Pages

Showing posts with label Jerman & Eropa. Show all posts
Showing posts with label Jerman & Eropa. Show all posts

Sunday, December 4, 2016

Kekuatan Doa - Ujian EKG

http://s.ndimg.de/image_gallery/new_netdoktor/43/ekg-593_id_87885_353843.jpg

''Kommt schnell! Ihr müsst euch beeilen, ihr seid ja schon zu spät!'' - ''Ayo cepet.. kalian harus cepet, kalian tuh udah telat!'', sahut seorang Tutor yang saya tidak tahu namanya.

Saya hanya bisa panik sembari berjalan cepat menaiki tangga ke lantai 4 Uni Klinik tempat saya ujian. Dalam hati bingung, seharusnya para tutor sudah tau kalau saya dan Jonas akan telat datang ujian karena kami sebelumnya ada Seminar Ethik.

Sampailah kami di ruangan dokter stase Kardiologi. Dokter yang lain sedang sibuk membahas pasien. Saya dan Jonas hanya terdiam sambil mengamati sekitar.

''Zieht euch euer Kittel an und danach gehen wir direkt zu den Patienten'' - ''Cepat kenakan jas kalian lalu kita pergi ke pasien kita'', kata Mas Tutor itu dengan gaya paniknya.

Saya pun menyahut dengan suara bersalah, ''Sorry.. ich habs nicht dabei.'' - ''Maaf.. saya ga bawa.''

Mas Tutor itu langsung menampakkan wajah bt nya. Dan menggerutu kenapa saya bisa tidak membawa jas dokter. Saya pun membela diri, beralasan bahwa tidak ada informasi sebelumnya. Sampai akhirnya datang mahasiswa Koas berpakaian seragam biru dan mengajak saya langsung ke kamar pasien. 

''Alles gut.. tenang aja.'', kata orang itu sambil meminjamkan jas nya kepada saya. Selama perjalanan menuju kamar pasien, saya hanya bisa melantunkan doa dalam hati.

اللهُمَّ لا سَهْلَ إلا مَا جَعَلتَهُ سَهْلا وَ أنتَ تَجْعَلُ الحزْنَ إذا شِئْتَ سَهْلا
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Saya ulangi doa itu terus menerus. Ya iyalah gimana ga panik. Mau ujian lisan depan Oberarzt (dokter spesialis), datang ujian telat, lalu kena semprot tutor lagi. Udah semua lengkap bikin hormon adrenalin dan cortison naik.

Masuk ke ruangan pasien, saya diminta langsung berkenalan dengan pasien tersebut dan melakukan anamnesa. Sebelum memulai, berharap Allah SWT memudahkan lidah saya untuk mengeluarkan bahasa Jerman yang dimengerti sama pasiennya :''

''Hallo Herr Schäfer, Lestari ist mein Name, die Studentin an der Uni.'' - ''Hallo Tuan Schäfer, nama saya Syifa, mahasiswi dari Uni.'', ujar saya membuka percakapan. Ternyata percakapan pun berjalan mengalir begitu saja. Tuan Schäfer sangat ramah, saya kira beliau akan malas bercerita melihat kondisinya yang sangat lemah, berbaring di tempat tidur dengan penuh kabel pada tubuhnya yang terpasang ke monitor. Dari percakapan, saya berharap Tuan Schäfer memberi bocoran pada saya penyakit yang ia miliki. Setidaknya itu memudahkan saya dan menyingkat waktu yang saya butuhkan untuk mendiagnosa EKG nya nanti. Sayangnya harapan hanya harapan, menghilang ke udara bagaikan kepulan asap dari otot yang di-setrum pada saat operasi :D Saya pun meminta izin untuk membuka baju bagian atasnya, agar saya dapat memasang elektroda-elektroda EKG pada bagian dadanya. 

Elektroda EKG sudah dipasang, muncul masalah baru. Saya bingung pake alat EKG nya, karena berbeda dari alat EKG yang pernah saya gunakan ketika pratikum di rumah sakit lain. Panik lagi :( , tangan mulai gemetar. Kesal dalam keadaan seperti ini kenapa sulit menenangkan diri. Alhamdulillah, lewat mahasiswa Koas itu Allah memberikan bantuan lagi. Dia membantu menunjukkan cara menggunakan alat tersebut, dan akhirnya alat tersebut mulai membaca aktivitas jantung Tuan Schäfer.

Setelah selesai, seharusnya saya melanjutkan anamnesa dengan Tuan Schäfer. Tapi Mas Tutor yang panik itu menjemput saya dan mengajak langsung ke ruang ujian.

''Syifa maaf, saya hektik sekali. Karena para dokter itu memajukan jam ujian. Kamu dan Jonas yang harusnya telat hanya sebentar. jadi tertinggal banyak. Sejujurnya kamu ga ada waktu lagi buat menilai hasil EKG yang kamu punya. Tapi saya jadikan kamu urutan nomor ujian terakhir. Agar kamu masih punya waktu untuk menilai dan mendiagnosa penyakit dari EKG yang kamu punya.''

Mendengar kalimat itu otak saya terasa berhenti berpikir. ''Yaudah lah.. emang jalannya begini..'' ujar saya dalam hati berusaha menenangkan diri, sambil terus mengulang doa mujarab saya jika sedang ujian. Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah. 

Saya lalu masuk ke ruangan ujian yang sudah dipenuhi oleh 15 mahasiswa lainnya. Ada yang masih sibuk menilai EKG yang dipunya, mengambil penggaris, mengukur jarak setiap cm yang ada dalam EKG dengan jangka dan sebagainya. Adapula yang sudah duduk santai sambil memainkan hp. Tidak memiliki banyak waktu, saya langsung duduk dan membentangkan kertas EKG yang saya miliki dan mulai mengamati setiap kurva yang tertulis. Saya senyum-senyum sendiri. Hehe.. dapat yang mudah alhamdulillah. Tanpa mengamati dengan jelas, mengukur frekuensi, melihat Lagetyp, dan bentuk dari setiap gelombang dalam kertas tersebut saya sudah bisa menebak dan mendiagnosa penyakitnya. 

Ketika Oberarzt, dokter penguji datang, Mas Tutor segera menghampiri saya sambil berkata, ''Keine Sorge, du bist die Letzte.'' - ''Jangan khawatir, kamu terakhir kok''. Saya pun melempar senyum tenang dan berkata, ''Egal.. ich bin sowieso fertig.'' - ''Terserah.. toh saya sudah selesai.''

Sampai giliran saya tiba. Dokter penguji mengambil kursi sebelah saya, dan saya ulangi doa dalam hati agar Allah memudahkan lidah saya mengucapkan bahasa Jerman dengan baik. Kali ini, saya sudah mulai tenang.

