Pages

Showing posts with label Kedokteran. Show all posts
Showing posts with label Kedokteran. Show all posts

Wednesday, May 24, 2017

Nikmat & Syukur (1) - Kejangan


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Kalimat ini mungkin sangat familiar dikalangan anak muda, terutama yang beragama islam. Biasa dikutip dalam tulisan, wadah diskusi atau sekedar sebagai caption foto makanan di media sosial :D Di balik itu semua, kalimat ini ternyata adalah firman Allah SWT yang tercantum dalam surat Ar-Rahman. Jika kita membaca artinya saja, tanpa mempelajari tafsirnya, mentadaburinya, sudah jelas dalam surat tersebut tercantum contoh nikmat-nikmat yang telah Sang Pencipta berikan, baik kita pernah sadari atau tidak, pernah mensyukurinya atau tidak.

Tema ‚Nikmat‘ dan ‚Syukur‘ ini akhirnya memberikan saya ilham untuk menulis lagi J Dengan tema yang khusus yaitu mengenai nikmat sehat. Tujuannya sederhana, agar kita (terutama saya pribadi) bisa lebih menyadari dan mensyukuri segala hal sekecil apapun yang sudah Allah SWT berikan, terlebih dari sisi kehidupan orang lain yang saya pelajari selama menjadi mahasiswa kedokteran.

Bahasan kali ini mengenai Krampfanfall - Seizure - atau Kejangan (sering juga dikenal sebagai epilepsi, ayan) dalam bahasa indonesia. Jika melihat orang yang tiba-tiba mengalami kejang di tempat umum, pada umumnya orang akan menyangka bahwa orang yang kejang tersebut dalam kondisi sakaratul maut. Tubuh yang kejang, badan yang seketika kaku, bola mata yang mengarah ke atas, mulut berbusa dan banyak contoh lainnya. Namun dalam hitungan detik atau menit bisa sadar kembali seperti kondisi awal. Kejangan terjadi akibat reaksi syaraf pusat yang berlebihan secara spontan. Serangan ini dapat bersifat umum atau juga lokal, hanya menyerang bagian-bagian syaraf pusat tertentu saja. 

Masih ingatkah kita tentang cerita seorang wanita teladan di zaman Rasulullah SAW yang teguh menjaga auratnya?  

Dikisahkan oleh Atha’ ibn Abu Rabah, beliau menuturkan : “Ibnu Abbas r.a berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan padamu salah seorang wanita penghuni syurga? ‘Aku menjawab, ‘Ya, tentu saja.” Lalu ia berkata, ‘Dialah wanita berkulit hitam yang pernah menemui Rasulullah SAW dan berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku terbuka karenanya. Karena itu mohonkanlah kepada Allah untuk kesembuhanku.

Rasulullah SAW menjawab, “Bila engkau sanggup, aku sarankan untuk bersabar menjalaninya, karena itu akan berbalas syurga. Namun bila engkau tetap menghendaki kesembuhan itu, aku akan mendoakan agar Allah menyembuhkan-mu.”. Maka wanita itu berkata, “Sebenarnya aku memilih untuk bersabar, tetapi auratku sering tersingkap karenanya. Karena itu doakanlah agar aku tidak seperti itu lagi (terbuka auratnya).” Lantas beliau pun mendoakannya.”

Terlepas dari hikmah cerita diatas mengenai kesabaran dan ketabahan yang dimiliki wanita tersebut, perlu kita sadari bahwa serangan kejangan ini tidak dapat dikontrol oleh penderitanya. Pernah kah terpikir, bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada diri kita? Bukan keinginan kita, dengan sekejap terbuka auratnya di tempat umum dan dilihat oleh banyak pasang mata.

Cerita lainnya mengenai seorang wanita yang mendapat serangan kejangan ketika sedang memasak di dapur. Wanita tersebut kehilangan fungsi motoriknya dalam beberapa detik dan dengan spontan menjatuhkan wajahnya ke dalam panci mendidih yang sedang ia masak. Keluarganya pun langsung membawanya ke rumah sakit akibat luka mendidih yang mengenai wajahnya.

Jika kejangan ini mengenai syaraf pusat penglihatan di bagian okzipital, orang akan mengalami kesulitan melihat, banyak cahaya dan blitz sekaligus yang datang pada matanya. Bagaimana jika ini terjadi ketika sedang bekerja? Orang juga bisa mendadak berbicara gagap, berbicara tanpa artikulasi yang benar jika kejangan menyerang bagian pusat bicara. Bayangkan jika hal ini terjadi ketika sedang wawancara melamar pekerjaan? Bisa merasa tiba-tiba kesemutan atau tertusuk dengan intensitas yang tinggi, rasa panas atau dingin pada tubuh yang berlebihan, jika kejangan ini menyerang bagian sensibilitas pada syaraf pusat. Atau bahkan jika menyerang bagian pusat ingatan - Hippocampus -, pasien bisa berlaku aneh dan bercerita sesuatu hal seakan pernah dialaminya, yang pada kenyataannya tidak pernah terjadi sama sekali.

