Pages

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, May 24, 2017

Nikmat & Syukur (1) - Kejangan


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Kalimat ini mungkin sangat familiar dikalangan anak muda, terutama yang beragama islam. Biasa dikutip dalam tulisan, wadah diskusi atau sekedar sebagai caption foto makanan di media sosial :D Di balik itu semua, kalimat ini ternyata adalah firman Allah SWT yang tercantum dalam surat Ar-Rahman. Jika kita membaca artinya saja, tanpa mempelajari tafsirnya, mentadaburinya, sudah jelas dalam surat tersebut tercantum contoh nikmat-nikmat yang telah Sang Pencipta berikan, baik kita pernah sadari atau tidak, pernah mensyukurinya atau tidak.

Tema ‚Nikmat‘ dan ‚Syukur‘ ini akhirnya memberikan saya ilham untuk menulis lagi J Dengan tema yang khusus yaitu mengenai nikmat sehat. Tujuannya sederhana, agar kita (terutama saya pribadi) bisa lebih menyadari dan mensyukuri segala hal sekecil apapun yang sudah Allah SWT berikan, terlebih dari sisi kehidupan orang lain yang saya pelajari selama menjadi mahasiswa kedokteran.

Bahasan kali ini mengenai Krampfanfall - Seizure - atau Kejangan (sering juga dikenal sebagai epilepsi, ayan) dalam bahasa indonesia. Jika melihat orang yang tiba-tiba mengalami kejang di tempat umum, pada umumnya orang akan menyangka bahwa orang yang kejang tersebut dalam kondisi sakaratul maut. Tubuh yang kejang, badan yang seketika kaku, bola mata yang mengarah ke atas, mulut berbusa dan banyak contoh lainnya. Namun dalam hitungan detik atau menit bisa sadar kembali seperti kondisi awal. Kejangan terjadi akibat reaksi syaraf pusat yang berlebihan secara spontan. Serangan ini dapat bersifat umum atau juga lokal, hanya menyerang bagian-bagian syaraf pusat tertentu saja. 

Masih ingatkah kita tentang cerita seorang wanita teladan di zaman Rasulullah SAW yang teguh menjaga auratnya?  

Dikisahkan oleh Atha’ ibn Abu Rabah, beliau menuturkan : “Ibnu Abbas r.a berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan padamu salah seorang wanita penghuni syurga? ‘Aku menjawab, ‘Ya, tentu saja.” Lalu ia berkata, ‘Dialah wanita berkulit hitam yang pernah menemui Rasulullah SAW dan berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku terbuka karenanya. Karena itu mohonkanlah kepada Allah untuk kesembuhanku.

Rasulullah SAW menjawab, “Bila engkau sanggup, aku sarankan untuk bersabar menjalaninya, karena itu akan berbalas syurga. Namun bila engkau tetap menghendaki kesembuhan itu, aku akan mendoakan agar Allah menyembuhkan-mu.”. Maka wanita itu berkata, “Sebenarnya aku memilih untuk bersabar, tetapi auratku sering tersingkap karenanya. Karena itu doakanlah agar aku tidak seperti itu lagi (terbuka auratnya).” Lantas beliau pun mendoakannya.”

Terlepas dari hikmah cerita diatas mengenai kesabaran dan ketabahan yang dimiliki wanita tersebut, perlu kita sadari bahwa serangan kejangan ini tidak dapat dikontrol oleh penderitanya. Pernah kah terpikir, bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada diri kita? Bukan keinginan kita, dengan sekejap terbuka auratnya di tempat umum dan dilihat oleh banyak pasang mata.

Cerita lainnya mengenai seorang wanita yang mendapat serangan kejangan ketika sedang memasak di dapur. Wanita tersebut kehilangan fungsi motoriknya dalam beberapa detik dan dengan spontan menjatuhkan wajahnya ke dalam panci mendidih yang sedang ia masak. Keluarganya pun langsung membawanya ke rumah sakit akibat luka mendidih yang mengenai wajahnya.

Jika kejangan ini mengenai syaraf pusat penglihatan di bagian okzipital, orang akan mengalami kesulitan melihat, banyak cahaya dan blitz sekaligus yang datang pada matanya. Bagaimana jika ini terjadi ketika sedang bekerja? Orang juga bisa mendadak berbicara gagap, berbicara tanpa artikulasi yang benar jika kejangan menyerang bagian pusat bicara. Bayangkan jika hal ini terjadi ketika sedang wawancara melamar pekerjaan? Bisa merasa tiba-tiba kesemutan atau tertusuk dengan intensitas yang tinggi, rasa panas atau dingin pada tubuh yang berlebihan, jika kejangan ini menyerang bagian sensibilitas pada syaraf pusat. Atau bahkan jika menyerang bagian pusat ingatan - Hippocampus -, pasien bisa berlaku aneh dan bercerita sesuatu hal seakan pernah dialaminya, yang pada kenyataannya tidak pernah terjadi sama sekali.

Bayangkan rasanya menjadi orang-orang yang menderita penyakit ini. Mereka mungkin tidak dapat hidup tenang. Diliputi rasa takut yang besar karena tidak bisa memprediksi kapan kejangan itu akan datang. Di Jerman, orang dengan risiko tinggi kejangan seperti ini dilarang menyetir mobil, mungkin juga tidak bisa mendapatkan SIM selama risiko munculnya serangan tersebut masih tinggi. Mereka juga tidak boleh melakukan aktivitas berenang, untuk mencegah risiko tenggelam jika kejangan menyerang saat berenang.

Dan sekarang bayangkan nikmat apa yang sudah kita miliki.. Bayangkan hidup yang kita jalani sampai detik ini, aktivitas yang dilakukan sampai hari ini, apakah sangat terbatas dan dihantui rasa takut terhadap sesuatu? Apakah kita bisa mengontrol semua tindakan kita, gerakan tubuh kita, seperti yang kita inginkan? Tanpa perlu memikirkan berjuta kenikmatan lainnya yang sudah Allah SWT karuniakan kepada kita, sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang kita miliki dan bersyukur tidak mengalami hal-hal seperti yang dialami saudara-saudara kita, para penderita penyakit tersebut?


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 7)


Gießen, 28. Syaban 1438
sambil-menunggu-datangnya-bulan-suci-Ramadhan

Thursday, September 29, 2016

Tips Persiapan Haji

Karena masih hangat biar ga lupa, dan juga karena masih liburan jadi masih banyak waktu luang hehe insyaAllah kali ini saya akan memberikan tips-tips persiapan haji versi Syifa. Jadi tips ini sangat subjektif, jangan dijadikan tolak ukur. Tapi mostly orang-orang menyarankan hal yang sama (terutama untuk persiapan rohani).


  • Teruntuk teman-teman yang ingin berangkat haji dai Indonesia, mulailah nabung dari sekarang. Kalo tabungannya udah keliatan ada 5 juta, 10 juta, 25 juta segera daftar haji. Jangan sampai ditunda karena ingat daftar tunggu di Indonesia sangat lama. Saya yang baru kepikiran untuk berhaji di usia 20 tahun, alhamdulillah berkesempatan berangkat di usia 23 tahun. Jika di usia 20 tahun saja saya langsung daftar di Indonesia, maka kemungkinan saya baru berangkat di usia 35 tahun (karena daftar tunggu wilayah Bogor yang kurang lebih 15 tahun lamanya). Tapi tetap jangan sampai memaksa nabung untuk berhaji, namun keluarga kita di rumah ada yang kelaparan atau kesakitan dan dibiarkan begitu saja.