''Ja, das ist EKG von Herrn Schäfer.. 87 Jahre Alt. Ein Sinusrhytmus mit der Frequenz 45, also Sinusbradykard. RR-Abstand regelmäßig, die P-Welle sind normwertig. PQ-Zeit ist verbreitet um die 250 ms .............................................................dst........dst....... ja, er hat AV-Block I.Grad und bifaszikulärer Block.'', saya menjelaskan tentang EKG yang saya miliki.

''Super.. Sehr gut! Super eklärt'' - ''Super.. bagus. Penjelasan yang bagus.'' sahut dokter penguji itu dengan singkat sambil pergi menuju ke mahasiswa lainnya. 

Saya pun hanya dapat berkata dalam hati, Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Memang salah satu kekuatan terbesar seorang muslim adalah Doa. Tidak ada yang dapat menghalangi semua kehendak-Nya. Sepanik dan sesulit apapun ''Ujian'' itu :D Allah SWT pun sangat senang mendengar hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Hari itu, saya pulang dengan perasaan senang..







Gießen, 5 Rabiul Akhir 1438
Menulis-disela-lelah-belajar-persiapan-ujian-esok-

Thursday, September 29, 2016

Tips Persiapan Haji

Karena masih hangat biar ga lupa, dan juga karena masih liburan jadi masih banyak waktu luang hehe insyaAllah kali ini saya akan memberikan tips-tips persiapan haji versi Syifa. Jadi tips ini sangat subjektif, jangan dijadikan tolak ukur. Tapi mostly orang-orang menyarankan hal yang sama (terutama untuk persiapan rohani).


  • Teruntuk teman-teman yang ingin berangkat haji dai Indonesia, mulailah nabung dari sekarang. Kalo tabungannya udah keliatan ada 5 juta, 10 juta, 25 juta segera daftar haji. Jangan sampai ditunda karena ingat daftar tunggu di Indonesia sangat lama. Saya yang baru kepikiran untuk berhaji di usia 20 tahun, alhamdulillah berkesempatan berangkat di usia 23 tahun. Jika di usia 20 tahun saja saya langsung daftar di Indonesia, maka kemungkinan saya baru berangkat di usia 35 tahun (karena daftar tunggu wilayah Bogor yang kurang lebih 15 tahun lamanya). Tapi tetap jangan sampai memaksa nabung untuk berhaji, namun keluarga kita di rumah ada yang kelaparan atau kesakitan dan dibiarkan begitu saja.

  • Sebelum pergi haji, banyak-banyaklah bertaubat, luruskan niat, pamit-an kepada keluarga dan orang-orang terdekat, lunaskan segala hutang baik uang maupun janji, dan yang penting jangan sampai meninggalkan perkara yang belum selesai. Dikhawatirkan kita tidak fokus untuk beribadah karena memikirkan perkara tersebut.

  • Latihan, kalo bisa dari 6 bulan sebelumnya untuk menjaga hati. Jauhi hati dari prasangka buruk, mudah mengeluh dan latihan bersabar.

  • Selalu berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Setiap akan berangkat ke tanah Haram pasti sering mendengar pengalaman-pengalaman buruk atau mistis yang terjadi pada jamaah haji. Belum tentu semua itu akan terjadi juga pada kita. Jangan terfokus pada hal itu. Saya pribadi ketika di tanah Haram mencoba melupakan cerita pengalaman buruk orang dan lebih mencoba berkonsentrasi untuk terus berbaik sangka. Setiap ada pikiran buruk yang muncul, cepat-cepatlah beristigfar. 

  • yang belum hidup sehat, dari 6 bulan sebelumnya mulailah hidup sehat. Olahraga yang teratur, makan makanan yang sehat dan berserat tinggi, biasakan jalan kaki kemana-mana karena haji itu bukan hanya ibadah rohani tapi juga ibadah fisiki. setiap harinya kita akan jalan lebih dari 2km, percaya deh. Apalagi kalo jarak hotel nya jauh, itu juga harus diperhitungkan :)

  • Hati-hati dalam berucap, bahkan walaupun hanya dalam hati. Jaga lisan, jaga pikiran dan jaga mata. Khusus untuk jamaah wanita jangan terlalu banyak kontak mata misalnya dengan pedagang ketika sedang berbelanja. Karena ada beberapa pedagang yang suka menggoda. Misalnya bilang ''Saya belum punya istri, kamu sudah punya suami belum..'' Kalo mau lebih aman lagi pakai saja cadar. Fungsi cadar untuk saya agar tidak diperhatikan oleh laki-laki, juga melindungi dari cahaya matahari, meskipun sudah pake sunblock hehe.

  • Jika rencana berangkat dari Jerman dan sebelumnya sempat pulang ke Indonesia, saran saya vaksin meningitis di Indonesia saja. Dengan alasan biaya yang lebih murah (sekitar 300ribu). Alamatnya bisa cari di internet, salah satunya di bandara Soetta. Untuk vaksin meningitis di Jerman dikenakan biaya sekitar 50 - 80€ dan setau saya tidak di cover oleh asuransi karena bukan termasuk vaksin wajib di jerman.

  • Khusus jamaah wanita jika berencana meminum pil anti haid, segera konsultasikan ke Frauenarzt/dokter kandungan minimal dari 3 bulan sebelumnya. Agar proses penundaan bisa berjalan lancar. Jangan lupa rutin untuk mencatat jadwal haid untuk diinfokan ke dokter tsb.

  • Sebelum berangkat haji sering-sering membaca atau mendengarkan tentang sirah nabawiyah. Agar momen ibadahnya bisa lebih khusyuk. Bisa dengar sirah nabawiyah disini https://www.youtube.com/watch?v=WRo8vgVSMaA. Agar bisa memaknai setiap ibadah rukun dan wajib haji bisa juga melihat video manasik haji dari Kemenag https://www.youtube.com/watch?v=QfOIL4pa2-o. Disitu akan dijelaskan apa hikmah yang bisa kita ambil dari tiap-tiap ibadah. Memang sulit untuk menghayatinya, misalnya ibadah Sa'i. Kenapa saya bilang sulit? karena kondisinya sekarang antara bukit Safa dan Marwah itu sangat nyaman. Beralaskan lantai, atmosfer yang dingin karena kipas angin. Sementara dulu Siti Hajar berlari-lari kecil berputar antara bukit Safa dan Marwah di atas tanah yang tandus dan cuaca yang amat panas. 

