Pages

Thursday, May 21, 2015

Islam di Eropa, Jerman (1)

Assalamualaikum wr. wb.

awal menginjakkan kaki di benua Eropa, khususnya Jerman, mungkin pernah terpikir bagaimana kita bisa bertahan hidup di benua yang minoritas muslim ini. Saya insyaAllah akan mencoba menguraikan beberapa hal agar teman-teman tidak khawatir untuk menetap disini.


JILBAB


Mungkin ini hal pertama yang sangat dikhawatirkan oleh kalangan Muslimah. Mendengar berita dilarangnya berjilbab di lingkungan sekolah kampus dan sebagainya di Eropa membuat hati semakin gusar untuk pergi ke benua Eropa. 

Padahal disisi lain seharusnya kita bersukur karena agama Islam mewajibkan wanita untuk mengenakan jilbab. Pasalnya dengan jilbab ini kita menunjukkan identitas siapa kita dan agama kita. 

Ketika kaki menginjak negara Jerman misalnya, tengoklah kanan kiri kalian. Tidak sulit untuk menemukan wanita berjilbab lainnya lalu lalang di bandara. Itu berarti kamu ga sendirian. Orang Jerman pun tidak akan melihat kamu aneh, layaknya melihat alien, ketika kamu mengenakan jilbab. Ketika kamu berpapasan dengan muslimah lainnya, jangan heran jika kamu diberi senyuman atau salam ''Salam aleikum'' oleh mereka. Jilbabmu menunjukkan bahwa kamu dan muslimah lainnya adalah saudara seiman, sehingga ketika berpapasan tak berbeda layaknya teman satu kampus yang saling menyapa. 

Jilbabmu juga menunjukkan bahwa kamu terlindung dari makanan & minuman haram. Pengalaman saya ketika musim panas dan ingin membeli ice cream. Tanpa saya bertanya si penjual langsung memberitahu saya bahwa ice cream dengan rasa A B dan C mengandung Alkohol sehingga saya harus berhati-hati. 

Ingat dengan Surat Al-Ahzab ayat 59?

''Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.''


MAKANAN HALAL

Tanpa saya harus sebutkan satu per satu ada banyaaaaak sekali makanan di negara Eropa, khususnya Jerman yang bisa kita makan dengan aman bahkan yakin bahwa makanan itu halal.

Makanan khas Jerman yang paling top misalnya Curry Wurst. Kalo temen-temen pernah jalan ke kota besar seperti Hannover dan Berlin. Banyak penjual sosis enak ini yang juga menjual Curry Wurst halal. Tidak perlu ragu karena mereka memasang label halal di tempat yang mudah terlihat.

Jika kalian rindu dengan masakan indonesia seperti rendang, soto kambing dan ingin memasaknya. Kalian bisa membeli di toko Turki terdekat. Toko Turki ini tersebar dimana-mana. Di Jerman sendiri insyaAllah kalian tidak akan sulit menemukan toko tersebut. Di toko ini kalian bisa mendapatkan daging ayam, sapi dan kambing bahkan juga berbagai macam jeroan seperti hati. 


Di beberapa Supermarkt biasa juga menjual daging halal misalnya daging yang dijual dengan merk Wiesenhof.

Merk Wiesenhof dengan kode sebagai berikut sudah memiliki sertifikasi Halal :

DE NI 11101 EG

DE ESG 101 EG

DE EZG 214 EG
DE EV 1710 EG
DE ESG 3 EG
DE EZG 113 EG
DE BY 21057 EG
DE EZG 57 EG
DE ESG 50 EG
DE ESG 251 EG
DE EZG 251 EG
DE ST 00257 EG
DE NI 10321 EG
DE ST 00030 EG
DE NW-EV 221 EG



RESTORAN HALAL

Jika kalian ingin kuliner, hampir di semua kota di Jerman kalian dapat menemukan Toko Döner. Namun kalian harus pastikan dahulu bahwa toko ini menjual dengan daging halal. Kalian bisa mencari label halal pada toko tersebut atau bertanya langsung pada penjualnya. Untuk harga dan rasa sangat terjangkau buat kalian yang ingin berhemat!




Tidak hanya Döner, kalian juga bisa mencoba makanan lainnya. Di Berlin terdapat restoran Libanon yang terkenal bernama El-Reda. http://www.el-reda-restaurant.com/. Menu andalannya adalah Kubideh dengan porsi yang sangat besar. 