Bayangkan rasanya menjadi orang-orang yang menderita penyakit ini. Mereka mungkin tidak dapat hidup tenang. Diliputi rasa takut yang besar karena tidak bisa memprediksi kapan kejangan itu akan datang. Di Jerman, orang dengan risiko tinggi kejangan seperti ini dilarang menyetir mobil, mungkin juga tidak bisa mendapatkan SIM selama risiko munculnya serangan tersebut masih tinggi. Mereka juga tidak boleh melakukan aktivitas berenang, untuk mencegah risiko tenggelam jika kejangan menyerang saat berenang.

Dan sekarang bayangkan nikmat apa yang sudah kita miliki.. Bayangkan hidup yang kita jalani sampai detik ini, aktivitas yang dilakukan sampai hari ini, apakah sangat terbatas dan dihantui rasa takut terhadap sesuatu? Apakah kita bisa mengontrol semua tindakan kita, gerakan tubuh kita, seperti yang kita inginkan? Tanpa perlu memikirkan berjuta kenikmatan lainnya yang sudah Allah SWT karuniakan kepada kita, sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang kita miliki dan bersyukur tidak mengalami hal-hal seperti yang dialami saudara-saudara kita, para penderita penyakit tersebut?


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 7)


Gießen, 28. Syaban 1438
sambil-menunggu-datangnya-bulan-suci-Ramadhan

Thursday, February 9, 2017

Lupa (Daftar) Ujian?

''Syif.. hasil ujian Dermataologie udah keluar ya?''

''Iya.. lo lulus ga?''

''Hehe..... gue dapet email dari Dekanat, karena lupa daftar ujian. Jadi ujian gue yang ditulis kemaren ga keitung.''

''Laaahhh.. kebiasan deh!! dateng lah ke Dekanat, mohon-mohon biar diitung, jadi lo gausah nulis ulang.''

''Biarin aja lah... tinggal nulis ulang, ga masalah.''

*lalu saya bengong ko bisa-bisa nya dia santai begitu*


---------------------------------------------------------



''Gue pasrah aja deh sama ujian yang sekarang, gue ga sempet belajar farmakologi sama sekali. Gue salah liat tanggal sih,  dikira ujiannya baru hari Jumat.''



---------------------------------------------------------



''Syifa ambil semua ujian semester ini?''

''Iya, ambil aja lah. Semoga lulus semua, kan enak jadi liburan ga usah belajar sama sekali. Tinggal fokus bikin makalah sama praktikum.''

''Gue juga pengennya gitu.. tapi gue lupa daftar ujian Ortopedi, mana pendaftarannya udah tutup lagi.''

''Hmmm.. tapi ga lupa daftar ujian Chirurgi kan? ujiannya senin ini, lebih dulu dari Ortopedi.''

''Hah yg bener???!!! Kalo gitu gue kelewatan dua ujian dong!!!''

''Emangnya kenapa ga dari awal daftarin aja semua ujian.. kalo ga siap, tinggal batalin lagi.''

''Ga mau... takut lupa batalin, terus gue nulis tanpa persiapan lagi.''

''Ya kalo sekarang jadinya, udah persiapan tapi ga bisa nulis karena belum daftar kan?!''



---------------------------------------------------------


Lupa (daftar) ujian.

Cerita diatas cuma sepenggal dialog antara saya dengan tiga teman yang berbeda. Kenapa saya pengen bahas tema ini? Pertama, karena saya suntuk entah kenapa belajar ga bisa konsentrasi. Jadi yaa nulis aja hehe. Kedua, karena salah satu dialog baru terjadi tadi pagi sebelum kita ujian farmakologi. Ketiga, karena ini passiert immer wieder.

Menurut saya, lupa (daftar) ujian itu adalah kecerobohan yang amat sangat fatal. Gimana ga fatal, udah belajar tapi ga bisa nulis ujian. Emang sih kita belajar bukan hanya untuk ujian, melainkan juga untuk di dunia kerja nanti. Cuma kan tetep aja. Untuk kuliah kedokteran (mungkin juga jurusan lain) kita perlu mengulang-ulang terus tema yang akan diujikan biar nanti pas nulis ga ngeblank. Lagipula efeknya bisa berkepanjangan.. Kalo lupa daftarnya banyak, otomatis ujian yang harus digeser ke Termin berikutnya semakin banyak. Sementara kita bakal masuk ke semester baru. Ga jarang ada temen yang jadinya kewalahan saking numpuknya utang ujian. Akhirnya ambil jalan lain yaitu mundur satu atau dua semester. 

Sayang banget kan? Apalagi kita sebagai mahasiswa asing, yang selalu ditagih sama Ausländerbehörde - Kapan Anda lulus?! - bakal terus dikontrol kuliahnya sama mereka. Belum lagi buat kita-kita yang kuliah sambil kerja. Kalo harus mundur beberapa semester, berarti banting tulang kuliah sambil kerjanya harus diperpanjang lagi waktunya. Lebih lama lagi. Masih kuat?

Nah.. ayo deh kita coba minimalisir kecerobohan kecil yang bisa berakibat besar, seperti yang saya singgung ini. Caranya gimana? Kalo saya pribadi cuma punya satu solusi, yaitu atur Plan dengan baik.