  • Gunakan waktu sebelum berangkat haji sebaik-baiknya untuk mempelajari dengan detail rukun dan wajib haji. Catat tempat-tempat mana saja yang mustajab untuk berdoa. Kenali setiap bagian yang ada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Jangan sampai ketika sedang tawaf tidak tau, bangunan apa yang berbentuk seperti kubah emas itu? Padahal adalah Maqam Ibrahim. Ketika terdorong-dorong orang sampai masuk ke Hijr Ismail, tidak mengerti kenapa semua orang berebut shalat disana. Padahal ternyata shalat di dalam Hijr Ismail seperti shalat di dalam Kabah. Gunakan waktu untuk persiapan sebaik mungkin, agar ibadah kita pun bisa maksimal :)

Persiapan dalam Koper (mostly untuk wanita)
  • Peralatan Kebersihan
Pentiliner, Pembalut, Detergen (tanpa parfum), Tisu toilet, Tisu wajah (tanpa parfum), Sabun  mandi (tanpa parfum), Shampo (tanpa parfum), Sunblock (tanpa parfum), dan Deodoran (tanpa parfum). Kenapa saya memilih yang tanpa parfum? Karena dalam keadaan Ihram kita dilarang menggunakan wangi-wangian. Meskipun memang kita tidak selamanya dalam keadaan Ihram. Jadi teman-teman juga bisa membawa sabun dan shampo dengan wangi-wangian jika mau.


  •  Peralatan Kesehatan



Minyak kayu putih, Handsanitizer, Primolut (pil anti haid), Plester, Obat masuk angin, Pelembab bibir, Krim pereda sakit otot dan sendi,  Betadin, Supplement vitamin (yang penting adalah vitamin C untuk imunitas tubuh), Face shield (untuk membantu jika ada orang yang membutuhkan napas buatan (krn saya anak kedokteran hehe) agar tidak kontak langsung dengan alat pernapasan orang yang sakit tsb.


  •  Minuman Hangat (maaf bukan promosi)
                            



  • Pelindung Panas dan Cahaya Matahari
Topi, Semprotan air untuk menyegarkan wajah, Kipas, Cadar (tidak ada di foto), Permen pereda sakit tenggorokkan

  • Universal Adaptor
Untuk berjaga-jaga karena beberapa Hotel menggunakan colokan berkaki tiga.

  • Kamera Digital, Hairdryer, Colokan (bisa janjian dengan teman sekamar)
                            

  • Anti Slip Socks
Untuk menghindari terpeleset karena kita banyak berjalan di atas lantai ketika berada di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  • Buku doa-doa untuk ibadah haji dan Buku dzikir
                            


  • Gunting kuku, Gunting, Alat Jahit
                            


Kebutuhan lainnya yang tidak sempat terabadikan dalam foto :

  1. Sepatu (harus yang nyaman untuk dipakai berjalan banyak). Jika akan membeli sepatu baru, sebaiknya sudah di coba dari 3 minggu sebelumnya.
  2. Sendal jepit
  3. Tas selempang
  4. Kaca mata beserta tali nya
  5. Payung
  6. Obat-obat an seperti antibiotik, obat batuk, obat flu
  7. Masker
  8. Kantong plastik (20-30 liter)
  9. Gamis 4-5 potong (pengalama pribadi tidak perlu membawa terlalu banyak. Karena di Hotel ada fasilitas mencuci baju. Selain itu agar ada alasan untuk membeli beberapa Abaya disana :D)
  10. Mukena
  11. Pakaian dalam +/- 10 potong. Pengalaman saya tidak perlu terlalu sering mengganti baju (bisa dua - tiga kali pakai baru di cuci), yang terpenting adalah selalu mengganti pakaian dalamnya. Sehingga kita perlu membawa banyak pakaian dalam.
  12. Baju tidur
  13. Khimar 5-6 potong
  14. Manset tangan
  15. Bantal leher
  16. Kantong kecil untuk melempar jumroh
  17. Botol minum
  18. Pemanas air (bisa janjian dengan teman sekamar)
  19. Mini lunch box (agar bisa diisi misalnya dengan kurma, lalu dibagi-bagikan ke orang sekitar ketika berada di Masjid. Bersedekah dengan hal-hal kecil :) )
  20. Timbangan koper
  21. Tali (ini bermanfaat untuk membuat jemuran dadakan di dalam kamar mandi hehe)
  22. Gantungan baju
  23. Sajadah tipis
  24. Handuk
  25. Sapu tangan
  26. Powerbank
  27. Al-Quran 

Semua yang saya list ini tentunya berdasarkan kebutuhan saya pribadi. Teman-teman bisa menambah atau mengurangi sesuai yang diperlukan. Memang tidak semua yang saya bawa terpakai, namun saya lebih suka berjaga-jaga daripada kekurangan. Semoga tips persiapan haji ini bermanfaat ya.


Wassalamu'alaikum

Gießen, 29.09.2016
dari-yang-merindukan-tanah-Haram
yang-minta-didoakan-agar-bisa-segera-pergi-ke-tanah-Haram-lagi-bersama-keluarga-dan-keluarga-baru-kelak :)

Monday, August 22, 2016

Pasangan Dunia Akhirat

Foto milik pribadi

Memasuki musim haji tahun ini, memori saya membuka dan mengingat kembali kejadian tahun lalu. Persis ketika musim haji 2015.

Suatu pagi grup whatsapp komunitas muslim kami ramai dengan berita seorang calon jamaah haji wanita Indonesia asal Inggris yang dilarikan ke rumah sakit dikarenakan pingsan ketika sedang transit di bandara Frankfurt. Akhirnya beberapa orang dibantu oleh konsulat mengerahkan tenaga nya untuk memberi support moril maupun materiil kepada calon jamaah haji wanita ini beserta suaminya.

Berselang dua hari dari kejadian, saya bersama beberapa teman akhwat lainnya menyempatkan diri untuk menjenguk beliau dan bertemu suaminya (sebut saja Ibu Rina dan Pak Wahyu). Hari itu kami datang cukup pagi dan ternyata Pak Wahyu sedang tidak ada di kamar pasien. Kami pun meminta izin kepada perawat untuk menjenguk Bu Rina, dengan izin Pak Wahyu sebelumnya. Ketika memasuki ruangan, hati kami terasa menangis lirih. Melihat Ibu Rina yang terbaring tanpa sadar di kasur, dengan berbagai kabel dan selang yang menghubungkan tubuhnya dengan monitor-monitor. Kami hanya mengajak beliau berbicara sebentar juga membacakan beberapa ayat suci Al-Quran dan kami pun kembali ke ruang tunggu, menunggu kedatangan Pak Wahyu.

Siang hari tiba dan kami pun bertemu dengan Pak Wahyu. Beliau menceritakan kepada kami bagaimana kronologi peristiwa tersebut. Pada hari itu jamaah haji asal Inggris terbang ke Saudi Arabia dan melakukan transit sebelumnya di Frankfurt, Jerman. Bu Rina sempat mengeluh pusing kepada Pak Wahyu lalu ia izin untuk pergi ke toilet sebentar. Tak lama Bu Rina sudah ditemukan dalam keadaan tidak sadar di toilet dan segera dibawa ke Uni Klinik Frankfurt. Mau tidak mau Pak Wahyu pun tidak melanjutkan perjalanan haji nya bersama rombongan dan memilih menetap bersama istrinya. Dokter pun mendiagnosa bahwa sakit kepala tersebut datang karena ada pembuluh darah di otak yang pecah dan mengakibatkan Bu Rina tidak sadarkan diri. Pak Wahyu sempat dipusingkan dengan masalah lain, yaitu anaknya yang masih kecil yang mereka tinggalkan di Inggris. Beliau juga sempat bingung karena beliau tidak leluasa bergerak di Jerman terkait masalah visa. Ya, Pak Wahyu tidak punya izin untuk stay di Jerman. Alhamdulillah ada satu keluarga senior yang bersedia menjadi tumpangan selama Bu Rini dirawat. Tak lama Pak Wahyu mengajak kami untuk masuk ke kamar pasien. 

