm..."

Schneider : "Jika anda sudah selesai dengan kuliah anda, menetaplah disini. Disini lebih aman daripada di luar sana. Atau bahkan di negara asal anda. Darimana anda berasal?"

Syifa : "Hehe.. saya berasal dari Indonesia. Ya tidak akan ada yang tau dimana tempat aman itu berada. Dua hari yang lalu teman saya baru saja dirampok ditodong dengan pisau di supermarket Gießen. Die Welt ist einfach schon krank"

Schneider : "Oh Tidak.. kita semua harus berhati-hati dimanapun berada. ''

Syifa : "Ja..ist so.. Baiklah, ini suntikan pertama yang saya berikan. Saya akan kembali lagi sekitar 15 menit untuk memberikan suntikan selanjutnya.. Sampai nanti!"


Saya pun keluar dari kamar Herr Schneider dan tersenyum lega.. Percakapan mengenai tema ini tidak muncul seperti yang saya takutkan pagi tadi. Saya melanjutkan pergi ke pasien berikutnya sampai semua pasien mendapatkan suntikan. Dan ternyata hari ini war gar nicht so schlimm. Kepanikan malah datang karena saya sempat tertukar memberikan suntikan bius pada pasien ke 5 dan ke 6. Untung saja mereka memiliki dosis yang sama. Jadi tidak masalah. Pasiennya pun mengetahui tentang hal tersebut dan ia tidak marah sama sekali. Hanya saja saya terkena teguran keras dari perawatnya sampai membuat saya panik dan merasa tidak enak hati :(

Dan akhirnya hari pertama kerja ini benar-benar jadi pelajaran saya untuk kedepannya.. Toh manusia belajar dari setiap kesalahannya.. Untung saja saya melakukan kesalahan ini ketika masih menjadi mahasiswa. Bagaimana jika yang melakukan kesalahan adalah seorang dokter? Semoga saja tidak akan pernah terjadi ;)



Gießen, 15.11.2015


Friday, August 28, 2015

Tanya Jawab Seputar Kuliah di Jerman

Assalamu'alaikum semua! :)

melihat semakin banyaknya E-Mail yg masuk bertanya seputar kuliah di Jerman, saya akan merangkum beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan, untuk memudahkan teman-teman mendapatkan info tersebut. Jika temen-temen punya pertanyaan lain, silahkan kontak saya langsung. InsyaAllah saya jawab semampu saya :D

Apa kuliah di jerman sangat sulit ?

Sulit iya. sangat sulit iya, bagi yg ga mau berusaha hehe. kuliah di jerman mmg sulit, krn kuliahnya ga pake bhs indonesia. sistemnya jg bkn sistem indonesia. makanya harus kuat2 mental. tapi sulit bukan berarti ga bisa yah :)

Kakak masuk kuliah apa udah bisa bahasa jerman ? boleh kasih tips gak buat blajar bahasa jerman?

Belum bisa sama sekali. Saya belajar bahasa Jerman setelah lulus UN. Belajar di Goethe Institut Jakarta selama 6 bulan sampai level B1. Lanjut sebentar sampai B2 lalu pergi ke Jerman. Disana saya ga kursus bahasa Jerman lagi sampai saya mulai Studienkolleg.

Tipsnya.. setiap orang pasti punya cara beda2 ya. Kalo saya dulu suka nonton film di perpustakaannya Goethe Jakarta. Dari menonton film kita banyak ngumpulin kata-kata baru. Juga banyak baca-baca artikel dalam bhs jerman. Dulu saya punya buku kecil yang suka saya bawa kemana-mana. Setiap saya denger kata baru yang saya ga ngerti, saya catet dan dirumah langsung dicek artinya. Kamar saya juga penuh dengan tempelan kata atau ungkapan dalam Bahasa jerman. Dengan cara itu saya belajar banyak. Kekurangan saya saat itu berlatih bicara, karena saya termasuk yang sungkan dan malu untuk memulai. Mungkin untuk berlatih bicara bisa cari partnernya. Di Goethe Jakarta banyak bule-bule jerman yang berkeliaran kok hehe ;)

Kalo mau tanya2 dan konsultasi untuk kuliah di Jerman kemana ya, yang terpercaya?

Bisa ke DAAD Jakarta (http://www.daadjkt.org/)

di kota tempat kakak kuliah mahal ga biaya hidupnya?

Hmmm relatif. Di Gießen sewa rumah itu berkisar 200-350€. Untuk biaya makan beda-beda pastinya tiap orang. Biaya Semester sekitar 300€/semester. Asuransi 30€/bulan (untuk yang privat) atau 80€/bulan untuk yang gesetzlich.