1. Buku Agenda

Orang Jerman itu terkenal sangat terencana. Mau ajak main juga harus bikin janji dulu. Sebagian besar yang saya temui juga pasti punya buku agenda tahunan masing-masing seperti di gambar ini. Buku agendanya juga bentuknya bermacam. Dari yang ukuran normal sampai yang pas masuk saku dan gampang dibawa kemana-mana. 

Saya pernah peinlich banget, ketika lagi kumpul dengan teman-teman mahasiswa. Kita kumpul untuk bagi jadwal kerja selama satu bulan kedepan. Semuanya sudah siap mencatat waktu kerja masing-masing dalam agenda cantiknya, dan saya sibuk menyobek kertas dari buku kuliah saya karena dulu ga punya buku agenda seperti itu :'')

Nah, bisa nih kita coba tulis waktu-waktu penting di agenda ini. Misalnya jadwal ujian semester, kapan terakhir daftar ujian, kapan paling lambat bayar semesteran, kapan harus perpanjang buku perpus. Sampe rencana-rencana kecil misalnya ''Selasa janji buatin bakso'' atau apalah hehe.


2. Mobile Text Reminders







Wie es funktioniert, sag das Gerät selber. Udah pada tau lah ya gimana pakenya.. :D















3. Basteln Agenda Sendiri 




Kalo yang ini cara paling konvensional yang saya gunain. Maaf ada bebeknya di foto hehe. Es hat mir aber wirklich geholfen. Saya paling suka cara ini, karena saya jadi punya Übersicht atau bayangan di semester tersebut saya mau gimana, mau belajar santai atau belajar serius, mau ambil kerja parttime atau harus fokus belajar. Maksudnya gimana? Jadi misalnya saya bikin agenda untuk semester ini, dari Oktober 2016 sampai Februari 2017. Lalu saya tandai sejak awal waktu-waktu ujian saya. Terus diliat,  ''Oh ternyata di Februari cuma punya satu minggu free, setelahnya harus berjuang untuk ujian 7 mata pelajaran. Jadi kurang lebih dari awal Desember 2016 udah mulai belajar. Pertengahan Januari 2017 udah harus selesai semua materi, jadi di 2 minggu sisanya tinggal mengulang.''


Yang bikin makin ''mantap'' adalah, saya tempel jadwal ini di depan meja belajar. Jadi ya otomatis diliat terus tiap hari. Jadi kemungkinannya sedikiiiiit banget untuk bisa lupa daftar ujian, lupa kapan ujian, bayar tagihan ini itu dsb. Akan ngebantu banget buat proses persiapan ujian juga, jadinya am Ende ga harus SKS (Sistem Kebut Semalam.) Hitung-hitung belajar biar ga men-dzalimi tubuh sendiri juga, karena ga harus memforsis belajar hehe :)


Segitu dulu mungkin ya ide-ide dari saya untuk meminimalisir kecerobohan kita di dunia-mahasiswa-dalam-mempersiapkan-ujian. Sekalian jadi belajar juga untuk menjaga waktu, biar punya karakter Harishun 'ala Waqtihi (pandai menjaga waktu) dalam diri kita. Meskipun agak telat ya kayaknya, karena sebagian besar udah mulai liburan semester. Semoga tetap bermanfaat dan mohon doanya untuk kelancaran 6 ujian saya yang akan datang ;) Wassalamu'alaikum!






Gießen, 12 Jumadil Awal 1438
Jumuah Mubarak and have a wonderful day insyaAllah!



Sunday, December 4, 2016

Kekuatan Doa - Ujian EKG

http://s.ndimg.de/image_gallery/new_netdoktor/43/ekg-593_id_87885_353843.jpg

''Kommt schnell! Ihr müsst euch beeilen, ihr seid ja schon zu spät!'' - ''Ayo cepet.. kalian harus cepet, kalian tuh udah telat!'', sahut seorang Tutor yang saya tidak tahu namanya.

Saya hanya bisa panik sembari berjalan cepat menaiki tangga ke lantai 4 Uni Klinik tempat saya ujian. Dalam hati bingung, seharusnya para tutor sudah tau kalau saya dan Jonas akan telat datang ujian karena kami sebelumnya ada Seminar Ethik.

Sampailah kami di ruangan dokter stase Kardiologi. Dokter yang lain sedang sibuk membahas pasien. Saya dan Jonas hanya terdiam sambil mengamati sekitar.

''Zieht euch euer Kittel an und danach gehen wir direkt zu den Patienten'' - ''Cepat kenakan jas kalian lalu kita pergi ke pasien kita'', kata Mas Tutor itu dengan gaya paniknya.

Saya pun menyahut dengan suara bersalah, ''Sorry.. ich habs nicht dabei.'' - ''Maaf.. saya ga bawa.''

Mas Tutor itu langsung menampakkan wajah bt nya. Dan menggerutu kenapa saya bisa tidak membawa jas dokter. Saya pun membela diri, beralasan bahwa tidak ada informasi sebelumnya. Sampai akhirnya datang mahasiswa Koas berpakaian seragam biru dan mengajak saya langsung ke kamar pasien. 