''Assalamu'alaikum Umi... apa kabar Umi hari ini? Umi lihat siapa yang datang.. ada Mba Syifa, saudara Umi dari Jerman..'', bisik Pak Wahyu lembut kepada istrinya. 

''Iya Mba Syifa.. Beginilah keadaan istri saya sekarang. Saya tidak mengizinkan ada lelaki yang masuk ke ruangan ini. Jika mau besuk bisa sampai di ruang tunggu saja. Karena umi nya ga pake jilbab. Saya titip ya Mba Syifa.. jika ada waktu teman-teman perempuannya datang kesini, ajak ngobrol istri saya dan membacakan ayat Al-Quran. Saya ga bisa terus disini, karena harus mengurus administrasi juga'' ujar Pak Wahyu kepada saya. Pak Wahyu lalu memberikan Al-Quran yang terletak di samping kepala Bu Rini kepada saya, ''Ini Mba.... Saya selalu tandain ayat terakhir yang dibaca dengan ini.. Saya hanya melanjutkan bacaan istri saya agar istri saya menyempatkan khatam Al-Quran. Nanti Mba Syifa bisa lanjutin saja ya...''

Saya tidak banyak berbicara saat itu. Hanya air mata yang jatuh membasahi pipi saya. Saya berusaha untuk tidak menangis agar Pak Wahyu tidak semakin sedih. Entahlah.. saya melihat ada cinta yang amat besar disitu, sehingga hati ini dibuat larut merasakan atmosfernya. 

Selang beberapa waktu datanglah seorang perawat laki-laki dan menghampiri Pak Wahyu. Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, ia memperkenalkan dirinya kepada Pak Wahyu, ''Halo selamat siang Pak Wahyu. Saya perawat yang bertanggung jawab mengurus istri Bapak siang ini sampai besok pagi. Jika bapak ada pertanyaan atau ingin berbicara dengan dokter, bisa langsung menghubungi saya.''

Pak Wahyu pun menjawab dengan suara bergetar menahan tangis, ''Terimakasih.. terimakasih banyak. Saya sangat bersyukur. Rumah sakit ini bersama dokter dan perawatnya telah menangani istri saya dengan sangat sigap. Anda tahu.. saya tidak kenal siapa-siapa di Jerman ini. Bahasa nya pun saya tidak bisa. Sampai Tuhan mendatangkan banyak bantuan kepada saya. Saya dibantu mengurus urusan administrasi saya dan istri saya disini, saya diberi tempat menginap dan makan, saya berkenalan dengan banyak saudara baru. Semua ini membuat saya lebih kuat menghadapi cobaan ini. Terimakasih banyak... Mohon doanya untuk kesembuhan istri saya...''

Setelah itu saya pun izin pamit meninggalkan Pak Wahyu bersama istri. Beberapa hari setelahnya kami mendapatkan info bahwa Ibu Rina meninggal dunia. Komunitas Muslim Frankfurt segera membantu mencarikan masjid yang bersedia memandikan dan menshalatkan jenazah. Dikabarkan, Ibu Rina adalah sosok yang aktif dalam dunia dakwah. Beliau aktif dalam kegiatan taklim dan pendidikan anak kecil. Janji Allah SWT terbutkti --- ''Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.'' (Q.s. Muhammad : 7) -- Allah SWT memudahkan proses pencarian muslimische Bestattung sampai dengan pengiriman jenazah ke tanah air dengan harga yang cukup murah. Imam dan para jamaah salah satu masjid Turki dekat Uni Klinik juga banyak membantu Pak Wahyu dan keluarga. Sampai akhirnya putri Pak Wahyu menyusul ke Jerman dan mengetahui keadaan ibunya yang sebenarnya. Setelah proses pemandian, shalat dan administrasi selesai, keluarga Pak Wahyu pulang ke tanah air untuk proses pemakanan jenazah Ibu Rina, diantarkan oleh keluarga baru mereka di Jerman. Kabarnya Pak Wahyu tahun ini akan menunaikan ibadah haji nya yang tertunda. Semoga Allah SWT menganugrahkan beliau haji yang mabrur.

Teruntuk Ibu Rina..
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبَ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِها، وَأدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهاَ مِنْ عَذَابَ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Dari pasangan ini saya belajar banyak mengenai arti cinta, ketulusan dan ikhlas. Semua dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Semoga Allah SWT pertemukan kembali pasangan ini di surga-Nya.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.








Gießen, 19 Dzulqa'dah 1437 H

Friday, August 5, 2016

Pembelaan Tanpa Diminta

Pada suatu pagi di bangsal penyakit dalam Bürger Hospital Friedberg.


''Guten morgen Herr Schütz.. Bei Ihnen wurde heute noch keine Laborkontrolle gemacht, oder?'' - ''Selamat pagi Tuan Schütz.. Hari ini belum ada kontrol labor untuk anda kan?''


''Morgen.. ich weiß es nicht. Was heißt dann?'' - ''Selamat pagi.. saya tidak tau. Apa itu artinya?''

''Eine Blutentnahme. Dann steche ich Sie mal jetzt.'' - ''Ambil darah. Kalau begitu saya tusuk anda sekarang ya.'' (dengan nada bercanda).

''Haha ja.. Sie können mich gerne piksen. Sie lachen so mit Freude, sind Sie Muslim?'' - ''Haha ya.. Silahkan tusuk saya sesuka anda. Anda tertawa begitu ceria, apakah anda Muslim?''

''Ya....''
Merasa kikuk dengan tema itu, saya pun mengakhiri percakapan dengan bergaya sibuk mencari vena Tuan Schütz untuk diambil darahnya.

Suasana pun menjadi sepi ketika proses darah diambil. Lalu Tuan Schütz memulai percakapan kembali.