  • Sebelum pergi haji, banyak-banyaklah bertaubat, luruskan niat, pamit-an kepada keluarga dan orang-orang terdekat, lunaskan segala hutang baik uang maupun janji, dan yang penting jangan sampai meninggalkan perkara yang belum selesai. Dikhawatirkan kita tidak fokus untuk beribadah karena memikirkan perkara tersebut.

  • Latihan, kalo bisa dari 6 bulan sebelumnya untuk menjaga hati. Jauhi hati dari prasangka buruk, mudah mengeluh dan latihan bersabar.

  • Selalu berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Setiap akan berangkat ke tanah Haram pasti sering mendengar pengalaman-pengalaman buruk atau mistis yang terjadi pada jamaah haji. Belum tentu semua itu akan terjadi juga pada kita. Jangan terfokus pada hal itu. Saya pribadi ketika di tanah Haram mencoba melupakan cerita pengalaman buruk orang dan lebih mencoba berkonsentrasi untuk terus berbaik sangka. Setiap ada pikiran buruk yang muncul, cepat-cepatlah beristigfar. 

  • yang belum hidup sehat, dari 6 bulan sebelumnya mulailah hidup sehat. Olahraga yang teratur, makan makanan yang sehat dan berserat tinggi, biasakan jalan kaki kemana-mana karena haji itu bukan hanya ibadah rohani tapi juga ibadah fisiki. setiap harinya kita akan jalan lebih dari 2km, percaya deh. Apalagi kalo jarak hotel nya jauh, itu juga harus diperhitungkan :)

  • Hati-hati dalam berucap, bahkan walaupun hanya dalam hati. Jaga lisan, jaga pikiran dan jaga mata. Khusus untuk jamaah wanita jangan terlalu banyak kontak mata misalnya dengan pedagang ketika sedang berbelanja. Karena ada beberapa pedagang yang suka menggoda. Misalnya bilang ''Saya belum punya istri, kamu sudah punya suami belum..'' Kalo mau lebih aman lagi pakai saja cadar. Fungsi cadar untuk saya agar tidak diperhatikan oleh laki-laki, juga melindungi dari cahaya matahari, meskipun sudah pake sunblock hehe.

  • Jika rencana berangkat dari Jerman dan sebelumnya sempat pulang ke Indonesia, saran saya vaksin meningitis di Indonesia saja. Dengan alasan biaya yang lebih murah (sekitar 300ribu). Alamatnya bisa cari di internet, salah satunya di bandara Soetta. Untuk vaksin meningitis di Jerman dikenakan biaya sekitar 50 - 80€ dan setau saya tidak di cover oleh asuransi karena bukan termasuk vaksin wajib di jerman.

  • Khusus jamaah wanita jika berencana meminum pil anti haid, segera konsultasikan ke Frauenarzt/dokter kandungan minimal dari 3 bulan sebelumnya. Agar proses penundaan bisa berjalan lancar. Jangan lupa rutin untuk mencatat jadwal haid untuk diinfokan ke dokter tsb.

  • Sebelum berangkat haji sering-sering membaca atau mendengarkan tentang sirah nabawiyah. Agar momen ibadahnya bisa lebih khusyuk. Bisa dengar sirah nabawiyah disini https://www.youtube.com/watch?v=WRo8vgVSMaA. Agar bisa memaknai setiap ibadah rukun dan wajib haji bisa juga melihat video manasik haji dari Kemenag https://www.youtube.com/watch?v=QfOIL4pa2-o. Disitu akan dijelaskan apa hikmah yang bisa kita ambil dari tiap-tiap ibadah. Memang sulit untuk menghayatinya, misalnya ibadah Sa'i. Kenapa saya bilang sulit? karena kondisinya sekarang antara bukit Safa dan Marwah itu sangat nyaman. Beralaskan lantai, atmosfer yang dingin karena kipas angin. Sementara dulu Siti Hajar berlari-lari kecil berputar antara bukit Safa dan Marwah di atas tanah yang tandus dan cuaca yang amat panas. 

  • Gunakan waktu sebelum berangkat haji sebaik-baiknya untuk mempelajari dengan detail rukun dan wajib haji. Catat tempat-tempat mana saja yang mustajab untuk berdoa. Kenali setiap bagian yang ada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Jangan sampai ketika sedang tawaf tidak tau, bangunan apa yang berbentuk seperti kubah emas itu? Padahal adalah Maqam Ibrahim. Ketika terdorong-dorong orang sampai masuk ke Hijr Ismail, tidak mengerti kenapa semua orang berebut shalat disana. Padahal ternyata shalat di dalam Hijr Ismail seperti shalat di dalam Kabah. Gunakan waktu untuk persiapan sebaik mungkin, agar ibadah kita pun bisa maksimal :)

Persiapan dalam Koper (mostly untuk wanita)
  • Peralatan Kebersihan
Pentiliner, Pembalut, Detergen (tanpa parfum), Tisu toilet, Tisu wajah (tanpa parfum), Sabun  mandi (tanpa parfum), Shampo (tanpa parfum), Sunblock (tanpa parfum), dan Deodoran (tanpa parfum). Kenapa saya memilih yang tanpa parfum? Karena dalam keadaan Ihram kita dilarang menggunakan wangi-wangian. Meskipun memang kita tidak selamanya dalam keadaan Ihram. Jadi teman-teman juga bisa membawa sabun dan shampo dengan wangi-wangian jika mau.


  •  Peralatan Kesehatan



Minyak kayu putih, Handsanitizer, Primolut (pil anti haid), Plester, Obat masuk angin, Pelembab bibir, Krim pereda sakit otot dan sendi,  Betadin, Supplement vitamin (yang penting adalah vitamin C untuk imunitas tubuh), Face shield (untuk membantu jika ada orang yang membutuhkan napas buatan (krn saya anak kedokteran hehe) agar tidak kontak langsung dengan alat pernapasan orang yang sakit tsb.


  •  Minuman Hangat (maaf bukan promosi)
                            



  • Pelindung Panas dan Cahaya Matahari
Topi, Semprotan air untuk menyegarkan wajah, Kipas, Cadar (tidak ada di foto), Permen pereda sakit tenggorokkan

  • Universal Adaptor
Untuk berjaga-jaga karena beberapa Hotel menggunakan colokan berkaki tiga.