''Alles gut.. tenang aja.'', kata orang itu sambil meminjamkan jas nya kepada saya. Selama perjalanan menuju kamar pasien, saya hanya bisa melantunkan doa dalam hati.

اللهُمَّ لا سَهْلَ إلا مَا جَعَلتَهُ سَهْلا وَ أنتَ تَجْعَلُ الحزْنَ إذا شِئْتَ سَهْلا
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Saya ulangi doa itu terus menerus. Ya iyalah gimana ga panik. Mau ujian lisan depan Oberarzt (dokter spesialis), datang ujian telat, lalu kena semprot tutor lagi. Udah semua lengkap bikin hormon adrenalin dan cortison naik.

Masuk ke ruangan pasien, saya diminta langsung berkenalan dengan pasien tersebut dan melakukan anamnesa. Sebelum memulai, berharap Allah SWT memudahkan lidah saya untuk mengeluarkan bahasa Jerman yang dimengerti sama pasiennya :''

''Hallo Herr Schäfer, Lestari ist mein Name, die Studentin an der Uni.'' - ''Hallo Tuan Schäfer, nama saya Syifa, mahasiswi dari Uni.'', ujar saya membuka percakapan. Ternyata percakapan pun berjalan mengalir begitu saja. Tuan Schäfer sangat ramah, saya kira beliau akan malas bercerita melihat kondisinya yang sangat lemah, berbaring di tempat tidur dengan penuh kabel pada tubuhnya yang terpasang ke monitor. Dari percakapan, saya berharap Tuan Schäfer memberi bocoran pada saya penyakit yang ia miliki. Setidaknya itu memudahkan saya dan menyingkat waktu yang saya butuhkan untuk mendiagnosa EKG nya nanti. Sayangnya harapan hanya harapan, menghilang ke udara bagaikan kepulan asap dari otot yang di-setrum pada saat operasi :D Saya pun meminta izin untuk membuka baju bagian atasnya, agar saya dapat memasang elektroda-elektroda EKG pada bagian dadanya. 

Elektroda EKG sudah dipasang, muncul masalah baru. Saya bingung pake alat EKG nya, karena berbeda dari alat EKG yang pernah saya gunakan ketika pratikum di rumah sakit lain. Panik lagi :( , tangan mulai gemetar. Kesal dalam keadaan seperti ini kenapa sulit menenangkan diri. Alhamdulillah, lewat mahasiswa Koas itu Allah memberikan bantuan lagi. Dia membantu menunjukkan cara menggunakan alat tersebut, dan akhirnya alat tersebut mulai membaca aktivitas jantung Tuan Schäfer.

Setelah selesai, seharusnya saya melanjutkan anamnesa dengan Tuan Schäfer. Tapi Mas Tutor yang panik itu menjemput saya dan mengajak langsung ke ruang ujian.

''Syifa maaf, saya hektik sekali. Karena para dokter itu memajukan jam ujian. Kamu dan Jonas yang harusnya telat hanya sebentar. jadi tertinggal banyak. Sejujurnya kamu ga ada waktu lagi buat menilai hasil EKG yang kamu punya. Tapi saya jadikan kamu urutan nomor ujian terakhir. Agar kamu masih punya waktu untuk menilai dan mendiagnosa penyakit dari EKG yang kamu punya.''

Mendengar kalimat itu otak saya terasa berhenti berpikir. ''Yaudah lah.. emang jalannya begini..'' ujar saya dalam hati berusaha menenangkan diri, sambil terus mengulang doa mujarab saya jika sedang ujian. Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah. 

Saya lalu masuk ke ruangan ujian yang sudah dipenuhi oleh 15 mahasiswa lainnya. Ada yang masih sibuk menilai EKG yang dipunya, mengambil penggaris, mengukur jarak setiap cm yang ada dalam EKG dengan jangka dan sebagainya. Adapula yang sudah duduk santai sambil memainkan hp. Tidak memiliki banyak waktu, saya langsung duduk dan membentangkan kertas EKG yang saya miliki dan mulai mengamati setiap kurva yang tertulis. Saya senyum-senyum sendiri. Hehe.. dapat yang mudah alhamdulillah. Tanpa mengamati dengan jelas, mengukur frekuensi, melihat Lagetyp, dan bentuk dari setiap gelombang dalam kertas tersebut saya sudah bisa menebak dan mendiagnosa penyakitnya. 

Ketika Oberarzt, dokter penguji datang, Mas Tutor segera menghampiri saya sambil berkata, ''Keine Sorge, du bist die Letzte.'' - ''Jangan khawatir, kamu terakhir kok''. Saya pun melempar senyum tenang dan berkata, ''Egal.. ich bin sowieso fertig.'' - ''Terserah.. toh saya sudah selesai.''

Sampai giliran saya tiba. Dokter penguji mengambil kursi sebelah saya, dan saya ulangi doa dalam hati agar Allah memudahkan lidah saya mengucapkan bahasa Jerman dengan baik. Kali ini, saya sudah mulai tenang.