''Darf ich Ihnen was sagen. Was Sie im Kopf anhaben, finde ich gar nicht schlecht. Es ist sogar schön. Sie brauchen keine Angst wegen Ihrem Kopftuch, wegen Ihrem Aussehen. Sie sprechen gut deutsch, Sie verhalten sich gut, Sie werden eine gute muslimische Ärztin sein. Ich habe auch ein Paar türkische Kollege und sie sind sehr sehr nett. So brauchen Sie keine Angst was von den Medien berichtet wird.'' - ''Bolehkah saya berkata sesuatu.. Yang anda kenakan di kepala itu tidaklah buruk. Bahkan terlihat indah. Jadi anda tidak perlu takut karena jilbab anda, karena penampilan anda. Anda berbicara bahasa jerman dengan baik, berperilaku baik, anda juga akan menjadi seorang dokter muslim yang baik. Saya juga memiliki beberapa Kolega asal turki, mereka sangatlah ramah. Jadi anda tidak perlu takut, juga atas apa yang media beritakan. 

Saya tersenyum heran pada Tuan Shütz. Ada apa beliau tiba-tiba berbicara seperti itu, seolah mengungkapkan semua rasa takut yang dirasakan umat Muslim di Jerman akhir-akhir ini. Entahlah, yang jelas saya tau bahwa beliau berbicara serius. Bukan sedang mengigau :D und er hat damit meinen Tag gerettet! :)






Jum'ah Mubarak!
Famulatur Innere Medizin 14. Tag


Monday, August 1, 2016

Indonesian Care Day

Indonesian Care Day - sebuah Pilot Programm - yang di inisiasi oleh MMI (Masyarakat Muslim Indonesia) dan JKI (Jemaat Kristen Indonesia) yang berada di kota Frankfurt am Main Jerman. Bentuk acaranya yaitu berbagi bersama saudara-saudara imigran yang berasal dari negara konflik. Mengenalkan budaya Indonesia melalui tarian Ngarojeng dan Saman. Serta berbagi pengalaman bagaimana berintegrasi di Jerman, pengalaman memulai hidup di Jerman, bagaimana bisa mudah belajar bahasa Jerman dsb.

Acara ini dihadiri oleh 140 saudara pengungsi yang berasal dari Afghanistan, Suriah, Irak dan Eritrea, beberapa tim Deutsches Rotes Kreuz, juga 40 anggota dari organisasi MMI dan JKI.



Antusiasme para imigran ini sangat tinggi. Terlihat ketika mereka khusyuk melihat tarian Ngarojeng dan Saman, bertepuk tangan meriah ketika pertunjukan tari selesai, juga ketika sesi sharing diadakan. Bahkan ada salah satu imigran (sepertinya berasal dari Afghanistan) yang memberanikan diri naik ke panggung dan menyampaikan beberapa kalimat kepada kami. 

''Terimakasih kepada teman-teman dari Indonesia yang sudah membuat acara ini untuk kami. Kita semua sama-sama kesini sebagai pendatang. Namun ada perbedaan yang sangat besar antara kita. Kalian datang kesini untuk sekolah, mencari ilmu dan bekerja. Tapi kami datang kesini sebagai pengungsi. Kami rasa ada kesulitan besar yang harus kami hadapi. Namun ternyata setiap orang memiliki kesulitan masing-masing ketika datang kesini.''

Puncak acara diisi dengan barbeque-an dan makan sore bersama. Lucunya ada beberapa saudara kami ini yang merasa hidangan makanan kami terlalu pedas, namun banyak juga yang menambah sambal sampai berkali-kali :D Kepuasan kami sebagai panitia terlihat ketika banyak yang menambah makan sampai berulang kali.

Semoga acara Indonesia Care Day ini sedikitnya bisa memotivasi saudara kita ini untuk bisa terus tersenyum dalam keadaan apapun. Meredakan trauma yang sudah tertanam pada diri mereka. Dan semoga acara ini menjadi awal dari kegiatan-kegiatan seru selanjutnya antara organisasi MMI bersama JKI ;)









"Saya cukup kaget, tidak mudah mengatur mereka, membuat mereka konsentrasi fokus dalam waktu beberapa jam, belum pernah terjadi, tapi hari ini saya lihat mereka bisa konsentrasi mengikuti alur acara ini. Saya kaget". Kira kira begitu penuturan kepala asrama pengungsi di Dornbusch. Apresiasi setinggi tingginya untuk semua pihak yg telah membantu kegiatan ini hingga terlaksana.


PS. : saya sempet mewawancarai salah satu dari mereka, tapi lupa izin tanya apakah yang bersangkutan berkenan jika video nya saya upload :( :(


Wednesday, July 13, 2016

Be Proactive, Teman!


Akhir-akhir ini semakin banyak pertanyaan yang masuk ke E-Mail mengenai kuliah di Jerman, atau kuliah kedokteran di Jerman. Senang sekali, ini pertanda bahwa blog saya ''ada yang baca'' hehe dan semoga memang bermanfaat dan memotivasi untuk kuliah disini. Karena memang itu tujuan saya menulis pengalaman hidup di blog ini.

Tapi saya sedih.. banyak pertanyaan masuk -yang-sebenarnya-bisa-ditemukan-dengan-mudah-di-Internet. Ataupun hanya-perlu-usaha-sedikit untuk mendapatkan informasinya. Dulu saya juga buta tentang informasi kuliah disini. Tanpa ada basic bahasa jerman, saya membaca website resmi tentang pendidikan jerman langsung. Copy-paste lewat google translate menjadi penolong saya saat itu. Sempat juga saya mendatangi rumah para alumni jerman yang kontaknya saya temui di internet ataupun teman sekitar. Sampai mengarungi panas dan macetnya Jakarta, naik bajaj yang harganya di mahalin, dan pulang dengan kereta terakhir ke Bogor. 

Terlihat ribet, tapi proses itu ternyata membawa banyak pengalaman baru yang ga akan kita dapatkan di tempat lain. Kasarnya, kita ga akan dapat pengalaman itu kalo kita hanya -pasif bertanya, minta dijelaskan, minta diceritakan, minta dicarikan, minta diuruskan-. 

Jadi.. ayo kita lebih proaktif lagi! Info di website-website resmi Jerman berbahasa indonesia spt website kedutaan Jerman, DAAD Jakarta, atau Goethe Institut sudah sangat lengkap. Semua informasi yang kita butuhkan ada disana. Kalau memang mantap untuk kuliah di Jerman, dan ragu soal nilai, atau punya pertanyaan lebih, bisa juga datang langsung dan konsultasi ke kantor DAAD Jakarta. Malahan info yang mereka keluarkan resmi dan akurat loh, daripada bertanya ke saya :) Karena saya hanya memberikan informasi sesuai pengetahuan dan pengalaman pribadi saja. Apalagi saya bukan agen pendidikan yang dibayar oleh teman-teman, jadi ga bisa balas E-Mail secepat mungkin hehe.

So.. saya minta maaf jika pertanyaan yang masuk seperti ''Dokumen yang dibutuhin apa aja kak?''. ''Persyaratannya apa aja ya?''. ''Butuh TOEFL berapa?'' dsb ga saya balas. Karena saya ga mau teman-teman jadi pasif dan terbiasa disuapi informasi tanpa mencari terlebih dahulu. 