Untuk masuk M-kurs itu sertifikatnya bisa B1 aja apa harus langsung B2?

bisa B1 atau B2. tergantung studienkolleg yg dituju mintanya apa. Tapi saranku minimal bisa B2.

Dulu kakak kesini pake agen apa?

Saya ga pake agen. Pengurusan semuanya sendiri.

Kak, ngurus sendiri tanpa agen ribet ga?

Ribet itu pasti, namanya juga mengurus sendiri. Apalagi kalo situasinya spt saya, ga punya kenalan siapa2, ga bisa bahasanya dsb.  Kalo ribet di awal keuntungannya banyak. Pas sampe jerman jadi ga asing karena semua informasi udah didapat dari mengurus sendiri ini. Sementara banyak temen yang pake jasa agen datang ke jerman melongo karena minim info. Tentu biaya pengurusannya pun jadi lebih murah juga jadi punya koneksi yang luas.

Kakak tes Studienkolleg di Indonesia atau di Jerman?

Saya tes di Indonesia dan Jerman. Tes di Indonesia tapi bukan untuk Studienkolleg Indonesia, melainkan Studienkolleg Berlin. Sebenarnya itu dadakan. Karena saya mendapatkan tempat untuk tes di Charite Berlin, namun saat itu saya masih di Indonesia. Jadi saya minta ke pihak Charite nya, agar saya diizinkan untuk tes di Indonesia. Tapi ternyata dapet tempatnya di Jerman.

Kakak bisa cerita tahapan sampai kakak diterima di studkol? Terima kasih :)

waduh kalo saya cerita panjang ya hehe. intinya Mei-Desember 2011 kursus bahasa jerman. Jan 2012 berangkat dan tes2 masuk studienkolleg. Maret 2012 - Desember 2012 Studienkolleg. lanjut Maret 2013 - skrg kuliah kedokteran. begitu :D

Kakak tes di berapa studkol? Dan keterima dimana aja?

Kalo ga salah saya daftar 9 Studienkolleg, yang dapet panggilan hanya 6. Dan dari sebanyak itu hanya keterima 1.

kalau kata kakak nih mending studienkolleg di tangerang atau di jerman langsung?

Krn saya ga pernah ngerasain Studienkolleg tanggerang, jadi saya ga bisa bandingin :D yg jelas kalo langsung di Jerman, belajarnya langsung dengan org jerman.  Bisa belajar langsung jg dgn lingkungannya. Kekurangannya, susah dapet tempat disini. Krn saingannya bukan sm org indonesia aja tp dgn semua calon mahasiswa asing.

Kan pas masuk studienkolleg udah di kelompokin tuh, yang mau masuk kedokteran, farmasi, ekonomi, sastra, sama teknik. nah, misalnya aku ambil M-kurs nih, nah itu nanti kalau udah lulus studienkollegnya langsung bisa masuk kedokteran apa bisa jadi masuk jurusan lain?

M-Kurs itu artinya bukan untuk yg mau medizin aja. M memang dr kata Medizin. Yg harus masuk M-Kurs itu adalah calon2 mahasiswa yg mau kuliah di jurusan kesehatan spt kedokteran, gizi, farmasi dsb. T-Kurs untuk calon mahasiswa teknik dsb. G-Kurs untuk yang ingin kuliah bahasa dan musik, W-Kurs untuk yang ingin kuliah ekonomi.

Kak mau tanya dong emang bener ya kalo kuliah bachelor kedokteran di jerman terus kerja di indonesia tidak bisa, kalo pun bisa ada masa penyetaraannya? kalo ada berapa lama?

ga hanya di jerman. Semua dokter lulusan luar Indonesia dan ingin bekerja di Indonesia harus mengikuti penyetaraan dulu. Lamanya sekitar 1-2 tahun. Tujuannya untuk menyesuaikan dengan sistem kedokteran di Indonesia.

Menurut kakak bedanya kuliah kedokteran di indonesia sama di jerman apa ya?

wah saya ga bisa jawab banyak krn saya sendiri belum pernah kuliah kedokteran di Indonesia, jd ga bisa membandingkan. Kalo dari ngobrol2 dgn teman fakultas kedokteran di Indonesia, bedanya mungkin dr semester awal kita udah mencicipi rumah sakit. Sering banget malah. Dari semester 1. Sementara mereka mungkin baru semester akhir2 aja. Dan disini kita membedah mayat sejak semester 1 dalam kelompok kecil (1 mayat 8 orang), dari mulai jenazahnya utuh sampai  tinggal organ-organnya saja yang terlihat.

kalo mau kuliah dengan jurusan kedokteran gigi apakah ada? atau harus umum dulu baru spesialis gigi?