''Ja, das ist EKG von Herrn Schäfer.. 87 Jahre Alt. Ein Sinusrhytmus mit der Frequenz 45, also Sinusbradykard. RR-Abstand regelmäßig, die P-Welle sind normwertig. PQ-Zeit ist verbreitet um die 250 ms .............................................................dst........dst....... ja, er hat AV-Block I.Grad und bifaszikulärer Block.'', saya menjelaskan tentang EKG yang saya miliki.

''Super.. Sehr gut! Super eklärt'' - ''Super.. bagus. Penjelasan yang bagus.'' sahut dokter penguji itu dengan singkat sambil pergi menuju ke mahasiswa lainnya. 

Saya pun hanya dapat berkata dalam hati, Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Memang salah satu kekuatan terbesar seorang muslim adalah Doa. Tidak ada yang dapat menghalangi semua kehendak-Nya. Sepanik dan sesulit apapun ''Ujian'' itu :D Allah SWT pun sangat senang mendengar hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Hari itu, saya pulang dengan perasaan senang..







Gießen, 5 Rabiul Akhir 1438
Menulis-disela-lelah-belajar-persiapan-ujian-esok-

Wednesday, April 27, 2016

Depresi & Hubungan Cinta

Hari Rabu adalah jadwal Praktikum Psychosomatik para mahasiswa kedokteran Semester 7 Uni Gießen. Kali ini kita kedatangan pasien pria yang sudah dirawat 6 minggu lama nya di Uni Klinikum Gießen. Sekedar info, Ilmu Psychosomatik adalah ilmu yang menghubungkan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memiliki peranan penting terhadap muncul dan berkembangnya rasa sakit pada tubuh. 

Saya ambil contoh ada seorang pasien yang mengalami keluhan sakit pada pergelangan tangannya. Dokter Orthopädie mendiagnosa pasien ini memiliki Karpal-Tunnel-Syndrom atau istilah awamnya saraf kejepit pada pergelangan tangan. Hasil foto mendukung diagnosa ini, dan pasien pun di operasi. Namun setela operasi sakitnya malah bertambah. Menjalar sampai ke bahu. Bahkan setelah beberapa minggu, sakitnya sampai menyerang punggung. Diagnosa para dokter tidak ada yang bermasalah pada organ tubuhnya, punggung, daerah bahu dan tangan semua normal. Namun pasien tetap mengeluh kesakitan, bahkan tangannya tidak bisa ia gerakkan sedikitpun. Setelah beberapa kali kunjungan dokter, pasien pun pergi ke ahli psikosomatik. Setelah melalui anamnesa dan pemeriksaan lanjutan, diketahuilah bahwa sakit berlebihan yang menyerang tangan dan punggungnya berasal dari keadaan psikis si pasien. Sebenarnya semua baik-baik saja. Karpal-Tunnel-Syndrom pun sudah ditangani. Tapi sakit itu datang terus menerus dari stress yang ia miliki dan keadaan depresi terhadap masalah yang terjadi di kantornya. Hal ini membuat tubuh terasa sakit dan seakan-akan datang murni dari organ tubuh yang bermasalah.

Kembali ke Praktikum Psychosomatik hari ini. Pasien pria kami berusia sekitar 20-an. Dengan asiknya ia masuk ke ruangan praktikum kami sambil menggunakan Headphone dan menyapa kami dengan gaya khas anak muda, ''Hallo zusammen.. Moin!''.

Setelah mengambil tempat duduk dan melepaskan Headphone dari kepalanya, anak muda ini pun memulai cerita tentang penyakitnya. 

''Ya.. saya seorang pelajar. Saya menkonsumsi Marijuana setiap hari karena saya merasa depresi. Lalu pada suatu hari saya merasa di titik akhir, dimana tubuh dan otak saya tidak lagi bisa bersahabat. Sampai akhirnya saya memberanikan diri datang ke Psikiater, dan disinilah saya. Dirawat sampai hari ini. Sudah 6 Minggu lamanya.Saya di diagnosa memiliki penyakit Psikomatik tingkat tengah''

 ''Saya tidak menyangka penyakit saya separah itu. Awalnya saya mengira hanya depresi biasa. Saya merasa depresi sudah sejak 3 tahun terakhir ini. Dan sudah setahun terakhir ini saya merasa muak dengan kehidupan ini. Tidak ada lagi orang yang bisa saya percaya. Saya merasa teman-teman saya hanya memanfaatkan saya untuk bahan tertawa. Dunia terasa menjijikan, tidak ada gunanya saya hidup lagi.''

''Depresi ini berawal 3 tahun lalu. Ketika saya memiliki sahabat perempuan. Saya dekat sekali dengannya. Kami tidak pernah bertengkar, kami selalu kompak. Kami saling mengerti, dan perempuan ini lah satu-satu nya orang yang saya percaya. Lebih dari keluarga saya sendiri. Sampai suatu hari saya berkenalan dengan seorang gadis. Saya sangat menyayanginya dan sahabat saya pun sangat mengerti pacar saya. Saya memutuskan untuk tinggal bersama pacar saya di sebuah rumah. Ketika perasaan saya sedang memuncak, sangat mencintai pacar saya. Saya mengetahui bahwa pacar saya memiliki hubungan khusus dengan sahabat saya ini. Ternyata mereka berdua adalah lesbian dan menjalin hubungan di belakang saya. Perasaan dikhianati oleh sahabat dan pacar sendiri membuat saya benar-benar jatuh. Saya mulai menghisap marijuana. Saya tidak pernah lagi pergi kuliah. Saya tidur seharian. Hingga pikiran-pikiran jahat muncul dalam pikiran saya. Ketika saya di Bus saya merasa semua orang memperhatikan saya dan ingin mencekam saya. Saya tidak pernah merasakan tenang dan berpikir saya mengidap penyakit parah. Sampai akhirnya saya pun mendarat di rumah sakit ini.''