.
.
.
.
.
.
Jangan sampe juga teman-teman tanya saya kantor DAAD alamatnya dimana ya :D

Wednesday, July 6, 2016

Zückerfest 2016 - Lebaran 1437 H

Assalamu'alaikum wr. wb.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Selamat merayakan hari Idul Fitri bersama keluarga tersayang :) :) Ini adalah kali ke-4 lebaran saya tidak di rumah. Tidak bersama keluarga, menjalankan mudik ke Majalengka, kota asal ayah saya. 

Tapi lebaran saya kali ini tidak kalah menarik dengan lebaran di Indonesia. Saya bahkan memiliki keluarga baru dari Turki dan Suriah.

Sevval adalah teman satu kos saya di kota Gießen. Dia mengundang saya & teman saya, Atiya untuk merayakan lebaran bersama. Ketika kami sampai di rumahnya, kami langsung disambut pelukan hangat dari Ibu Nagis, ibunya Sevval. ''Bayram Mubarak!'', sahut kami riang. Kami pun langsung pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan bersama. 

Keluarga Sevval adalah keluarga yang sangat baik dan ramah. Ayahnya lahir dan besar di Turki. Ia lalu pergi ke Jerman untuk mengadu nasib sampai akhirnya bertemu dengan Ibu Nagis dan menikah. Ibu Nagis sendiri lahir dan besar di Jerman, namun begitu ia tetap bisa menguasai bahasa Turki karena sejak kecil ia selalu diajarkan dua bahasa tersebut oleh orang tuanya. Hal itu pun yang mendasari mereka untuk mengajarkan bahasa jerman dan turki kepada 4 anaknya. Sevval, Batur, Mohammed dan Elwa. Hampir setiap tahun keluarga ini bersilaturahim ke keluarga mereka di Turki, atau kakek mereka datang mngunjungi cucu-cucunya yang tinggal di Jerman. Hal ini menunjukkan begitu eratnya peran negara Jerman dan Turki dalam hidup mereka. 



Elwa, 4 tahun.




Uniknya, Ibu Nagis memiliki selera dekorasi rumah yang 100% mirip dengan Ambu (panggilan untuk mama saya). Rumahnya terlihat seperti rumah barbie, unik & imut hehe.










Und.. das sind die Bilder über unser Zückerfest. Wir haben Küchen gebacken und Süßigkeiten gemacht ;) - Ini beberapa foto perayaan Idul Fitri kita. Kita membuat kue dan manisan ;)









Ich liebe dieses Foto <3  lass mich darüber erzählen!
Saya suka sekali dengan foto ini. Izinkan saya bercerita tentangnya.

Ini adalah foto bersama Ibu Nagis dan keluarga Suriah. Ya, mereka adalah pengungsi Suriah yang meninggalkan rumahnya karena keadaan yang memaksa. Setelah melewati perjalanan yang berat, mereka pergi meninggalkan Suriah lewat jalur udara, darat dan laut. Bahkan si kecil Hayat (baju pink) harus berenang di laut lepas selama 7 jam karena boat yang mereka naiki pecah dalam perjalanan :( 

Mereka sampai di Jerman tidak bersama. 5 anaknya terpisah. Tidak tahu menahu kabar satu sama lain. Sampai akhirnya mereka disini. Berkumpul bersama keluarga lengkap mereka, dan keluarga baru dari Turki dan Indonesia. Mereka sekarang tinggal di gedung yang sama dengan keluarga Sevval. Pemerintah Jerman membiayai semua kebutuhan mereka. Biaya sewa rumah, sekolah anak-anaknya dan les bahasa Jerman untuk mereka. 

Mereka orang miskin? bukan, salah besar. Sang ibu adalah guru. Anak-anaknya pun bersekolah sampai jenjang tinggi. Namun takdir Allah menentukan seperti ini, mereka harus meninggalkan semuanya, rumah, pekerjaan, pendidikan. Yang membuat saya malu adalah.. Mereka sangat ikhlas dengan keadaan sulit yang menimpa mereka bertubi-tubi ini. Sama sekali tidak ada kalimat mengeluh yang keluar dari bibir mereka. Dan saya? Sudah berapa kali saya mengeluh bahkan atas hal-hal sepele?

Teman.. jangan lupa selipkan mereka dalam setiap doa kita. Doa untuk saudara Muslim di seluruh dunia. Di Suriah, di Baghdad, Palestina, Indonesia, dan belahan bumi lainnya. Jangan lupa juga untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun!

Eid Mubarak! Allen ein gesegnetes Eid <3





Wednesday, April 27, 2016

Depresi & Hubungan Cinta

Hari Rabu adalah jadwal Praktikum Psychosomatik para mahasiswa kedokteran Semester 7 Uni Gießen. Kali ini kita kedatangan pasien pria yang sudah dirawat 6 minggu lama nya di Uni Klinikum Gießen. Sekedar info, Ilmu Psychosomatik adalah ilmu yang menghubungkan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memiliki peranan penting terhadap muncul dan berkembangnya rasa sakit pada tubuh. 

Saya ambil contoh ada seorang pasien yang mengalami keluhan sakit pada pergelangan tangannya. Dokter Orthopädie mendiagnosa pasien ini memiliki Karpal-Tunnel-Syndrom atau istilah awamnya saraf kejepit pada pergelangan tangan. Hasil foto mendukung diagnosa ini, dan pasien pun di operasi. Namun setela operasi sakitnya malah bertambah. Menjalar sampai ke bahu. Bahkan setelah beberapa minggu, sakitnya sampai menyerang punggung. Diagnosa para dokter tidak ada yang bermasalah pada organ tubuhnya, punggung, daerah bahu dan tangan semua normal. Namun pasien tetap mengeluh kesakitan, bahkan tangannya tidak bisa ia gerakkan sedikitpun. Setelah beberapa kali kunjungan dokter, pasien pun pergi ke ahli psikosomatik. Setelah melalui anamnesa dan pemeriksaan lanjutan, diketahuilah bahwa sakit berlebihan yang menyerang tangan dan punggungnya berasal dari keadaan psikis si pasien. Sebenarnya semua baik-baik saja. Karpal-Tunnel-Syndrom pun sudah ditangani. Tapi sakit itu datang terus menerus dari stress yang ia miliki dan keadaan depresi terhadap masalah yang terjadi di kantornya. Hal ini membuat tubuh terasa sakit dan seakan-akan datang murni dari organ tubuh yang bermasalah.

Kembali ke Praktikum Psychosomatik hari ini. Pasien pria kami berusia sekitar 20-an. Dengan asiknya ia masuk ke ruangan praktikum kami sambil menggunakan Headphone dan menyapa kami dengan gaya khas anak muda, ''Hallo zusammen.. Moin!''.

Setelah mengambil tempat duduk dan melepaskan Headphone dari kepalanya, anak muda ini pun memulai cerita tentang penyakitnya. 