  • Kamera Digital, Hairdryer, Colokan (bisa janjian dengan teman sekamar)
                            

  • Anti Slip Socks
Untuk menghindari terpeleset karena kita banyak berjalan di atas lantai ketika berada di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
  • Buku doa-doa untuk ibadah haji dan Buku dzikir
                            


  • Gunting kuku, Gunting, Alat Jahit
                            


Kebutuhan lainnya yang tidak sempat terabadikan dalam foto :

  1. Sepatu (harus yang nyaman untuk dipakai berjalan banyak). Jika akan membeli sepatu baru, sebaiknya sudah di coba dari 3 minggu sebelumnya.
  2. Sendal jepit
  3. Tas selempang
  4. Kaca mata beserta tali nya
  5. Payung
  6. Obat-obat an seperti antibiotik, obat batuk, obat flu
  7. Masker
  8. Kantong plastik (20-30 liter)
  9. Gamis 4-5 potong (pengalama pribadi tidak perlu membawa terlalu banyak. Karena di Hotel ada fasilitas mencuci baju. Selain itu agar ada alasan untuk membeli beberapa Abaya disana :D)
  10. Mukena
  11. Pakaian dalam +/- 10 potong. Pengalaman saya tidak perlu terlalu sering mengganti baju (bisa dua - tiga kali pakai baru di cuci), yang terpenting adalah selalu mengganti pakaian dalamnya. Sehingga kita perlu membawa banyak pakaian dalam.
  12. Baju tidur
  13. Khimar 5-6 potong
  14. Manset tangan
  15. Bantal leher
  16. Kantong kecil untuk melempar jumroh
  17. Botol minum
  18. Pemanas air (bisa janjian dengan teman sekamar)
  19. Mini lunch box (agar bisa diisi misalnya dengan kurma, lalu dibagi-bagikan ke orang sekitar ketika berada di Masjid. Bersedekah dengan hal-hal kecil :) )
  20. Timbangan koper
  21. Tali (ini bermanfaat untuk membuat jemuran dadakan di dalam kamar mandi hehe)
  22. Gantungan baju
  23. Sajadah tipis
  24. Handuk
  25. Sapu tangan
  26. Powerbank
  27. Al-Quran 

Semua yang saya list ini tentunya berdasarkan kebutuhan saya pribadi. Teman-teman bisa menambah atau mengurangi sesuai yang diperlukan. Memang tidak semua yang saya bawa terpakai, namun saya lebih suka berjaga-jaga daripada kekurangan. Semoga tips persiapan haji ini bermanfaat ya.


Wassalamu'alaikum

Gießen, 29.09.2016
dari-yang-merindukan-tanah-Haram
yang-minta-didoakan-agar-bisa-segera-pergi-ke-tanah-Haram-lagi-bersama-keluarga-dan-keluarga-baru-kelak :)

Tuesday, September 27, 2016

Menunaikan Ibadah Haji dari Jerman



Melaksanakan ibadah haji, yang termasuk rukun islam ke-5 ini sangatlah istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini tidak bisa dilakukan dimana saja layaknya shalat 5 waktu, harus dilakukan di waktu tertentu dan juga tidak sembarang orang bisa melakukan ibadah ini. Dibutuhkan kesiapan jasmani dan rohani, uang yang tidak sedikit, ketersediaan waktu dan juga niat yang benar-benar lurus hanya untuk Allah SWT semata. 

Untuk muslim yang berdomisili di negara minoritas muslim seperti Jerman, ada banyak kelebihan yang didapat jika berhaji dari Jerman. 

1. Tidak Ada Daftar Tunggu

Berbeda dari Indonesia dimana perbandingan antara calon jamaah haji dan kuota yang tersedia sangat jauh. Berhaji dari Jerman masih menganut asas ''daftar tahun ini, berangkat tahun ini juga.'' Dikarenakan perbandingan antara calon jamaah haji dan kuota yang tersedia masih 1:1. Sehingga tidak ada jamaah haji yang masuk ke daftar tunggu. 

Penyelenggaraan ibadah haji dari Jerman difasilitasi oleh biro perjalanan Haji dan Umroh atau masjid-masjid yang memiliki fasilitas program haji. Jadi jika salah satu biro perjalan sudah terisi full oleh pendaftar haji, calon jamaah haji tinggal mencai biro perjalanan lainnya yang masih menyediakan tempat untuk mendaftarkan haji. 

Sementara di Indonesia untuk ONH plus yang membayar sampai kisaran 100-150 juta saja masih harus menunggu kurang lebih 2-5 tahun untuk bisa berangkat haji.

2. Biaya

Biaya yang dibutuhkan untuk berangkat haji dari Jerman untuk tahun 2016 sekitar 4200€ - 4800€. Perbedaan harga ini terletak pada perbedaan fasilitas yang disediakan oleh masing-masing biro perjalanan. Namun setiap tahun biayanya selalu naik. Jika dibandingkan dengan travel yang sama tahun 2014 sekitar 4400€, tahun 2015 4500€ dan tahun 2016 ini 4800€. Program yang ditawarkan pun hanya ada dua, yaitu program haji panjang (25 hari) dan program haji pendek (10-15 hari) dengan biaya dan fasilitas yang sama. Tidak ada perbedaan yang signifikan seperti di Indonesia antara ONH biasa dan ONH plus.

Untuk para mahasiswa, bisa dibayangkan analogi nya kita kerja ''nguli'' di pabrik dengan UMR 1200€ per bulan. Kira-kira butuh berapa lama mengumpulkan uang untuk pergi berhaji. Jadi jika biasanya kerja sambilan agar punya uang untuk bisa jalan-jalan ke negara lain, mungkin sekarang tujuannya bisa diluruskan sedikit untuk jalan-jalan sambil beribadah :)

Biaya haji ini memang lebih mahal jika dibandingkan dengan ONH reguler di Indonesia. Namun harga berbicara sesuai dengan fasilitas yang jamaah dapatkan selama proses ibadah.

3. Fasilitas yang Sangat Baik

Rata-rata hotel yang ditawarkan oleh biro perjalanan haji lokasinya dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, berbeda jika dibandingkan dengan jamaah haji reguler Indonesia yang sampai harus mengendarai Bus agar bisa sampai ke Masjidil Haram. Biro perjalanan haji saya menyediakan hotel bintang 3 di Mekkah yang letaknya 450m ke Masjidil Haram, dan hotel bintang 5 di Madinah yang cukup ditempuh dengan jalan kaki 5 menit ke Masjid Nabawi.

Selain itu fasilitas yang disediakan di Mina misalnya, tenda difasilitasi dengan tambahan kipas angin. Bahkan saya mengintip tenda tetangga dari biro perjalanan lain yang menyediakan kasur empuk untuk masing-masing jamaahnya.

4. Pengurusan yang Tidak Rumit

Calon jamaah haji cukup menyerahkan semua dokumen yang diminta setelah itu menunggu kabar jika visa sudah keluar. Saking simple-nya, saya pribadi sampai khawatir karena dokumen saya yang sudah diserahkan dari bulan Mei tidak ada kabar kelanjutannya. Sebenarnya jika dokumen sudah lengkap dan sesuai persyaratan, kita tidak perlu khawatir. Cukup duduk manis, berdoa dan meluruskan niat sampai waktu yang dinantikan tiba :D

Beberapa kekurangan jika berangkat haji dari Jerman :

1. Lama Perjalanan

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, proses ibadah haji yang tersedia hanya ada dua yaitu haji panjang (25 hari) dan haji pendek (10-15 hari). Dibandingkan dengan haji reguler dari Indonesia yang lamanya 40 hari, tentu berhaji dari Jerman dirasa sangat sedikit waktunya. Namun dalam poin ini mungkin juga ada yang berbeda pendapat, dan lebih suka dengan waktu yang singkat misalnya karena faktor anak dan keluarga yang ditinggalkan dsb.

2. Terbatasnya Bahasa

Bahasa yang disediakan para biro perjalanan ini biasanya hanya bahasa Jerman, Turki dan Arab. Untuk calon jamaah haji indonesia yang tidak bisa berbahasa Jerman, Turki atau Arab patut berbangga hati. Karena mulai tahun 2013 FORKOM (Forum Komunikasi Muslim di Jerman) bekerja sama dengan biro perjalanan BALCOK, memfasilitasi bimbingan haji berbahasa Indonesia.