Menyimak berita pasien itu menimbulkan banyak pertanyaan di kepala saya. Depresi akan cinta? Terhadap hubungan homoseksual? Bagaimana hubungan pasien ini dengan orangtuanya? Apakah dia percaya terhadap eksistensi Tuhan? 

Cerita seperti ini, putus asa akan cinta monyet juga sering terjadi di Indonesia. Dimana sebagian besar rakyatnya mengimani adanya Tuhan. Entah benar mengimani atau hanya mengaku-ngaku saja. 
Ada yang beritanya sampai bunuh diri, membunuh sang kekasih, atau membunuh si mantan dengan pacar barunya. Apakah sekarang tubuh dan nyawa manusia semurah ini harganya? Menyakiti dan membunuh semudahnya? Merusakkan diri dan jiwa seenaknya?


#tanyasendiri



Gießen, 27.04.2016

Friday, April 8, 2016

Famulatur in der Heimat, Indonesien


 

Ich war am Anfang meiner Famulatur in der Heimat nicht sehr begeistert. Schon vor 6 Monaten bewarb ich mich an einem privaten Krankenhaus für die Famulatur. Da es in Indonesien nicht üblig ist, dass Medizinstudenten vor der PJ-Zeit schon im Krankenhaus  ihr Praktikum absolvieren, habe ich in den Bewerbungsunterlagen eine Liste über meine Tätigkeiten angegeben. Diese Liste diente zur Orientierung für das Personal, um die benötigten Informationen während der Famulatur zu erläutern. Dazu gehörten z.B Patienten anamnese, Katether anlegen, Blut abnehmen, intubieren, Verband wechseln, EKG anlegen und Operation assistieren usw.

Am 1. Tag meiner Famulatur wurde mir vom Leiter nur erlaubt zu beobachten. Die  Patienten-anamnese darf nur mit Begleitung der Krankenpflege durchgeführt werden. Invasive Maβnahmen durfte ich kaum. Da es  ein privates Krankenhaus ist, wo Patienten privat bezahlen müssen und es sich meistens um angesehene Patienten handelt, möchte das Krankenhaus nicht die Patienten von noch-nicht-examinierte medizinischem Personal untersuchen lassen. 

Ich konnte dort leider nicht ein Monat lang ohne praktische Aktivitäten bleiben, weshalb ich direkt ein anderes Krankenhaus kontaktiert habe. Das zweite Krankenhaus, was ich gefunden hatte war das RS Dompet Dhuafa Hospital. Auch dies ist ein privates Krankenhaus, jedoch dient es für die ärmere Bevölkerung. Mein Pflegepraktikum im Jahr 2013 hatte ich ebenfalls hier absolviert.

Das Gesundheitssystem in Indonesien ist anders als in Deutschland. Die Patienten müssen die Behandlungskosten selbst zahlen. Eine geringe oder ausführliche Behandlung ist abhängig vom Patienten, ob sie viel Geld haben oder nicht. Die Gesundheit wird hier auch oft als Business-marketing missbraucht. Kein Wunder, wenn die Behandlungskosten unterschiedlich teuer sind und die ärmere Bevölkerung nicht d ie Möglichkeit für eine  ausführliche medizinische Versorgung besitzt.

Seit 2014 wurde jedoch ein neues System eingeführt. Das neue Versicherungssystem heiβt BPJS, verpflichtet die Pflicht für Beamte, Armee und Polizei. Die normale Bevölkerung sollten auch die Versicherung haben. Das neue Versicherungssystem wird aber noch diskutiert, viele Pro und Kontra dazu. Viele indonesische Bevölkerung sind damit unzufrieden. Das Problem ist, BPJS gibt die Krankenhäuser sehr niedrige Versorgungskosten. Dadurch geben viele Krankenhäuser schlechte Behandlung zu ihren Patienten. Ich nehme ein Beispiel. Ein Patient mit totalem Verschluβ der Herzkranzgefäβe kommt ins Krankenhaus. Er sollte mit Fibrinolitik wie Alteplase behandelt werden. Alteplase 100mg kostet ungefähr 7,6 Million Rupiah. BPJS gibt dem Krankenhaus für diesen Fall nur zwischen 3 - 6 Million Rupiah pro Patient. Also nur r ein Medikament kann BPJS sogar nicht abdecken. 

Indonesien ist ein tropisches Land. Die Zahl der Infektionskrankheiten sind besonders hoch. Noch überraschend ist, dass die Zahl nicht infizierte Krankheiten noch höher mit dem Anteil 59,5% in 2007. Die erste häufigste Ursache ist Schalganfall, gefolgt mit Hipertention, Diabetes, und Karzinom.