''Ya.. saya seorang pelajar. Saya menkonsumsi Marijuana setiap hari karena saya merasa depresi. Lalu pada suatu hari saya merasa di titik akhir, dimana tubuh dan otak saya tidak lagi bisa bersahabat. Sampai akhirnya saya memberanikan diri datang ke Psikiater, dan disinilah saya. Dirawat sampai hari ini. Sudah 6 Minggu lamanya.Saya di diagnosa memiliki penyakit Psikomatik tingkat tengah''

 ''Saya tidak menyangka penyakit saya separah itu. Awalnya saya mengira hanya depresi biasa. Saya merasa depresi sudah sejak 3 tahun terakhir ini. Dan sudah setahun terakhir ini saya merasa muak dengan kehidupan ini. Tidak ada lagi orang yang bisa saya percaya. Saya merasa teman-teman saya hanya memanfaatkan saya untuk bahan tertawa. Dunia terasa menjijikan, tidak ada gunanya saya hidup lagi.''

''Depresi ini berawal 3 tahun lalu. Ketika saya memiliki sahabat perempuan. Saya dekat sekali dengannya. Kami tidak pernah bertengkar, kami selalu kompak. Kami saling mengerti, dan perempuan ini lah satu-satu nya orang yang saya percaya. Lebih dari keluarga saya sendiri. Sampai suatu hari saya berkenalan dengan seorang gadis. Saya sangat menyayanginya dan sahabat saya pun sangat mengerti pacar saya. Saya memutuskan untuk tinggal bersama pacar saya di sebuah rumah. Ketika perasaan saya sedang memuncak, sangat mencintai pacar saya. Saya mengetahui bahwa pacar saya memiliki hubungan khusus dengan sahabat saya ini. Ternyata mereka berdua adalah lesbian dan menjalin hubungan di belakang saya. Perasaan dikhianati oleh sahabat dan pacar sendiri membuat saya benar-benar jatuh. Saya mulai menghisap marijuana. Saya tidak pernah lagi pergi kuliah. Saya tidur seharian. Hingga pikiran-pikiran jahat muncul dalam pikiran saya. Ketika saya di Bus saya merasa semua orang memperhatikan saya dan ingin mencekam saya. Saya tidak pernah merasakan tenang dan berpikir saya mengidap penyakit parah. Sampai akhirnya saya pun mendarat di rumah sakit ini.''

Menyimak berita pasien itu menimbulkan banyak pertanyaan di kepala saya. Depresi akan cinta? Terhadap hubungan homoseksual? Bagaimana hubungan pasien ini dengan orangtuanya? Apakah dia percaya terhadap eksistensi Tuhan? 

Cerita seperti ini, putus asa akan cinta monyet juga sering terjadi di Indonesia. Dimana sebagian besar rakyatnya mengimani adanya Tuhan. Entah benar mengimani atau hanya mengaku-ngaku saja. 
Ada yang beritanya sampai bunuh diri, membunuh sang kekasih, atau membunuh si mantan dengan pacar barunya. Apakah sekarang tubuh dan nyawa manusia semurah ini harganya? Menyakiti dan membunuh semudahnya? Merusakkan diri dan jiwa seenaknya?


#tanyasendiri



Gießen, 27.04.2016

Friday, April 8, 2016

Famulatur in der Heimat, Indonesien


 

Ich war am Anfang meiner Famulatur in der Heimat nicht sehr begeistert. Schon vor 6 Monaten bewarb ich mich an einem privaten Krankenhaus für die Famulatur. Da es in Indonesien nicht üblig ist, dass Medizinstudenten vor der PJ-Zeit schon im Krankenhaus  ihr Praktikum absolvieren, habe ich in den Bewerbungsunterlagen eine Liste über meine Tätigkeiten angegeben. Diese Liste diente zur Orientierung für das Personal, um die benötigten Informationen während der Famulatur zu erläutern. Dazu gehörten z.B Patienten anamnese, Katether anlegen, Blut abnehmen, intubieren, Verband wechseln, EKG anlegen und Operation assistieren usw.

Am 1. Tag meiner Famulatur wurde mir vom Leiter nur erlaubt zu beobachten. Die  Patienten-anamnese darf nur mit Begleitung der Krankenpflege durchgeführt werden. Invasive Maβnahmen durfte ich kaum. Da es  ein privates Krankenhaus ist, wo Patienten privat bezahlen müssen und es sich meistens um angesehene Patienten handelt, möchte das Krankenhaus nicht die Patienten von noch-nicht-examinierte medizinischem Personal untersuchen lassen. 

Ich konnte dort leider nicht ein Monat lang ohne praktische Aktivitäten bleiben, weshalb ich direkt ein anderes Krankenhaus kontaktiert habe. Das zweite Krankenhaus, was ich gefunden hatte war das RS Dompet Dhuafa Hospital. Auch dies ist ein privates Krankenhaus, jedoch dient es für die ärmere Bevölkerung. Mein Pflegepraktikum im Jahr 2013 hatte ich ebenfalls hier absolviert.

Das Gesundheitssystem in Indonesien ist anders als in Deutschland. Die Patienten müssen die Behandlungskosten selbst zahlen. Eine geringe oder ausführliche Behandlung ist abhängig vom Patienten, ob sie viel Geld haben oder nicht. Die Gesundheit wird hier auch oft als Business-marketing missbraucht. Kein Wunder, wenn die Behandlungskosten unterschiedlich teuer sind und die ärmere Bevölkerung nicht d ie Möglichkeit für eine  ausführliche medizinische Versorgung besitzt.

Seit 2014 wurde jedoch ein neues System eingeführt. Das neue Versicherungssystem heiβt BPJS, verpflichtet die Pflicht für Beamte, Armee und Polizei. Die normale Bevölkerung sollten auch die Versicherung haben. Das neue Versicherungssystem wird aber noch diskutiert, viele Pro und Kontra dazu. Viele indonesische Bevölkerung sind damit unzufrieden. Das Problem ist, BPJS gibt die Krankenhäuser sehr niedrige Versorgungskosten. Dadurch geben viele Krankenhäuser schlechte Behandlung zu ihren Patienten. Ich nehme ein Beispiel. Ein Patient mit totalem Verschluβ der Herzkranzgefäβe kommt ins Krankenhaus. Er sollte mit Fibrinolitik wie Alteplase behandelt werden. Alteplase 100mg kostet ungefähr 7,6 Million Rupiah. BPJS gibt dem Krankenhaus für diesen Fall nur zwischen 3 - 6 Million Rupiah pro Patient. Also nur für ein Medikament kann BPJS sogar nicht abdecken. 

Indonesien ist ein tropisches Land. Die Zahl der Infektionskrankheiten sind besonders hoch. Noch überraschend ist, dass die Zahl nicht infizierte Krankheiten noch höher mit dem Anteil 59,5% in 2007. Die erste häufigste Ursache ist Schalganfall, gefolgt mit Hipertention, Diabetes, und Karzinom.