3. Perbedaan Madzhab

Dalam poin ini sebenarnya bukanlah termasuk kekurangan yang berarti. Namun hal ini patut untuk dipertimbangkan oleh para calon jamaah haji yang akan berangkat dari Jerman, agar tidak dibuat bingung dengan adanya perbedaan ini. Berdasarkan pengalaman pribadi misalnya, biro perjalanan haji yang saya pakai adalah milik keluarga keturunan Turki. Sehingga jamaahnya pun juga banyak yang berasal dari Turki, dimana mereka bermadzhab Hanafi dan mayoritas orang Indonesia bermadzhab Syafi'i. Dalam prakteknya ketika puncak haji tiba, jamaah biro perjalanan haji saya terbagi menjadi beberapa kelompok (arab, turki dan indonesia) dan kami melakukan ibadah terpisah-terpisah dikarenakan perbedaan pendapat mengenai Mabit di Mina, Mudzdalifah, waktu melempar Jumroh dsb. Sementara hal ini mungkin tidak akan ditemukan dalam rombongan haji Indonesia.

4. Makanan yang Tersedia

Makanan yang disediakan oleh hotel dan biro perjalanan biasanya adalah makanan arab atau turki. Dengan porsi yang cukup banyak dengan variasi pilihan makanan yang cukup banyak. Hal ini terkadang tidak cocok untuk beberapa jamaah haji Indonesia yang terbiasa makan sambal dan sayur asem hehe. Sehingga tidak sedikit jamaah yang extra jajan mencari makanan rasa Indonesia. Jika disini ada salah satu jamaah haji forkom 2016 yang baca blog saya, pasti bisa senyum-senyum sendiri teringat dengan menu terong dan sosinya :D


Jadi untuk teman-teman yang berdomisili di Eropa, ditambah lagi usia yang masih muda, sekarang adalah waktu yang tepat untuk merencanakan ibadah haji. Karena tinggal di Eropa adalah salah satu kesempatan yang besar yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita tidak tahu apakah di tahun-tahun mendatang masih berlaku asas ''bayar tahun ini, berangkat tahun ini'', mengingat pertumbuhan muslim di Eropa yang terus meningkat. Bagi yang sudah berniat semoga Allah mampukan untuk segera menunaikan ibadah haji dan diluruskan niatnya hanya untuk Allah semata. Bagi yang belum berpikir untuk berhaji, semoga tulisan saya ini bermanfaat dan bisa termotivasi untuk melaksanakan rukun islam yang ke-5 ini.

InsyaAllah jika ada kesempatan lain saya akan ceritakan pengalaman seputar ibadah haji lainnya :)




Wassalam,
hamba-Mu yang merindukan tanah Haram.
2 hari setelah kepulangannya dari Madinah, kota kekasih-Mu.


Monday, August 22, 2016

Pasangan Dunia Akhirat

Foto milik pribadi

Memasuki musim haji tahun ini, memori saya membuka dan mengingat kembali kejadian tahun lalu. Persis ketika musim haji 2015.

Suatu pagi grup whatsapp komunitas muslim kami ramai dengan berita seorang calon jamaah haji wanita Indonesia asal Inggris yang dilarikan ke rumah sakit dikarenakan pingsan ketika sedang transit di bandara Frankfurt. Akhirnya beberapa orang dibantu oleh konsulat mengerahkan tenaga nya untuk memberi support moril maupun materiil kepada calon jamaah haji wanita ini beserta suaminya.

Berselang dua hari dari kejadian, saya bersama beberapa teman akhwat lainnya menyempatkan diri untuk menjenguk beliau dan bertemu suaminya (sebut saja Ibu Rina dan Pak Wahyu). Hari itu kami datang cukup pagi dan ternyata Pak Wahyu sedang tidak ada di kamar pasien. Kami pun meminta izin kepada perawat untuk menjenguk Bu Rina, dengan izin Pak Wahyu sebelumnya. Ketika memasuki ruangan, hati kami terasa menangis lirih. Melihat Ibu Rina yang terbaring tanpa sadar di kasur, dengan berbagai kabel dan selang yang menghubungkan tubuhnya dengan monitor-monitor. Kami hanya mengajak beliau berbicara sebentar juga membacakan beberapa ayat suci Al-Quran dan kami pun kembali ke ruang tunggu, menunggu kedatangan Pak Wahyu.

Siang hari tiba dan kami pun bertemu dengan Pak Wahyu. Beliau menceritakan kepada kami bagaimana kronologi peristiwa tersebut. Pada hari itu jamaah haji asal Inggris terbang ke Saudi Arabia dan melakukan transit sebelumnya di Frankfurt, Jerman. Bu Rina sempat mengeluh pusing kepada Pak Wahyu lalu ia izin untuk pergi ke toilet sebentar. Tak lama Bu Rina sudah ditemukan dalam keadaan tidak sadar di toilet dan segera dibawa ke Uni Klinik Frankfurt. Mau tidak mau Pak Wahyu pun tidak melanjutkan perjalanan haji nya bersama rombongan dan memilih menetap bersama istrinya. Dokter pun mendiagnosa bahwa sakit kepala tersebut datang karena ada pembuluh darah di otak yang pecah dan mengakibatkan Bu Rina tidak sadarkan diri. Pak Wahyu sempat dipusingkan dengan masalah lain, yaitu anaknya yang masih kecil yang mereka tinggalkan di Inggris. Beliau juga sempat bingung karena beliau tidak leluasa bergerak di Jerman terkait masalah visa. Ya, Pak Wahyu tidak punya izin untuk stay di Jerman. Alhamdulillah ada satu keluarga senior yang bersedia menjadi tumpangan selama Bu Rini dirawat. Tak lama Pak Wahyu mengajak kami untuk masuk ke kamar pasien. 

''Assalamu'alaikum Umi... apa kabar Umi hari ini? Umi lihat siapa yang datang.. ada Mba Syifa, saudara Umi dari Jerman..'', bisik Pak Wahyu lembut kepada istrinya. 

''Iya Mba Syifa.. Beginilah keadaan istri saya sekarang. Saya tidak mengizinkan ada lelaki yang masuk ke ruangan ini. Jika mau besuk bisa sampai di ruang tunggu saja. Karena umi nya ga pake jilbab. Saya titip ya Mba Syifa.. jika ada waktu teman-teman perempuannya datang kesini, ajak ngobrol istri saya dan membacakan ayat Al-Quran. Saya ga bisa terus disini, karena harus mengurus administrasi juga'' ujar Pak Wahyu kepada saya. Pak Wahyu lalu memberikan Al-Quran yang terletak di samping kepala Bu Rini kepada saya, ''Ini Mba.... Saya selalu tandain ayat terakhir yang dibaca dengan ini.. Saya hanya melanjutkan bacaan istri saya agar istri saya menyempatkan khatam Al-Quran. Nanti Mba Syifa bisa lanjutin saja ya...''

Saya tidak banyak berbicara saat itu. Hanya air mata yang jatuh membasahi pipi saya. Saya berusaha untuk tidak menangis agar Pak Wahyu tidak semakin sedih. Entahlah.. saya melihat ada cinta yang amat besar disitu, sehingga hati ini dibuat larut merasakan atmosfernya. 

Selang beberapa waktu datanglah seorang perawat laki-laki dan menghampiri Pak Wahyu. Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, ia memperkenalkan dirinya kepada Pak Wahyu, ''Halo selamat siang Pak Wahyu. Saya perawat yang bertanggung jawab mengurus istri Bapak siang ini sampai besok pagi. Jika bapak ada pertanyaan atau ingin berbicara dengan dokter, bisa langsung menghubungi saya.''