Wie schon beschrieben, dass die ärmere Bevölkerung fast keine Chanche medizinische Versorgung erreichen. Das Dompet Dhuafa Hospital gibt ihnen die Gelegenheiten dafür. Die Finanzierung des Krankenhauses wird durch spenden gewährleistet und eine maximale Qualität der Behandlung wird erreicht.

Dompet Dhuafa Hospital ist ein Krankenhaus Typ D. Das heiβt, das Krankenhaus kann Patienten nur allgemeinen Service geben. Wie z.B Patienten mit allgemeinem Beschwerden. Nicht alle Fachärzte sind in Dompet Dhuafa Hospital verfügbar. Es gibt nur Internisten, Neurologe, Gynäkologe, Pulmonologe  und Chirurge. Hier gibt es keinen Service wie z.B CT oder MRT Diagnostik, keine Herzspezialisten, HNO- oder Augenarzt. Die Patienten müssen dann zu anderem Krankenhaus (Typ C, B oder A) überwiesen werden. Im Gegensatz dazu haben Krankenhäuser mit Typ A Vollaustattung. Alle Arztspezialisten und Subspezialisten sind in Krankenhäuser Typ A verfügbar. Krankenhäuser Typ A legen als zentrale Krankenhauser (Top Referral Hospital) fest.

Ich habe hier in der Notaufnahme von 8 Uhr bis um 17 Uhr famuliert. Das Personal der Notaufnahme besteht aus einem Arzt (allgemein Arzt) und 3 Krankenpfleger. Im März ist die Regenzeit und die Häufigkeit an Denguefieber zu erkranken steigt almählich, da viele Orte voll mit Wasser sind und ist einer der optimalsten Orte für die Vermehrung von Krankheitserregern z.B Aedes Aegepty Mücke. Indonesien ist auch das 2. Häufigste Land mit Denguefieber-Erkrankung, was nach Brasilien, im Durchschnitt 1.125 Todesfälle zwischen 2009-2011 besitzt. Fast jeden Tag kommen neue Patienten, insbesondere Kinder zur Notaufnahme mit hohem Fieber was mehrere Tage hält. Wenn beim Patienten nach der körperlichen Untersuchung Denguefieber noch in Frage stand, wurde eine Blutuntersuchung durchgeführt. Hierbei ist die Thrombozytenzahl entscheidend.

Patienten kamen zur Notaufnahme mit unterschiedlichem Beschwerden. Meine tägliche Aufgabe war es zum Beispiel Blut abnehmen, Infusion geben oder Katether anlegen. Bei Patienten die noch Kinder waren hatte ich jedoch Schwierigkeiten. Ich hatte die Gelegenheit 3 Mal bei unbewussten Patienten eine Magensonde einzulegen, was leider nicht geklappt hat, da die Sonde immer zur Lunge ging.

Während meiner Famulatur gab es drei Fälle, wo sich Studenten miteinander gestritten haben. Sie kamen zur Notaufnahme mit offenen Verletzungen, da sie sich gegenseitig mit Messer oder Steine abgeworfen hatten. Solche Fälle sind in einigen Städten üblich. Der Grund des Streites ist jedoch meistens für unnötige Probleme z.B Frauen oder Beleidigung. Die Ärzte und Krankenpfleger gaben mir die Verantwortung, mich um diese Patienten zu kümmern. Ich führte eine Anamnese durch und behandelte  die Verletzungen sorgfältig. Die Wunden wurden erstmal mit NaCl gesäubert. Anschließend wurde mit Lidocain betäubt und die Schichten der Wunde wieder verschlossen. Praktisch die Lerntechnik vom Zusammennähen der Muskulatur, der Fettschicht und der Haut  war für mich sehr interessant.

Wie schon erwähnt wurde, ist dieses Krankenhaus speziell  für die ärmere Bevölkerung, wobei die meisten davon nicht zur Schule gehen oder nur eine niedrige Schulbildung besitzen. Deshalb haben wir Probleme dabei, die Patienten bzw. die Familien über das Vorgehen aufzuklären sowie die Diagnose zu erklären. Auch war ein Patient mit Rückenbeschwerden in der Notaufnahme, was an einem Bandscheibevorfall lag. Dieser wurde zu einem anderem Krankenhaus überwiesen, um dort weitere Diagnostik und Behandlung durchzuführen. Nach einer Woche kam er wieder zu uns und wollte nur im Dompet Dhuafa Hospital behandelt werden, da er der Meinung war dass die Krankenpfleger im anderem Krankenhaus nicht so freundlich wären wie hier. Wir haben versucht, ihm und seiner Familie zu erklären, dass hier keine weitere Diganostik durchgeführt werden kann und er somit nicht weiter untersucht werden kann. Leider wollten sie dies nicht akzeptieren.