Tidak hanya masakan Libanon, kalian juga bisa mencoba masakan khas Thailand di Frankfurt. Menu andalannya adalah bebek. Dengan pilihan yang banyak sudah dijamin kalian akan puas dateng kesini! http://www.thaifun-halal.de/



Semoga beberapa tulisan saya tidak hanya membuat kalian semakin ingin mengunjungi benua Eropa terutama Jerman, tapi juga membuat kalian lapar hehe. InsyaAllah tulisan saya mengenai Islam di Jerman akan berlanjut ke part selanjutnya..



Sampai nanti!


Saturday, May 16, 2015

1. klinisches Semester Medizin Gießen

Uns ist schon bekannt, dass man nach'm Physikum fast keine Motivation um zu lernen *zumindest ich :D ich schreib aber ein Paar wichtige Sache für euch, was im 1. klinischen Semester beachten werden muss!

1. Tag des Semesters
Ihr seid alle wieder Erstis!!  Man bekommt eine Campus-Tüte, die alle Broschüre von Kliniken, Kulis *wie auch immer*, Post-it und Tomaten-Nudeln enthält.

Beispiel. Quelle : http://www.angis-blog.de/wp-content/pics/campustuetess12.jpg

gleich im großen Hörsaal  werden viele Infos von der Fachschaft, Dekanat gegeben. Wer im ersten Tag nicht kommt, wird viele wichtige Informationen verpasst z.B Gelegenheit für Doktorarbeit, Info-Pflichtveranstaltungen und Anmeldungen für die Kurse & Seminare.

der Semesterbeginn
kleiner Tipp!! Am besten ihr kommt zu allen Vorlesungen in ersten zwei Wochen. Danach entscheidet ihr euch selbst, mau lanjut dateng kuliah atau bolos hehe. Setidaknya kita bisa menghemat waktu untuk belajar dirumah atau kerja*. 

*bhs indonesia digunakan agar tidak ketahuan oleh Dosen :D

1. Woche des Semesters
Hier kommen die Termine für GIPS-Kurs, Basic Life Support Kurs & Advance Life Support Kurs und fangen auch die Anmeldung für Laborpraktikum an. 

2. Woche des Semesters
die Anmeldung für den Klopfkurs Innere Medizin in den Ferien. Ihr könnt 5 Kliniken auswählen. Am beliebtesten wäre Wetzlar. Ihr könnt aber auch z.B in Bad-Homburg, Berlin, Darmstadt, Friedberg sogar Sweden machen :) einige Kliniken bieten auch Übernachtungsmöglichkeit an, also keine Sorge!

und das wars eigentlich! die reste musst ihr nur eure Zeit nach'm Physikum genießen und fängt doch langsam mit dem Lernen an. Ihr schreibt nur 4 Pflicht-Klausuren am Ende des Semesters (Mikrobiologie, Gesundheitsökonomie, Pathologie und Epidemiologie). Aja.. vergisst ihr nicht die Klausuren anzumelden, sonst wäre ja ziemlich peinlich.

Ich wünsche Euch viel Glück und hoffe saya juga bisa lulus di 4 Klausuren + Wahlfach-Klausur + English-Klausur akhir Semester ini!!




Tschüüüüüüssssss!!!


RMV (Rhein-Main-Verkehrsverbund)

Kalo kalian main ke negara bagian Hessen, kalian akan menemukan berbagai macam transportasi dengan warna biru yang mendominasi!!! Yap, warna kesukaan saya :))) Rhein-Main-Verkehrsverbund atau yang lebih dikenal dengan singkatannya RMV adalah perusahaan yang menjalankan public transport di wilayah Rhein-Main. 