Pak Wahyu pun menjawab dengan suara bergetar menahan tangis, ''Terimakasih.. terimakasih banyak. Saya sangat bersyukur. Rumah sakit ini bersama dokter dan perawatnya telah menangani istri saya dengan sangat sigap. Anda tahu.. saya tidak kenal siapa-siapa di Jerman ini. Bahasa nya pun saya tidak bisa. Sampai Tuhan mendatangkan banyak bantuan kepada saya. Saya dibantu mengurus urusan administrasi saya dan istri saya disini, saya diberi tempat menginap dan makan, saya berkenalan dengan banyak saudara baru. Semua ini membuat saya lebih kuat menghadapi cobaan ini. Terimakasih banyak... Mohon doanya untuk kesembuhan istri saya...''

Setelah itu saya pun izin pamit meninggalkan Pak Wahyu bersama istri. Beberapa hari setelahnya kami mendapatkan info bahwa Ibu Rina meninggal dunia. Komunitas Muslim Frankfurt segera membantu mencarikan masjid yang bersedia memandikan dan menshalatkan jenazah. Dikabarkan, Ibu Rina adalah sosok yang aktif dalam dunia dakwah. Beliau aktif dalam kegiatan taklim dan pendidikan anak kecil. Janji Allah SWT terbutkti --- ''Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.'' (Q.s. Muhammad : 7) -- Allah SWT memudahkan proses pencarian muslimische Bestattung sampai dengan pengiriman jenazah ke tanah air dengan harga yang cukup murah. Imam dan para jamaah salah satu masjid Turki dekat Uni Klinik juga banyak membantu Pak Wahyu dan keluarga. Sampai akhirnya putri Pak Wahyu menyusul ke Jerman dan mengetahui keadaan ibunya yang sebenarnya. Setelah proses pemandian, shalat dan administrasi selesai, keluarga Pak Wahyu pulang ke tanah air untuk proses pemakanan jenazah Ibu Rina, diantarkan oleh keluarga baru mereka di Jerman. Kabarnya Pak Wahyu tahun ini akan menunaikan ibadah haji nya yang tertunda. Semoga Allah SWT menganugrahkan beliau haji yang mabrur.

Teruntuk Ibu Rina..
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبَ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِها، وَأدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهاَ مِنْ عَذَابَ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Dari pasangan ini saya belajar banyak mengenai arti cinta, ketulusan dan ikhlas. Semua dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Semoga Allah SWT pertemukan kembali pasangan ini di surga-Nya.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.








Gießen, 19 Dzulqa'dah 1437 H

Friday, August 5, 2016

Pembelaan Tanpa Diminta

Pada suatu pagi di bangsal penyakit dalam Bürger Hospital Friedberg.


''Guten morgen Herr Schütz.. Bei Ihnen wurde heute noch keine Laborkontrolle gemacht, oder?'' - ''Selamat pagi Tuan Schütz.. Hari ini belum ada kontrol labor untuk anda kan?''


''Morgen.. ich weiß es nicht. Was heißt dann?'' - ''Selamat pagi.. saya tidak tau. Apa itu artinya?''

''Eine Blutentnahme. Dann steche ich Sie mal jetzt.'' - ''Ambil darah. Kalau begitu saya tusuk anda sekarang ya.'' (dengan nada bercanda).

''Haha ja.. Sie können mich gerne piksen. Sie lachen so mit Freude, sind Sie Muslim?'' - ''Haha ya.. Silahkan tusuk saya sesuka anda. Anda tertawa begitu ceria, apakah anda Muslim?''

''Ya....''
Merasa kikuk dengan tema itu, saya pun mengakhiri percakapan dengan bergaya sibuk mencari vena Tuan Schütz untuk diambil darahnya.

Suasana pun menjadi sepi ketika proses darah diambil. Lalu Tuan Schütz memulai percakapan kembali.

''Darf ich Ihnen was sagen. Was Sie im Kopf anhaben, finde ich gar nicht schlecht. Es ist sogar schön. Sie brauchen keine Angst wegen Ihrem Kopftuch, wegen Ihrem Aussehen. Sie sprechen gut deutsch, Sie verhalten sich gut, Sie werden eine gute muslimische Ärztin sein. Ich habe auch ein Paar türkische Kollege und sie sind sehr sehr nett. So brauchen Sie keine Angst was von den Medien berichtet wird.'' - ''Bolehkah saya berkata sesuatu.. Yang anda kenakan di kepala itu tidaklah buruk. Bahkan terlihat indah. Jadi anda tidak perlu takut karena jilbab anda, karena penampilan anda. Anda berbicara bahasa jerman dengan baik, berperilaku baik, anda juga akan menjadi seorang dokter muslim yang baik. Saya juga memiliki beberapa Kolega asal turki, mereka sangatlah ramah. Jadi anda tidak perlu takut, juga atas apa yang media beritakan. 

Saya tersenyum heran pada Tuan Shütz. Ada apa beliau tiba-tiba berbicara seperti itu, seolah mengungkapkan semua rasa takut yang dirasakan umat Muslim di Jerman akhir-akhir ini. Entahlah, yang jelas saya tau bahwa beliau berbicara serius. Bukan sedang mengigau :D und er hat damit meinen Tag gerettet! :)






Jum'ah Mubarak!
Famulatur Innere Medizin 14. Tag


Monday, August 1, 2016

Indonesian Care Day

Indonesian Care Day - sebuah Pilot Programm - yang di inisiasi oleh MMI (Masyarakat Muslim Indonesia) dan JKI (Jemaat Kristen Indonesia) yang berada di kota Frankfurt am Main Jerman. Bentuk acaranya yaitu berbagi bersama saudara-saudara imigran yang berasal dari negara konflik. Mengenalkan budaya Indonesia melalui tarian Ngarojeng dan Saman. Serta berbagi pengalaman bagaimana berintegrasi di Jerman, pengalaman memulai hidup di Jerman, bagaimana bisa mudah belajar bahasa Jerman dsb.

Acara ini dihadiri oleh 140 saudara pengungsi yang berasal dari Afghanistan, Suriah, Irak dan Eritrea, beberapa tim Deutsches Rotes Kreuz, juga 40 anggota dari organisasi MMI dan JKI.



Antusiasme para imigran ini sangat tinggi. Terlihat ketika mereka khusyuk melihat tarian Ngarojeng dan Saman, bertepuk tangan meriah ketika pertunjukan tari selesai, juga ketika sesi sharing diadakan. Bahkan ada salah satu imigran (sepertinya berasal dari Afghanistan) yang memberanikan diri naik ke panggung dan menyampaikan beberapa kalimat kepada kami. 

''Terimakasih kepada teman-teman dari Indonesia yang sudah membuat acara ini untuk kami. Kita semua sama-sama kesini sebagai pendatang. Namun ada perbedaan yang sangat besar antara kita. Kalian datang kesini untuk sekolah, mencari ilmu dan bekerja. Tapi kami datang kesini sebagai pengungsi. Kami rasa ada kesulitan besar yang harus kami hadapi. Namun ternyata setiap orang memiliki kesulitan masing-masing ketika datang kesini.''

Puncak acara diisi dengan barbeque-an dan makan sore bersama. Lucunya ada beberapa saudara kami ini yang merasa hidangan makanan kami terlalu pedas, namun banyak juga yang menambah sambal sampai berkali-kali :D Kepuasan kami sebagai panitia terlihat ketika banyak yang menambah makan sampai berulang kali.