Untuk kedokteran gigi disini juga ada. Seperti di Indonesia, ambil jurusannya langsung kedokteran gigi. Banyak juga temen disini yang ambil dua jurusan yaitu kedokteran umum dan gigi, krn mereka nantinya mau jadi dokter bedah mulut. Masalah gaji, dokter bedah mulut adalah salah satu yg favorit :)

Kakak kuliah dengan beasiswa?

Engga L lebih tepatnya belum. Doain ya biar saya bisa cepet dapet beasiswa :D

Ada permasalahan ga kuliah disana dengan berhijab? Denger-denger Jerman termasuk negara yang rasis banget.

Mengenai berhijab.. Memang setiap org mungkin punya pengalaman berbeda2. Kalo ada yg bilang jerman rasis bener. Yang bilang jerman ga rasis, itu juga bener hehe. Tergantung dimana org itu tinggal, gimana org itu bersikap terhadap orang2 sekitar dan sebagainya. Saya pribadi Alhamdulillah sampe saat ini ga pernah punya masalah dengan berhijab. Bahkan temen2 di sekeliling saya pun hampir ga ada juga yg punya masalah dgn itu. Saya skrg tinggal bersama kurang lebih 6 org jerman dan 4 mahasiswa asing lainnya. Ada jg yg Atheis yg memang ga percaya adanya Tuhan dan agama. Tapi toleransi disini sangat kuat. Mereka ngerti kenapa kita ga makan pas Ramadhan, kadang juga sahur jam 3 dini hari ditemenin sama temen yg lagi mabuk :D Saya juga pernah diingatkan solat sama Nenek kenalan saya dan pernah juga diingatkan jangan membeli es krim dgn rasa A dan B oleh penjual es krim krn mengandung alkohol. Penjual itu bisa mengingatkannya karena melihat aku berhijab.

Kalo lagi di jalan ketemu dengan wanita berhijab lainnya, biasanya kita saling melempar senyum dan menyapa dengan salam. Bahkan terkadang mengobrol layaknya teman lama yang sudah lama berpisah, bertukar kontak, lalu bertambah deh saudara seimannya ;)

Satu2nya kendala saya cuma satu waktu, kelita melamar kerja menjadi  tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Saya ditolak krn berhijab, dengan alasan higienitas dsb. Namun itu benar-benar urusan kecil. Toh Alhamdulillah saya bisa bekerja membantu dokter di ruang operasi, yang higienitasnya juga sangat diutamakan J

menurut kakak, disana perlakuan orang yang menguji mental banget apa kak?

Hmmm buatku perlakuan org disini sewajarnya aja. Yang lebih menguji mental itu gimana bisa bertahan disini, melakukan aktifitas sehari-hari, berkomunikasi dgn org dgn bukan bahasa dan budaya sendiri hehe. Juga menguji mental adalah jauh dari keluarga, jauh dr sahabat-sahabat, ketika temen2 sebaya di Indonesia udah lulus duluan, nikah duluan hehe

kakak punya part time job gitu ga? kalau punya, susah gak ngebagi waktunya sama kuliah?

Punya, dan memang susah bagi waktunya. Krn biasanya habis kerja itu cape, jd susah untuk mulai belajar. Tapi itu buat saya ya... tiap orang kan beda2 kemampuannya. Jd saya porsinya masih 80% kuliah. Kerja lebih banyak ketika sedang libur semester. Kalo kerja saat waktu kuliah, saya ambil yang kerjanya ga tiap hari atau hanya sebentar.

Kalau part time job paling enak itu apa ya?

Beda-beda ketertarikan dan kemampuan tiap orang J

Kaka pernah kerja part time apa aja?


Hmmm.. jd loper koran, cleaning service di hotel, pekerja di pabrik mobil, perawat di panti jompo, jd tour guide, jd pendamping mahasiswa yang baru dateng ke jerman, kerja di kampus (HiWi), kerja di pabrik coklat dan bantu-bantu di ruang operasi hehe.