Apa itu wilayah Rhein-Main? Wilayah Rhein-Main itu mencakup dari ujung Kassel (bahkan Siegen yang sudah masuk ke negara bagian Nordrhein westfalen) sampai ke Mainz (negara bagian Rheinland pfalz). Jadi... INI INFO PENTING BUAT PARA MAHASISWA. Kalo kalian kuliah di negara bagian Hessen, kalian bisa jalan-jalan sepuasnya menggunakan Semesterticket ke seluruh negara bagian Hessen plus sampai ke perbatasan negara lain. Enaknya lagi.. karena negara bagian Hessen yang terletak di tengah-tengah Jerman, kalian bisa jalan-jalan ke kota lain dengan harga murah dan terjangkau. Misalnya ke kota Göttingen, kalian cukup pergi ke ujung perbatasan wilayah Rhein-Main dan beli tiket tambahan beberapa halte sampai ke Göttingen. Harga tiketnya sangat murah, sekitar 6€. Atau kalian mau ke Heidelberg, cukup pergi ke halte perbatasan paling bawah dan beli tiket tambahan juga sekitar 6€. Info tambahan juga bagi kalian yang ingin kuliah di kota Marburg, bahwa kalian bisa naik IC pake Semesterticket kalian sampe ke Göttingen. Kurang enak apalagi coba???!!

Ini contoh daerah yang bisa jalan-jalan gratis pake semesterticket mahasiswa :)

Sudah cukup pamer tentang Gültigkeitsbereichnya RMV, sekarang saya mau tunjukin macam-macam transportasinya yang ada :


  • U-Bahn/Subway 

http://www.rmv.de/linkableblob/de/37372-3627/original/U-Bahn_Typ_U5.jpg

http://www.rmv.de/linkableblob/de/37374-28861/original/U-Bahn_Typ_U5_Innenraum.jpg

  • Straßenbahn / Tram Tipe R
    rmv.de
  • Straßenbahn / Tram Tipe S
rmv.de

rmv.de
  • Bus 
    rmv.de
Yaaa.. segitu dulu informasi penampakan transportasi di negara bagian Hessen. Semoga cukup membuat kalian penasaran buat main kesini. Mau tau secantik apa Hessen itu??? kalian bisa lanjut baca tulisan saya di http://syifamaisani.blogspot.de/2014/10/hessen-juga-cantik-kok.html

Selamat menjelajahi Hessen!!!

Saturday, April 25, 2015

Sisi Lain Kehidupan (3)

Yayasan Galuh Bekasi



Yayasan Galuh didirikan oleh (alm.) Gendu Mulatip. Ia tidak tega melihat seorang gila di arak oleh anak2 di kampungnya di Bekasi. Seorang anak kemudian melempar batu kecil ke arah orang gila tersebut yang kemudian dilempar kembali olehnya hingga mengakibatkan luka. Orang tuanya yang tidak terima anaknya dilukai oleh pesakitan tersebut ingin membalas, tapi niatnya dibatalkan setelah Gendu menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Ia kemudian membawa orang tersebut ke rumah untuk dirawat dan akhirnya bisa disembuhkan.

Berawal dari situ Pak Gendu mulai menampung orang-orang yang memiliki penyakit jiwa. Dibantu oleh pemerintah daerah Bekasi bersama keluarga Pak Gendu, akhirnya mereka bisa menampung lebih dari 200 jiwa di tempat mereka. 

Pertama kali menginjakkan kaki disana perasaan saya sangat sedih. Karena tempat tinggal mereka sangat tidak kondusif. Mereka dikumpulkan dalam satu ruangan bersama kurang lebih 20-30 orang lainnya. Mungkin juga tidur bersama dengan kotoran mereka sendiri. Saya salut terhadap Pak Gendu dan orang-orang yang ikhlas peduli terhadap mereka yang sering terlupakan ini.


Untuk orang yang tidak tahan dengan bau kotoran manusia harus siap-siap menahan napas selama memasuki wilayah yayasan galuh ini. Saya pun disambut oleh teriakan salah satu perawat, "Eh... hati-hati Mbaa.. ada pornografi disini... ayo kamu tutup dulu badannya dengan handuk!". Ternyata saat itu salah satu pasien (kira-kira berumur 35 tahun) sedang dimandikan di lapangan terbuka oleh salah satu perawat disana. Saya pun hanya bisa tertawa cekikikan melihatnya. Sejujurnya hal tersebut tidak asing lagi bagi saya. Saya sering memandikan kakek-kakek diatas usia 80 tahun sewaktu bekerja di panti jompo. Tapi ya... itu di jerman.. disini atmosfer nya mungkin berbeda :)