Semoga acara Indonesia Care Day ini sedikitnya bisa memotivasi saudara kita ini untuk bisa terus tersenyum dalam keadaan apapun. Meredakan trauma yang sudah tertanam pada diri mereka. Dan semoga acara ini menjadi awal dari kegiatan-kegiatan seru selanjutnya antara organisasi MMI bersama JKI ;)









"Saya cukup kaget, tidak mudah mengatur mereka, membuat mereka konsentrasi fokus dalam waktu beberapa jam, belum pernah terjadi, tapi hari ini saya lihat mereka bisa konsentrasi mengikuti alur acara ini. Saya kaget". Kira kira begitu penuturan kepala asrama pengungsi di Dornbusch. Apresiasi setinggi tingginya untuk semua pihak yg telah membantu kegiatan ini hingga terlaksana.


PS. : saya sempet mewawancarai salah satu dari mereka, tapi lupa izin tanya apakah yang bersangkutan berkenan jika video nya saya upload :( :(


Wednesday, July 6, 2016

Zückerfest 2016 - Lebaran 1437 H

Assalamu'alaikum wr. wb.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Selamat merayakan hari Idul Fitri bersama keluarga tersayang :) :) Ini adalah kali ke-4 lebaran saya tidak di rumah. Tidak bersama keluarga, menjalankan mudik ke Majalengka, kota asal ayah saya. 

Tapi lebaran saya kali ini tidak kalah menarik dengan lebaran di Indonesia. Saya bahkan memiliki keluarga baru dari Turki dan Suriah.

Sevval adalah teman satu kos saya di kota Gießen. Dia mengundang saya & teman saya, Atiya untuk merayakan lebaran bersama. Ketika kami sampai di rumahnya, kami langsung disambut pelukan hangat dari Ibu Nagis, ibunya Sevval. ''Bayram Mubarak!'', sahut kami riang. Kami pun langsung pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan bersama. 

Keluarga Sevval adalah keluarga yang sangat baik dan ramah. Ayahnya lahir dan besar di Turki. Ia lalu pergi ke Jerman untuk mengadu nasib sampai akhirnya bertemu dengan Ibu Nagis dan menikah. Ibu Nagis sendiri lahir dan besar di Jerman, namun begitu ia tetap bisa menguasai bahasa Turki karena sejak kecil ia selalu diajarkan dua bahasa tersebut oleh orang tuanya. Hal itu pun yang mendasari mereka untuk mengajarkan bahasa jerman dan turki kepada 4 anaknya. Sevval, Batur, Mohammed dan Elwa. Hampir setiap tahun keluarga ini bersilaturahim ke keluarga mereka di Turki, atau kakek mereka datang mngunjungi cucu-cucunya yang tinggal di Jerman. Hal ini menunjukkan begitu eratnya peran negara Jerman dan Turki dalam hidup mereka. 



Elwa, 4 tahun.




Uniknya, Ibu Nagis memiliki selera dekorasi rumah yang 100% mirip dengan Ambu (panggilan untuk mama saya). Rumahnya terlihat seperti rumah barbie, unik & imut hehe.










Und.. das sind die Bilder über unser Zückerfest. Wir haben Küchen gebacken und Süßigkeiten gemacht ;) - Ini beberapa foto perayaan Idul Fitri kita. Kita membuat kue dan manisan ;)









Ich liebe dieses Foto <3  lass mich darüber erzählen!
Saya suka sekali dengan foto ini. Izinkan saya bercerita tentangnya.

Ini adalah foto bersama Ibu Nagis dan keluarga Suriah. Ya, mereka adalah pengungsi Suriah yang meninggalkan rumahnya karena keadaan yang memaksa. Setelah melewati perjalanan yang berat, mereka pergi meninggalkan Suriah lewat jalur udara, darat dan laut. Bahkan si kecil Hayat (baju pink) harus berenang di laut lepas selama 7 jam karena boat yang mereka naiki pecah dalam perjalanan :( 

Mereka sampai di Jerman tidak bersama. 5 anaknya terpisah. Tidak tahu menahu kabar satu sama lain. Sampai akhirnya mereka disini. Berkumpul bersama keluarga lengkap mereka, dan keluarga baru dari Turki dan Indonesia. Mereka sekarang tinggal di gedung yang sama dengan keluarga Sevval. Pemerintah Jerman membiayai semua kebutuhan mereka. Biaya sewa rumah, sekolah anak-anaknya dan les bahasa Jerman untuk mereka. 

Mereka orang miskin? bukan, salah besar. Sang ibu adalah guru. Anak-anaknya pun bersekolah sampai jenjang tinggi. Namun takdir Allah menentukan seperti ini, mereka harus meninggalkan semuanya, rumah, pekerjaan, pendidikan. Yang membuat saya malu adalah.. Mereka sangat ikhlas dengan keadaan sulit yang menimpa mereka bertubi-tubi ini. Sama sekali tidak ada kalimat mengeluh yang keluar dari bibir mereka. Dan saya? Sudah berapa kali saya mengeluh bahkan atas hal-hal sepele?

Teman.. jangan lupa selipkan mereka dalam setiap doa kita. Doa untuk saudara Muslim di seluruh dunia. Di Suriah, di Baghdad, Palestina, Indonesia, dan belahan bumi lainnya. Jangan lupa juga untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun!

Eid Mubarak! Allen ein gesegnetes Eid <3





Saturday, April 16, 2016

Home is...

Ada orang bilang ''Home is where your heart is.'' Dan ini yang saya rasakan setelah selesai melakukan praktikum di RS Terpadu Dompet Dhuafa. Tiba-tiba merasa kangen dengan aktivitas dan orang-orang disana. Ibarat sebuah film, disini saya mendapatkan banyak pesan moral dan pesan spiritual islam.




Saya percaya bahwa hidup kita sudah ada yang mengatur. Orang kaya bisa mendadak miskin, begitu juga sebaliknya. Namun saya belum pernah melihat kasus nyatanya sampai suatu hari seorang ibu datang mengeluh dengan penyakit yang dideritanya. Si ibu berpenampilan rapi, bersih dan terlihat seperti orang yang hidup mampu. Sempat heran kenapa ia datang ke rumah sakit yang ditujukan terutama untuk rakyat miskin. Si ibu lalu curhat kepada kami. ''Saya mah neng dulu bisa ngegaji orang.. Buat beresin rumah, buat kerja sama kita. Mobil ada, kemana-mana gampang. Sekarang saya digaji orang, kerja jadi pembantu. Buat berobat kesini aja mikir berkali-kali, karena ongkosnya mahal banget.'' Kalimat si ibu tadi terasa dekat ke hati saya. Merasa diingatkan kembali bahwa hidup itu berdinamika. Juga atas ketetapan-Nya kita wajib menerima dengan ikhlas. 

Di lain waktu, saya mendapat kesempatan untuk bisa berbagi pengalaman ber-islam di Jerman bersama para perawat & staf rumah sakit, juga pasien. Awalnya saya bingung harus bercerita apa ketika saya diminta untuk menjadi pembicara, Saya merasa tidak ada yang berbeda dengan kehidupan yang mereka jalani di Indonesia. Saya mulai saja bercerita tentang banyak hal yang keluar spontan dari otak saya. Tentang mengapa saya memilih Jerman, bagaimana suasana kuliah disana, bagaimana puasa dan solat disana sampai pada cerita bagaimana kami sebagai muslim minoritas di Jerman sangat ingin mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mudah untuk belajar islam. Bahwa kami sampai harus belajar membaca Al-Quran via Skype dengan guru di Indonesia. Kami rela extra pergi naik kereta hanya untuk menghadiri pengajian dan banyak cerita lainnya.. Tak menyangka suatu hal yang biasa menurut kita, bisa jadi sebuah motivasi untuk orang lain. 