Wie schon beschrieben, dass die ärmere Bevölkerung fast keine Chanche medizinische Versorgung erreichen. Das Dompet Dhuafa Hospital gibt ihnen die Gelegenheiten dafür. Die Finanzierung des Krankenhauses wird durch spenden gewährleistet und eine maximale Qualität der Behandlung wird erreicht.

Dompet Dhuafa Hospital ist ein Krankenhaus Typ D. Das heiβt, das Krankenhaus kann Patienten nur allgemeinen Service geben. Wie z.B Patienten mit allgemeinem Beschwerden. Nicht alle Fachärzte sind in Dompet Dhuafa Hospital verfügbar. Es gibt nur Internisten, Neurologe, Gynäkologe, Pulmonologe  und Chirurge. Hier gibt es keinen Service wie z.B CT oder MRT Diagnostik, keine Herzspezialisten, HNO- oder Augenarzt. Die Patienten müssen dann zu anderem Krankenhaus (Typ C, B oder A) überwiesen werden. Im Gegensatz dazu haben Krankenhäuser mit Typ A Vollaustattung. Alle Arztspezialisten und Subspezialisten sind in Krankenhäuser Typ A verfügbar. Krankenhäuser Typ A legen als zentrale Krankenhauser (Top Referral Hospital) fest.

Ich habe hier in der Notaufnahme von 8 Uhr bis um 17 Uhr famuliert. Das Personal der Notaufnahme besteht aus einem Arzt (allgemein Arzt) und 3 Krankenpfleger. Im März ist die Regenzeit und die Häufigkeit an Denguefieber zu erkranken steigt almählich, da viele Orte voll mit Wasser sind und ist einer der optimalsten Orte für die Vermehrung von Krankheitserregern z.B Aedes Aegepty Mücke. Indonesien ist auch das 2. Häufigste Land mit Denguefieber-Erkrankung, was nach Brasilien, im Durchschnitt 1.125 Todesfälle zwischen 2009-2011 besitzt. Fast jeden Tag kommen neue Patienten, insbesondere Kinder zur Notaufnahme mit hohem Fieber was mehrere Tage hält. Wenn beim Patienten nach der körperlichen Untersuchung Denguefieber noch in Frage stand, wurde eine Blutuntersuchung durchgeführt. Hierbei ist die Thrombozytenzahl entscheidend.

Patienten kamen zur Notaufnahme mit unterschiedlichem Beschwerden. Meine tägliche Aufgabe war es zum Beispiel Blut abnehmen, Infusion geben oder Katether anlegen. Bei Patienten die noch Kinder waren hatte ich jedoch Schwierigkeiten. Ich hatte die Gelegenheit 3 Mal bei unbewussten Patienten eine Magensonde einzulegen, was leider nicht geklappt hat, da die Sonde immer zur Lunge ging.

Während meiner Famulatur gab es drei Fälle, wo sich Studenten miteinander gestritten haben. Sie kamen zur Notaufnahme mit offenen Verletzungen, da sie sich gegenseitig mit Messer oder Steine abgeworfen hatten. Solche Fälle sind in einigen Städten üblich. Der Grund des Streites ist jedoch meistens für unnötige Probleme z.B Frauen oder Beleidigung. Die Ärzte und Krankenpfleger gaben mir die Verantwortung, mich um diese Patienten zu kümmern. Ich führte eine Anamnese durch und behandelte  die Verletzungen sorgfältig. Die Wunden wurden erstmal mit NaCl gesäubert. Anschließend wurde mit Lidocain betäubt und die Schichten der Wunde wieder verschlossen. Praktisch die Lerntechnik vom Zusammennähen der Muskulatur, der Fettschicht und der Haut  war für mich sehr interessant.

Wie schon erwähnt wurde, ist dieses Krankenhaus speziell  für die ärmere Bevölkerung, wobei die meisten davon nicht zur Schule gehen oder nur eine niedrige Schulbildung besitzen. Deshalb haben wir Probleme dabei, die Patienten bzw. die Familien über das Vorgehen aufzuklären sowie die Diagnose zu erklären. Auch war ein Patient mit Rückenbeschwerden in der Notaufnahme, was an einem Bandscheibevorfall lag. Dieser wurde zu einem anderem Krankenhaus überwiesen, um dort weitere Diagnostik und Behandlung durchzuführen. Nach einer Woche kam er wieder zu uns und wollte nur im Dompet Dhuafa Hospital behandelt werden, da er der Meinung war dass die Krankenpfleger im anderem Krankenhaus nicht so freundlich wären wie hier. Wir haben versucht, ihm und seiner Familie zu erklären, dass hier keine weitere Diganostik durchgeführt werden kann und er somit nicht weiter untersucht werden kann. Leider wollten sie dies nicht akzeptieren.

Aufgrund hoher Behandlungskosten vermeiden die arme Leute den Arztbesuch, wenn sie gesundheitliche Probleme haben. Sie kommen erst,  wenn das Schmerzen nicht mehr gelindert werden kann. Wie ein alter Mann, der zur Notaufnahme wegen starkes Schmerzen im Hüftbereich gekommen  ist. Nach körperliche Untersuchung wurde er zum OP-Raum geschickt. Ich habe der Patienten begleitet und habe auch die Operation mitangeschaut. Tatsächlich gab es Perforationen auf sein Dünndarm und den Rest von seiner Nährung schon bis zu seinem Hodensack verbreitet. Während dieser OP hat den OP-Raum sehr schlecht gerochen. Ich konnte kaum glauben, wie kann er mehrere Zeit dieses Schmerzen aushalten. Ich habe dort auch die Gelegenheit Operationen zu assistieren und auch eine Warze am Rücken selbst reserzieren. Natürlich unter Beobachtung der Chirurgen. Bei einigen Krankenhäuser benutzen sie im OP-Saal keine einmalige Kittel sondern Kittel aus Stoffe, die mehrmals gewaschen werden koennen. 

Allgemein bin ich sehr zufrieden in der Heimat zu famulieren. Ich kann viele invasive Maβnahmen üben, als Chirurgin probieren und auch viele andere Erfahrungen sammeln. Anders als in Deutschland habe ich hier mit vielen tropische- und infektionskrankheit beschäftigt . Ich kann auch mit Patienten sehr flüssig kommunizieren, da die Sprache meine Muttersprache ist. Einige Kritik für das Gesundheitssystem in Indonesien nämlich das neue Krankenversicherungssystem (BPJS). Hoffentlich wird nicht nur das System verbessert, sondern auch die Qualität von der Versorgung. Das eigentliche Ziel ist das Gesundheitssystem wie in Deutschland, dass alle Bevölkerung gleiche Chanche haben gute medizinische Versorgung zu bekommen.