Lanjut naik ke lantai dua, saya disambut lagi oleh teriakan pasien di dalam krangkeng, ''Assalamualaikum! Pak Bu! saya belum mandi.. lupa.. he.. he.. he...". Beberapa pasien yang sudah sedikit sehat juga banyak yang lalu lalang disana. Pernah saya didekati salah satu Bapak, lalu dia hanya senyum-senyum depan saya. Lucu tapi juga menyeramkan :D Katanya sih.. untuk membedakan pasien yang sedikit waras dan tidak, lihat dari sandal jepitnya. Jika mereka berjalan-jalan menggunakan sandal jepit, itu artinya mereka sedikit waras :D

Di lantai dua ternyata sudah berkumpul sejumpah pasien yang ingin mengaji pada hari itu. Ruangan disini jauh lebih bersih dibanding dibawah. Ustad Yayan mulai menyapa mereka, ''Siapa yang hari ini belum mandi.. Ngakuuu!!!''. Ada yang saling menunjuk, ada yang tertawa terbahak-bahak.

Ustad Yayan memulai agenda mengaji hari itu dengan mengulang hafalan surat Al-Zalzalah. Masya Allah, saya kagum.. Mereka yang memiliki penyakit jiwa (yang memang tidak wajib untuk melakukan shalat dsb) saja semangat untuk menghafal ayat Al-Quran, bagaimana dengan kita (terutama saya) yang ''waras'' seperti ini. Meskipun banyak yang masih terbata-bata atau bahkan hanya bisa mengatakan ayat pertama dengan "ija jul jil jul", yang membuat kami tertawa, namun mereka tampak ceria dan menunjukkan semangat untuk dekat dengan Allah SWT, semangat untuk sembuh dan dapat pulang ke rumah. Lucunya lagi ketika saya membagikan roti kepada mereka, lalu ada satu orang yang nyeletuk, "Roti nya udah.. rokoknya mana??!". 

Sedihnya banyak cerita yang saya dengar bahwa banyak pasien yang sudah sembuh lalu dipulangkan ke rumahnya, namun keluarga tidak mau menerima mereka. Dengan alasan membuat malu keluarga dsb. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Yayasan Galuh dan membantu para perawat untuk merawat teman-temannya yang masih sakit.

Alhamdulillah saya mendapatkan pelajaran baru dari sisi lain kehidupan para penderita sakit jiwa ini yang memiliki semangat tinggi. 












Friday, April 24, 2015

Sisi Lain Kehidupan (2)

Shelter Dompet Dhuafa RSCM



Awalnya saya kira Shelter ini berada didalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ternyata lokasinya berada di dalam gang kecil dekat pemukiman warga, yang lokasinya tidak jauh dengan RSCM. Sebelumnya, apa sih Shelter Dompet Dhuafa itu? 

Program Shelter Dompet Dhuafa ini adalah salah satu program yang dijalani LPM Dompet Dhuafa. Tujuannya menyediakan rumah yang dijadikan sebagai hunian sementara bagi pasien dan keluarga pasien kurang mampu, yang harus menjalani perawatan medis di RSCM. Selengkapnya di : http://www.dompetdhuafa.org/post/detail/432/lewat-shelter-pasien-dompet-dhuafa-optimalkan-pelayanan-kesehatan-dhuafa

Dibantu oleh Mas Rohim saya berkesempatan untuk mengunjungi Shelter ini dan ngobrol bersama para pasien dan keluarga. Salah satu ibu bernama Ibu Ningsih (nama disamarkan hehe) bercerita pada saya. Dia datang jauh-jauh dari Medan bersama anaknya ke Jakarta. Tidak ada pilihan lain untuk anaknya yang mengidap penyakit tumor, selain melakukan Kemoterapi di RSCM. Hal ini mewajibkan sang anak datang secara berkala ke RSCM. Awal kedatangan di Jakarta dokter mengatakan bahwa anaknya harus diperiksa lagi keesokan harinya. Ibu Ningsih bingung dimana dia dan anaknya harus bermalam. Mereka pun memutuskan untuk tidur di lorong rumah sakit selama pengobatan. Setiap ada satpam yang lewat, Ibu Ningsih buru-buru menggendong anaknya dan bersembunyi agar tidak ketahuan. Jika ketahuan maka mereka akan diusir. Sebenarnya ada pilihan lain. Menginap di rumah singgah yang disediakan RSCM dengan harga Rp 15.000 per malam. Namun Ibu Ningsih tidak punya uang sebanyak itu. Uangnya hanya cukup untuk ongkos ke Jakarta dan makan selama beberapa hari saja. Sampai suatu malam tas Ibu Ningsih dicopet, sehingga Ibu Ningsih tidak punya apa-apa lagi. 