Senang sekali ternyata dengan hal kecil, keberadaan saya bisa bermanfaat juga untuk orang lain. Tidak cuma saya yang menerima banyak ilmu di rumah sakit ini. Ah... semoga rumah sakit ini bisa terus membantu kaum dhuafa, seperti tujuan awal rumah sakit ini didirikan. Semoga pemerintah Indonesia dengan-banyak-aturan-baru-nya-di bidang-kesehatan dapat benar-benar memudahkan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan akses kesehatan dengan fasilitas yang baik.




#curhattengahmalam

Wednesday, December 30, 2015

Lukas Menjadi Muslim Berkat Media yang Membenci Islam

[Mohon maaf sebelumnya jika ada pihak yang tersinggung]

Lukas menjadi muslim sejak Februari 2015. Mendapat hidayah dari media-media Jerman. Bahwa media selalu memberitakan hal-hal buruk tentang islam, misalnya pembunuhan, terorisme dsb Lukas mulai mencari tahu apa sebenarnya islam itu.

Ia mulai memesan Al-Quran gratis pada "LIES". l
LIES adalah salah satu organisasi islam di Jerman yang mengenalkan islam pada masyarakat lewat berbagi Quran gratis. Program ini bahkan sudah berkembang sampai ke negara tetangga seperti Inggris, Turki, Belanda, Swedia dan Austria.

Sejak Lukas memulai membaca terjemahan Al-Quran secara perlahan, ia semakin yakin bahwa agama ini lah yang benar. Bukan buatan manusia. Dan pada saat itu Lukas memutuskan untuk berpindah agama menjadi islam.

Lukas pun berpesan pada teman-teman muslim yang tidak pernah melakukan solat, untuk kembali mentaati apa yang Al-Quran tulis sebagai pedoman. Karena hanya itu satu-satunya tuntunan.

Ia juga berpesan untuk teman-teman Jerman yang sudah menjadi Muslim untuk tidak mslu menunjukkan identitas sebagai muslim kepada lingkungan sekitar.

Lewat kata-kata seorang penjahat, aku menjadi Muslim.


[Mohon maaf sebelumnya jika ada pihak yang tersinggung]

Saya hanya ingin berbagi cerita yang ada dalam video ini. Video berbahasa Jerman yang menceritakan jalan cerita seorang Mualaf.

Philip namanya. Ia mulai menjadi muslim sejak 4 tahun yang lalu. Ia dibesarkan dari keluarga kristen. Keberadaan Tuhan ia yakini sejak dulu. Sampai suatu saat ia mendapatkan masalah besar. Masalah itu semakin besar, menjadi semakin rumit tanpa penyelesaian.

Disaat yang sama ia memiliki banyak teman gangster. Juga salah satu penjahat yang seorang muslim. Penjahat muslim ini hanya bisa berbuat onar bahkan solat pun tak pernah. Namun setiap ia bertemu dengan Philip, ia suka menceritakan fakta-fakta mengenai islam. Misalnya bahwa kata-kata dalam Al-Quran tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.

Sampai akhirnya suatu hari Philip memberanikan diri membeli Al Quran terjemahan seharga 15€. Ketika ia mulai membaca, ia merasakan bahwa kalimat-kalimat dalam Al-Quran memang bukan buatan manusia. Sejak itu lah ia mulai membaca Al-Quran, terlebih jika ia mendapatkan masalah.

Sampai pada satu titik ia bertemu dengan dua teman muslim lainnya, mereka adalah muslim yang taat. Ia mendapatkan banyak contoh baik dan akhirnya ia memutuskan untuk menjadi Muslim.


Lalu, dimana kelebihannya?

Untuk teman-teman yang aktif dalam kegiatan agama (re : aktivis dakwah)....

Pernah kah kita merasa senang menjalankan kegiatan dakwah meskipun badan terasa lelah? jawabannya mungkin sering.

Maukah kah kita rela sedikit tidur, untuk mempersiapkan acara besar masjid atau perayaan agama islam lainnya? jawabannya mungkin mau.

Apakah kita bahagia menjalani semuanya? hampir semua aktivis dakwah mungkin menjawab ya.

Lalu..

Pernahkah kita merasa senang jika pergi kuliah meski badan terasa lelah?
Maukah kita rela sedikit tidur untuk mempersiapkan urusan kuliah?
Apakah kita bahagia menjalani semuanya?

Sampai saat ini saya belum menemukan teman mahasiswa yang melakukan aktivitas kuliah se-ikhlas melakukan aktivitas dakwah. (Semoga saya salah..)

Justru disinilah titik dimana Allah akan memberikan pahala lebih banyak (insyaAllah).
Jika melakukan aktivitas dakwah terasa mudah dan menyenangkan, maka melakukan aktivitas kuliah yang sulit dan membosankan menjadikan pahala besar bagi yang bisa menjalankannya.

Apalagi pada kondisi teman-teman yang berada di luar negri, jerman misalnya..

Berkumpul menjalankan aktivitas dakwah jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan pergi kuliah.. mendengarkan dosen dengan bahasa yang tak langsung dimengerti.. Berkomunikasi dengan teman kuliah yang seringkali terbata-bata.. Melakukan praktikum, membuat presentasi dan sebagainya.. Justru disini Allah menghadiahkan pahala lebih bagi yang bisa melewatinya..

Sekali lagi, saya bukannya gegen dengan aktivitas dakwah, justru sebaliknya. Hanya saja jangan sampai para aktivis dakwah maju dengan pendidikannya yang terbengkalai. Semua harus berjalan beriringan.

Semoga kita tidak terlarut dalam aktivitas yang hanya membuat kita nyaman.. Kita akan selalu ingat pada kewajiban kita terhadap orang tua untuk menuntut ilmu. Dan semoga Allah SWT selalu menguatkan & meridhai dalam setiap langkah kita..


"Dikutip dari pesan salah satu kakak saya di Jerman--"



Masjid Indonesia Frankfurt
Ahad, 27.12.2015


Tuesday, November 24, 2015

Salju Penyelamat

Melihat salju yang turun di malam ini, membuat hati sedikit tenang.. Setidaknya semua orang dijalan sibuk dengannya.. Menghindari basah, ataupun jalan yang becek. Tidak ada yg peduli dengan tangisan wanita berjilbab di pinggir jalan tadi. Saljupun seakan-akan menghibur kesedihan wanita itu.

Siapa memangnya yang menangis? Saya. Ya, diri saya sendiri. Sedih dan kesal setelah mendapat teguran seorang tutor, karena saya tidak mau melepaskan baju ketika sedang latihan "körperliche Untersuchung".

Baru dua bulan yang lalu saya mendengar cerita seorang mahasiswi indonesia yang mendapat teguran, bahkan ancaman dikeluarkan dari fakultas kedokteran oleh profesornya, karena ia tidak mau melepaskan hijab dan bajunya di depan teman2 mahasiswa laki-laki di kampusnya.