Tuesday, August 18, 2015

Drama Coklat

Layaknya seorang wanita yang takut ditinggal oleh kekasihnya.. merasa gelisah jika kekasihnya pergi. Sama seperti yang saya rasakan hari ini ketika kerja. Bukan dengan kekasih, melainkan teman kerja saya, Salma (nama disamarkan) hehe. Pasalnya sudah 4 hari saya dan Salma bekerja bersama di mesin yang sama, yang SELALU ngadat. Julius nama mesin tersebut. Julius ini mengemas coklat-coklat kelinci Bunny dengan baju berwarna gold. Sayangnya ia seringkali ngadat, membuat saya dan Salma kewalahan. Saya juga makin kebakaran jenggot kalo Salma meninggalkan saya hanya untuk ke toilet atau istirahat 10 menit. Itu berarti ketika Julius rewel, saya harus memperbaikinya sendiri. Saya harus memasukkan coklat Bunny secara manual ke dalam cetakan dalam mesin berjalan secara cepat, bersamaan dengan itu saya juga harus memperhatikan coklat Bunny yang lain agar tidak menumpuk dan sebagainya.. Sementara mesin tidak boleh diberhentikan. Karena setiap waktu kerjanya, kami harus memproduksi coklat minimal 400kg. Seperti kebakaran jenggot. Rasanya ingin menangis sudah :(

Sudah dua hari juga kepala bidang bagian produksi "COKLAT MINIS" kami diwakili oleh orang lain. Mendengar obrolan dari para pekerja disini, mereka kurang senang dengan si ibu wakil ini. Entah kenapa, yang jelas semua terlihat "malas" dengannya. Benar saja.. ketika saya ketemu dan melemparkan senyuman,  ternyata dia hanya melihat saya dengan muka datar, namun tidak kepada pekerja lainnya. Tak lama Salma meminta izin kepadanya agar saya dan Salma diizinkan pergi sholat sebentar. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya datar namun sedikit sinis.

Ibu : "Wo wollt ihr denn beten?" - "Emang kalian mau ibadah dimana?"
Salma : "Da, hinter der Treppe." - "Disana, dibalik tangga."
Ibu : "Weiß du, dass es verboten ist?!", - "Kamu tau kalo itu ga boleh?!" , tanyanya dengan logat rusia yang kental. "Ich hatte einmal jemand mit der Tür geschlagen, da sie hinter der Treppe gebetet hat. Selber Schuld! Ich musste ja dringend auf Toilette. Hahahaha!!" - "Gue pernah nabrak orang kena pintu, pas dia lagi ibadah di belakang tangga. Ya, salah sendiri! gue kan mau buru-buru ke toilet hahahaha", tawanya terbahak-bahak.

Salma : "Egal Syifa.. kommt!" - "Bodo amat Syifa, ayo!", Salma pun langsung menarik tanganku  dan menghiraukan ibu tersebut yang sedang menertawakan hal yang sebenarnya sangat tidak lucu. Sekejap pikiran suudzon saya keluar, apakah ibu ini tidak suka dengan saya dan Salma. Mungkin karena kita berdua memakai jilbab. Entahlah.

Ketika kami selesai shalat, Salma berkata padaku.

Salma : "Egal Syifa, was die Kafiren zu uns machen. Allah wird immer bei uns Enscha Allah. Mach Dua, hoffentlich schaffen wir ein Beten Raum zu realisieren. Ein Chef von Lindt ist ja auch ein deutscher Muslim." - "Terserah Syifa, apa yang orang kafir lakuin ke kita, Allah akan selalu bareng kita InsyaAllah. Doakan semoga kita bisa merealisasikan satu ruangan khusus untuk solat. Salah satu bos disini juga seorang muslim asli Jerman."

Hari berikutnya di ruang istirahat. Ibu perwakilan itu berbisik kepada Nihad, salah satu pekerja disana. Tak lama 4 pasang mata tertuju kepada saya, disusul yang lain, yang ikut menoleh dan berbisik. Hä, ada apa ini, pikir saya ragu. 

Setelah itu Nihad pun menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ternyata si ibu tersebut menginvestigasi Nihad, apakah kemarin dia membantu saya dan Salma ketika memproduksi coklat. Pasalnya kemarin Julius memang ngadat terus, dan kami hanya berdua. Salma beserta saya, yang hanya seorang mahasisiwi dengan pengalaman kerja baru 3 hari. Ibu itu tidak percaya bahwa kita hanya berdua mengerjakannya. Karena ternyata kemarin kita berhasil memproduksi 470kg coklat!! Lebih dari yang seharusnya, dan belum pernah sebelumnya ada yang berhasil mengerjakan sebanyak ini.

"Na.. siehst du! Allah hilft uns, Alhamdulillah. Egal was die Kafiren sagt, hauptsache arbeiten wir ehrlich. Enscha Allah heute schaffen wir 600 kg!!" - "Nah liat kan.. Allah bantu kita. Terserah orang-orang kafir itu mau ngomong apa, yang penting kita kerja dengan jujur. InsyaAllah hari ini kita bis produksi 600kg!!", katanya dengan tawa sumringah.

"He.. eh..", saya tertawa pasrah. 600 kg badan saya jadi apa habis ini :")










Aachen, 18 Augustus 2015
sambil-menikmati-dinginnya-Aachen-hari-ini