Pertolongan Allah SWT datang bersama orang yang sabar. Beberapa hari setelah dicopet, Ibu Ningsih menerima telfon dari rumah sakit daerah di Medan mengenai Shelter Dompet Dhuafa. Ibu Ningsih bersama anaknya pun dijemput oleh Tim Dompet Dhuafa dan mendapatkan satu kamar tinggal untuknya bersama anaknya. 

Cerita tersebut hanya satu dari berbagai cerita yang saya dapat pada hari itu. Saya sangat senang mendengar mereka yang sangat terbantu dengan adanya Shelter ini. Tidak hanya diberikan tempat tinggal selama masa pengobatan, para pasien dan keluarga pasien pun diberikan pelatihan seperti menyulam, tata boga, atau juga kegiatan lain seperti mengaji, penyuluhan kesehatan dsb. Hal ini bukan saja membantu pasien dan keluarga pasien, tapi juga membawa bekal kepada para pasien & keluarga untuk lebih produktif selepas tinggal di Shelter ini.

Pada periode Januari hingga Oktober tahun 2014, Program Shelter Dompet Dhuafa telah membantu 461 jiwa.

Hari itu, saya mengumpulkan lagi banyak pembelajaran dari sisi lain kehidupan. Belajar tentang berbagi & bersyukur. 


Sisi Lain Kehidupan (1)

Puitis sekali judulnya hehe.. Judul itu saya pilih, karena sekarang saya mau berbagi pengalaman ketika bergabung bersama Dompet Dhuafa melihat situasi di tempat-tempat yang mungkin-tidak-pernah-terpikir-oleh-banyak-orang-untuk-dikunjungi. Tempat mana saja itu?

Lapas Wanita

Kesempatan pertama adalah mengunjungi Lapas Wanita di Tanggerang. Kira-kira bagaimanakah isinya? Bagaimana sikap para tahanan ketika melihat saya? Apakah saya akan dijaili mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini ditambah melihat gedung yang dibatasi pagar sangat tinggi, membuat saya semakin penasaran dengan isinya. Saya pun masuk dan melapor kepada petugas penjaga di Lapas tersebut. Pak petugas lalu memberikan saya kartu tanda tamu dan mencap tangan saya. Ternyata tampak luar dan dalam sangatlah berbeda. Saya tidak menyangka bahwa lapas ini tampak biasa layaknya lingkungan komplek perumahan. Karena sebentar lagi para tahanan akan menunaikan solat dzuhur, saya pun pergi ke Musholla disana. 

sumber : http://www.jpnn.com/read/2010/01/22/56886/Hari-Pertama-Artalyta-Suryani-Menempati-Sel-Biasa-Lapas-Wanita-Tangerang-


Saya pun berkenalan dengan seorang wanita. Beliau tampak cantik, tutur katanya bijaksana. Mungkin beliau guru disini. Beliau memperkenalkan diri dan berkata bahwa ia dikenal oleh seluruh penghuni lapas dengan sebutan Bunda, karena dirinya selalu menjadi tempat curhat penghuni lapas. Tak lama datanglah 3 penghuni lapas lainnya. Kami pun memulai diskusi siang itu. Dari diskusi kami saya baru menyadari bahwa Bunda ini juga salah satu tahanan. Bukan guru atau pengajar di Lapas. Ternyata bayangan saya salah besar. Saya lanjut mendengarkan cerita mereka. Cerita mengenai ketidak nyamanan tinggal di lapas, walaupun diberi makan dan tempat tinggal gratis. Mereka merasa bahwa sebagian besar penghuni lapas bermuka dua, didepan baik namun dibelakang berkata lain. Hal itu yang sering membuat mereka tidak nyaman. Ditambah lagi perbedaan sikap tahanan yang ber-UANG dengan yang menengah kebawah seringkali membuat mereka jengkel. '"Semua tahanan kan sama aja ya Mba.. disini kita semua salah. Habis melakukan dosa. Kenapa mereka itu masih sombong aja.. padahal kita tidur pun di ruangan yang sama..", sahut salah satu wanita. 