Dan sekarang kejadian tersebut terjadi pada saya. Alhamdulillah hanya sebuah teguran, bukan ancaman. Saya mengerti bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang normal untuk mereka. Sekedar melepaskan baju, apa sulitnya? Tapi apakah mereka juga bisa mengerti, bahwa jika kita melakukannya, kita merasa ditelanjangkan seluruh tubuh. Juga menelanjangkan prinsip agama kita.

Apakah sangat fatal, jika dari 8 orang mahasiswa, salah satu mahasiswanya tidak mau melepaskan bajunya? Apakah kelas harus bubar? Apakah seluruh ilmu yang diberikan akan jadi sia-sia?

ya Allah.. maafkan kami.. lindungi kami..kuatkan kami..




Gießen, 24.11.2015
sambil-menikmati-tetesan-salju-yang-jatuh

Thursday, October 29, 2015

Berdakwah Melalu Bahasa

So, kann jemand Surah Al-Balad vorlesen?
Jadi siapakah yang bisa membacakan surat Al-Balad?

Inilah pertanyaan yang guru saya lemparkan pada kami hari ini. Semester ini saya memang mencoba menambah kesibukan lagi dengan mengambil kursus bahasa Arab. Awalnya saya mencoba masuk di kelas A1. Karena saya merasa belum bisa banyak mengerti bahasa Arab. 

Hari pertama kelas bahasa arab sudah membuat saya überrascht (terkejut). Kelas ini diisi oleh 30 mahasiswa. Lebih dari kapasitas kelas seharusnya. Sedikit perasaan senang, karena ternyata banyak orang jerman yang tertarik dengan bahasa ini. Setelah sesi perkenalan dimulai, dosen kami menjelaskan seputar bahasa, tradisi dan budaya di negara-negara timur tengah. Ia menjelaskan bahwa saat ini hanya 3 bahasa yang bisa dipastikan tidak akan punah, bahkan akan terus berkembang. Apa saja? yaitu bahasa Inggris, Arab dan China. Mengapa bahasa Arab tidak akan bisa punah? salah satu yang menjaminnya adalah karena Al-Quran. Al-Quran yang diturunkan dengan bahasa Arab dan dibaca oleh umat muslim dari berbagai belahan dunia dengan berlatar belakang berbagai macam bahasa ibu, membuat bahasa arab tidak akan bisa punah.

Dosen saya pun menjelaskan bahwa dunia arab dan islam tidak dapat dipisahkan. Namun banyak orang yang salah mengerti. Misalnya wanita yang dituntut untuk selalu berada di rumah adalah ajaran Islam. Padahal itu adalah tradisi yang memang ada sebelum Islam datang. Setelah Islam datang, Islam mengajarinya namun tradisi ini sayangnya masih melekat. Ada satu cerita ketika salah satu mahasiswa bertanya, mengapa segala sesuatu dimulai dengan sisi kanan seperti menulis, membaca, memegang sesuatu dsb. Lalu dosen saya pun menjelaskan dengan satu cerita ketika Rasulullah memberi tahu seorang anak lelaki yang makan menggunakan tangan kirinya dan juga menyebut satu hadis mengenai itu. Disitu saya ragu. Kenapa ia menjelaskan menggunakan hadis juga? apakah murid-murid ini akan mengerti? Saya merasa kelas ini bukan kelas bahasa arab biasa dimana orang belajar bagaimana bisa berdialog dengan bahasa arab, dan bagaimana orang mengenal budaya arab. Namun kelas ini lebih seperti kelas TPA seperti saya waktu kecil. Kelas mengaji.

Setelah dua kali pertemuan, saya lompat ke kelas level A2. Karena saya merasa di kelas A1 terlalu langsam dan saya bisa mengejarnya di rumah. Di kelas ini ternyata si dosen pun berbicara lebih banyak mengenai islam. Tidak heran, karena dikelas ini mahasiswa muslim adalah dominannya sekitar 90% dari keseluruhan. Lambat laun saya mengerti... Dosen ini ternyata juga seorang muslim dan ia mencoba berdakwah, mengenalkan islam, menjelaskan islam melalu bahasa. Seperti permintaan ia untuk membaca surat Al-Balad, ketika kita sedang memulai tema Negara. (Al-Balad = Negara). Di kelasnya sesekali ia membubuhi beberapa info, pengetahuan tambahan mengenai islam dan ilmu pengetahuan. Seperti misalnya ia menjelaskan ada 3 negara yang disebutkan dalam Al-Quran salah satunya Bahrain. Darimana kata Bahrain berasal? Dari kata Bahr yang berarti Laut. Bahrain berarti dua laut. Al-Quran menyebut kata bahrain untuk menunjukkan ada dua laut yang tidak bisa menyatu yang tercantum salah satunya dalam surat Ar-Rahman. 

Melihat ekspresi mahasiswa non-muslim dan mahasiswa muslim lainnya yang belum mengetahui tentang dua laut yang tak bisa menyatu ini membuat saya menjadi hormat kepada dosen ini. Senang sekali melihat muslim bisa menjadi agen, mengenalkan islam yang sesungguhnya kepada masyarakat luar :) Semoga Allah SWT memberikan Anda pahala yang berlipat ganda.




Gießen, 29.10.2015
sambil-menikmati-dedaunan-yang-berguguran


Berdakwah Melalui Karya

#Repost von https://www.masjid-indonesia.de/reportase-pengajian-bersama-asma-nadia/

Ada yang berbeda di pengajian bulanan Oktober (10/10/15). Bersamaan dengan adanya Frankfurter Buchmesse juga datang para penulis buku dari Indonesia yaitu Asma Nadia dan Dian Pelangi. Pada kesempatan itu, ada semangat baru yang ditanamkan oleh kedua pembicara. Bahwa setiap dari kita seharusnya menulis atau merekam setiap hikmah atau kejadian yang kita alami. Menurut Asma, menulis adalah menyampaikan hal yang juga merupakan upaya untuk melipatgandakan amalan kecil yang kita punya.
Dalam menulis buku ada beberapa tantangan yang akan dihadapi. Adapun tantangan yang akan ditemui seperti  bagaimana agar buku mampu menembus rumah produksi, dan setelah itu mempromosikannya. Beberapa buku  dari Asma sudah diangkat ke layar lebar dan ada juga yang dibuat sinetron. Lewat karyanya ada dakwah yang disisipkan. Nilai-nilai moral dari karyanya pun dijaga hingga tidak melewati ketentuan syariat islam, baik dalam proses pembuatan film itu dan penyiarannya.
Saat menulis terkadang ada momen ketika si penulis kehabisan ide di tengah-tengah tulisan, hingga menjadi sulit untuk menyelesaikannya. Lalu kapankah waktu terbaik untuk menulis?, “ menulis seharusnya bisa dimana saja dan kapan saja. Sama seperti belajar, masing-masing pribadi mempunyai waktu dan keadaan tertentu yang membuatnya mampu fokus semaksimal mungkin,“ ujar Asma.
Selain itu Asma juga berbagi tips bagaimana untuk konsisten dalam menulis. Contohnya, mengembangkan kata dengan memperbanyak pustaka, mengembangkan ide dan menyelesaikan sebuah cerita harus dengan alasan atau “why” yang kuat, dan melakukan riset untuk data dalam cerita harus selengkap mungkin.
Pesan khusus dari Asma Nadia,“ orang yang alim, yang cerdas, atau yang bijaksana harus menulis buku. Karena dengan buku itu kebaikannya akan terus mengalir ke banyak sosok lain. Meski si penulis sudah meninggal, pahala kebaikannya lewat karya itu akan terus mengalir.“ (/AH&BM)