Aufgrund hoher Behandlungskosten vermeiden die arme Leute den Arztbesuch, wenn sie gesundheitliche Probleme haben. Sie kommen erst,  wenn das Schmerzen nicht mehr gelindert werden kann. Wie ein alter Mann, der zur Notaufnahme wegen starkes Schmerzen im Hüftbereich gekommen  ist. Nach körperliche Untersuchung wurde er zum OP-Raum geschickt. Ich habe der Patienten begleitet und habe auch die Operation mitangeschaut. Tatsächlich gab es Perforationen auf sein Dünndarm und den Rest von seiner Nährung schon bis zu seinem Hodensack verbreitet. Während dieser OP hat den OP-Raum sehr schlecht gerochen. Ich konnte kaum glauben, wie kann er mehrere Zeit dieses Schmerzen aushalten. Ich habe dort auch die Gelegenheit Operationen zu assistieren und auch eine Warze am Rücken selbst reserzieren. Natürlich unter Beobachtung der Chirurgen. Bei einigen Krankenhäuser benutzen sie im OP-Saal keine einmalige Kittel sondern Kittel aus Stoffe, die mehrmals gewaschen werden koennen. 

Allgemein bin ich sehr zufrieden in der Heimat zu famulieren. Ich kann viele invasive Maβnahmen üben, als Chirurgin probieren und auch viele andere Erfahrungen sammeln. Anders als in Deutschland habe ich hier mit vielen tropische- und infektionskrankheit beschäftigt . Ich kann auch mit Patienten sehr flüssig kommunizieren, da die Sprache meine Muttersprache ist. Einige Kritik für das Gesundheitssystem in Indonesien nämlich das neue Krankenversicherungssystem (BPJS). Hoffentlich wird nicht nur das System verbessert, sondern auch die Qualität von der Versorgung. Das eigentliche Ziel ist das Gesundheitssystem wie in Deutschland, dass alle Bevölkerung gleiche Chanche haben gute medizinische Versorgung zu bekommen.

Sunday, April 3, 2016

Kuliah Kedokteran dan Dokter Spesialis di Jerman



Kuliah Kedokteran dan Dokter Spesialis di Jerman

Bekerja menjadi dokter di Jerman harus dengan Approbation dan surat izin yang berlaku. Approbation berlaku seumur hidup dan di seluruh tempat di Jerman. Surat izin kerja haya berlaku dalam waktu yang ditetapkan dan di dalam satu negara bagian saja. Terkadang juga terbatas pada pekerjaan tertentu saja.

Approbation dapat dilakukan oleh warga negara mana saja, sesuai peraturan pada 1. April 2012 tentang Anerkennungsgesetz.

Landesgesundheitsbehoerde di tiap-tiap negara bagian adalah institusi tertinggi yang dapat memberikan Approbation dan Surat Izin Kerja di Jerman.

Kuliah Kedokteran Umum di Jerman

  • ·       Studi Kedokteran dilakukan selama 6 tahun pada sebuah Universitas di Jerman. Tahun terakhir studi adalah tahun praktik (praktische Ausbildung) selama 48 Minggu.

  • ·         Pendidikan pada pertolongan pertama

  • ·         Praktikum keperawatan selama 3 bulan

  • ·         Famulatur (magang di bawah pengawasan dokter) selama 4 bulan

  • ·         Ujian kedokteran dalam 3 bagian

  • ·         Regelstudienzeit (Lamanya studium) yaitu 6 tahun 3 bulan

  • praktische Ausbildung dilakukan setelah lulus ujian kedokteran bagian ke-2 dan dilakukan selama 16 minggu pada setiap bagian, yaitu :

      1. ·  Innere Medizin (penyakit dalam)
      2.   Chirurgie (bedah)
      3.    Allgemeinmedizin atau di bagian lain selain innere Medizin dan Chirurgie


  • Keikusertaan pendidikan pada pertologan pertama adalah syarat mengikuti ujian kedokteran bagian pertama
  • Praktikum keperawatan selama 3 bulan dapat dilakukan sebelum memulai studi kedokteran atau selama pendidikan kedokteran (diluar waktu kuliah) sebagai syarat mengikuti ujian kedokteran bagian pertama.
  • Famulatur dilakukan setelah lulus ujian kedokteran pertama dan sebagai syarat mengikuti ujian kedokteran bagian kedua.

Weiterbildung in Deutschland – Pendidikan lanjut atau Spesialis di Jerman

·      Pendidikan spesialis di Jerman dilakukan im Rahmen der klinischen aerztliche Taetigkeit dan akan dibayar (sebagai profesi dokter).
· 
   Jika sudah memiliki Approbation yang berlaku, dapat langsung mendaftar sebagai Weiterbildungsassistent/in (dokter asisten) di tempat yang diinginkan

·         Lamanya pendidikan spesialis sekitar 5-6 tahun. 

·         Dokter yang sedang melaksanakan pendidikan spesialis wajib memenuhi katalog yang ditetapkan

·     Calon dokter spesialis akan diuji secara lisan oleh 3 penguji. Kompetensi yang akan dinilai yaitu kemampuan menguasai Fachgebiet/bidangnya dan kesuksesan mnyelesaikan pendidikan spesialis.

·        Setelah lulus, dokter spesialis akan mendapatkan ijazah pengakuan (Facharztdiplom)
dari Landesaerztekammer


Source : bundesaerztekammer.de