Selesai solat dzuhur berjamaah, salah satu wanita menghampiri saya. "Mba.. aku satu tahun lagi pulang loh.. bisa ketemu anak dan suami", katanya dengan riang. Saya pun balik bertanya mengapa wanita ini harus ditahan. Wanita ini pun menjawab, ''Saya difitnah Mba.. disangka menggelapkan uang perusahaan.. yah disini mah.. bener ngelakuin atau engga, ditahan aja Mba. Mau ga mau harus terima. Da ga ada yang mau percaya juga..".

Tak lama datanglah pengumuman dari pengeras suara bahwa seluruh penghuni lapas diharuskan masuk ke kamar masing-masing untuk inspeksi. "Ada apa ini Mba?", tanya saya. "Ga tau.. mungkin ada laporan lagi Mba.. katanya sih semalem ada masalah di kamar bagian sana. Saya balik ke kamar dulu ya Mba, takut kena sanksi.", jawab wanita itu. Saya pun lalu berpamitan.

dan pada akhirnya pertemua singkat ini membuat saya belajar banyak. Belajar bersyukur. Melihat dari sisi lain kehidupan. Kehidupan berbeda dari wanita-wanita tangguh yang dibatasi oleh pagar tinggi, untuk melihat dunia luar.


Tuesday, March 24, 2015

Cukup, Physikum sekali saja..




Ja ja.. cukup sekali saja hehe. Kali ini (atas permintaan beberapa orang juga) saya ingin berbagi pengalaman mengenai persiapan dan pelaksanaan physikum. 

Sebelum dimulai, udah tau kan apa itu Physikum? Kalo belum sila baca http://syifamaisani.blogspot.de/2014/10/sistem-kuliah-kedokteran-di-jerman.html Singkatnya sih ujian negara. Kenapa saya bilang Physikum cukup sekali saja..  Karena untuk lulusnya penuh penuh perjuangan besar. Saya kapok hehe

Semester 4 memang semester paling santai.. Sedikit presentasi, sedikit kuliah, praktikum biokimia yang lebih chillig dibanding praktikum fisiologi di semester 3, juga sedikit ujian akhir semester. Dafuer ist aber Physikum sebagai penggantinya. 

Memasuki awal semester 4 saya sudah membuat jadwal belajar mempersiapkan Physikum. Dimulai dengan Fisiologi, pelajaran yang sulit dimengerti untuk saya. Fisiologi 2,5 Minggu, Biokimia 2,5 Minggu, Anatomi 2 Minggu, lanjut dengan Fisika Kimia Biologi dan Psikologi 1 Minggu. Setiap hari kerja saya cuma membaca skrip2 pelajaran tersebut, mengulang juga mengerjakan soal Physikum tahun-tahun sebelumnya agar tau bagaimana bentuk soal dan tema apa saja yang sering keluar. 


Sangat sulit fokus mempersiapkan Physikum selama bulan Oktober hingga Januari. Pasalnya ada kesibukan kuliah lainnya seperti praktikum biokimia di Labor yang memakan waktu 6-8 jam setiap minggunya, juga presentasi sana sini. Awal Februari tiba, mulailah fokus tancap gas untuk Physikum. Bangun tidur lebih awal, gelap-gelap naik sepeda pergi ke perpustakaan. Menunggu sampai perpustakaan buka lalu berebut ruangan paling nyaman dengan para mahasiswa “streber” lainnya. Belajar di perpustakaan mulai dari setengah 8 pagi sampai jam 11 malam menjadikan kamar dirumah hanya  sebatas tempat rebahan, menunggu datangnya hari esok untuk melanjutkan belajar di perpustakaan.  Kulkas dirumah kosong tanpa persediaan makanan, kamar penuh dengan kertas kertas catatan dan buku-buku pelajaran, tembok berisi penuh dengan tulisan-tulisan physikum, pakaian kotor yang menumpuk disudut kamar dan tak lupa juga, otak saya yang penuh dengan pikiran physikum physikum dan physikum. 

Sampai saatnya tiba tanggal 10 dan 11 Maret untuk mengikuti Physikum tertulis. Pukul setengah 9 pagi sebagian besar mahasiswa sudah berkumpul di depan Kongreshalle Berliner Platz, tempat ujian kami. Pintu gerbang dibuka jam 9 pagi. Kami pun  masuk ke ruangan Kongres tersebut dan mencari tempat duduk masing-masing berdsarkan nomor ujian. Tempat saya cukup enak, tidak terlalu depan juga terlalu belakang.  Setelah pengawas membacakan peraturan selama ujian, kami pun memulai mengerjakan soal.  Halaman pertama.. kedua.. ketiga.. ah... saya lewati..  Itu semua soal fisika. Saya tidak mau dibuat pusing sejak awal dengan fisika. Saya pun mulai dengan soal nomor 20. Pelajaran Fisiologi dan Biokimia. Satu jam berlalu... soal-soal ujian tiba-tiba merasa sulit dimengerti. Mendadak tidak mengerti bahasa jerman. Saya panik. Tak lama Ibu pengawas naik ke atas panggung dan berkata ”Meine Damen und Herren, jetzt ist schon halbe Zeit durch”--“Para peserta diinfokan bahwa setengahnya waktu sudah lewat”. Halbe Zeit? Setengahnya waktu?  Apa artinya.. apa maksudnya waktu tinggal setengah jam lagi? Atau maksudnya setengah dari waktu seharusnya? Saya benar-benar panik.. tidak bisa mengerti bahasa jerman. Kaki saya mulai dingin. Peserta ujian dibelakang saya pun mulai berisik dengan menggerakkan sepatunya, sehingga konsentrasi saya benar-benar buyar. Saya teguk air putih dihadapan saya. Masih panik. Saya ambil bekal yang dibawa, saya makan dan rehat sejenak. Saya pun memutuskan pergi ke toilet untuk mencuci muka.  Ya.. alhamdulillah.. sekarang saya segar lagi. Kembali saya melanjutkan mengerjakan soal ujian sampai ketika dimana hanya soal fisika lah yang belum saya jawab. Urgghhhh.. gerutu saya. Memang saya tidak suka fisika! Dari 4 jam waktu ujian dengan 160 soal, saya butuh 1 jam sendiri untuk bisa mengerjakan soal fisika yang hanya 20 soal... Waktu ujian pun habis. Saya menarik napas dalam-dalam.  “Das warrr richtiggg schlimmmm!!!”--“Tadi itu parah bangeeettt!!”, gerutu saya dalam hati.
Hari pertama Physikum tertulis benar-benar membuat saya down. Saya kurang yakin bahwa saya bisa lulus. Banyak soal yang sulit dikerjakan, banyak jawaban yang saya tebak. Argh.. pasrah.. Fix und fertig! Saya terkapar diatas kasur. Mengistirahatkan badan dan pikiran yang habis dipompa selama 4 jam tadi.

11 Maret 2015, Physikum hari ke dua dengan pelajaran Biologi, Anatomi, Histologi dan Psikologi. Ini adalah kesempatan terakhir saya untuk mengumpulkan banyak poin agar bisa lulus. Kemarin biarlah jadi kemarin. Kali ini tidak ada panik, pikir saya optimis. Pukul 09.05 ujian pun dimulai.. Yap! Benar saja.. Kali ini jauh lebih baik dari kemarin. Banyak soal yang bisa langsung saya jawab. Saya tidak lagi peduli dengan teman di belakang saya yang sering membuat kegaduhan kecil. Tepat dua jam kemudian, saya selesai mengerjakan 160 soal Physikum. Masih ada sisa waktu 2 jam lagi, saya gunakan untuk mengecek jawaban atau mungkin melihat kembali jawaban yang kurang yakin. Dan waktu pun habis. 

Oje.. Physikum benar-benar membuat saya lelah. Tidak habis pikir. Mengapa orang jerman suka sekali membuat ujian 4 jam non stop tanpa istirahat sekalipun. Selama dua hari berturut-turut. Ketika Hammerexamen bahkan lebih parah lagi. Sehari 5 jam, selama 3 hari berturut-turut. Ya mungkin memang para bule ini hobinya belajar. Terima saja. Siapa suruh mau kuliah disini, Syif :D
Selesai Physikum tertulis bukan berarti selesai semuanya. Es kommt noch Physikum lisan. Kelompok saya kebagian tanggal 20 Maret jam 9 pagi. Persiapan ujian lisan ini lebih penuh drama. Saya seringkali menangis karena sulitnya mempelajari tema yang diinginkan dosen-dosen penguji atau juga karena stress.  Saya lelah. Tidak sanggup lagi belajar. Terlalu keras kuliah disini. Cuma ingin liburan. 

Jumat, 20 Maret 2015 pun tiba. Pukul 08.30 saya bersama teman saya Can Luo dari China sudah berada di ruangan uji. Kami menunggu Professor Middendorf selaku kepala penguji kami. Panik? Alhamdulillah tidak. Entah mengapa saat itu saya merasa tenang sekali. Tidak panik, tidak gugup. Professor Middendorf mulai memberikan kami preparat untuk dilihat dibawah mikroskop. Dari awal saya hanya berharap, semoga bukan preparat tulang, ovar ataupun otak. Kenyataannya, ya.. saya mendapatkan preparat yang saya tidak mau. Tulang. Errrr... Preparat tersebut harus kami teliti dan hasilnya kami tulis diatas kertas jawaban. 

Selang 20 menit kemudian datang dua penguji lainnya. Penguji yang saya takuti. Professor Preissner dan Professor Skrandies. Kenapa saya takut sama mereka, karena mereka itu pinter banget! Saya Cuma takut mereka nanya yang macem-macem seakan akan saya adalah teman sepenelitiannya atau apapun itu.. Ja ja ich weiss, ich machte mir nur sorgen.  

Physikum lisan pun dimulai oleh saya. Diawali menjelaskan preparat tulang yang saya amati. Dari mulai jaringan apa saja yang saya lihat,  ciri-ciri khusus dari jaringan itu, bagaimana proses pertumbuhan tulang dan lapisan-lapisan tulang pada Embryo. Professor Middendorf mengangguk-anggukan kepala tanda setuju juga terkadang bertanya tentang tema tersebut lebih dalam. Setelah ia rasa cukup, ia bergegas berdiri lalu berkata, “Ja.. was Sie erzahlt haben ist sehr schoen. Wir gehen jetzt zur Leiche”--“Ya.. apa yang anda terangkan tadi sangat bagus. Sekarang kita pergi ke mayat”. Saya pun ikut berdiri dan mendekati potongan mayat yang diselimuti lapisan plastik biru. Bergegas saya mengenakan sarung tangan dan berdiri menandakan siap  untuk ditanya. Professor Middendorf memulainya dengan kalimat, “Suchen Sie wo Diaphragma ist, und erzaehlen Sie darueber”--“Coba sekarang anda cari dimana letak Diafragma dan terangkan tentang itu”.  Rasanya... rasanya saya pengen memukul kepala tanda kesal. Dari sekian banyak tema Anatomi, kenapa yang ditanya adalah Diafragma, yang cuma selewat saya baca. Masih banyak organ lainnya seperti paru-paru, jantung, ginjal, otak dsb yang bisa dibahas.. kenapa harus ini...  Apa mau dikata, saya mulai saja menerangkan sebanyak yang saya ingat. Und alhamdulillah war nicht schlimm. Ich hab zwar viel geratten aber tatsachlich richtig!! Dan tanpa terasa 20 menitpun berlalu.

Ujian dilanjutkan oleh teman saya Can Luo dengan Fisiologi. Professor Skrandies memberikan satu lembar kertas yang berisi 6 grafik. Can disuruh menjelaskan salah satu dari 6 grafik tersebut. Dia pun memilih grafik Hoffman-Reflex. Bum.. bum.. bumm.. Tiba-tiba suasana ujian pun menjadi tegang. Can Luo sangat grogi sehingga buyar semua yang sudah dia pelajari. Professor Skrandies juga terlihat seperti kesal karena Can Luo selalu salah menjawab pertanyaan. Oh tidak.. jangan sampai ini berimbas kepada ujian-ujian setelah ini, pikirku dengan khawatir. 

Ujian fisiologi Can pun selesai. Lanjut giliran saya bersama Professor Preissner, sang ahli biokimia, peneliti darah, komposisi ekstra sel matrix dan yang tau semuanya. Sebisa mungkin saya menciptakan suasana nyaman bersama Professor Preissner. Dimulai dengan kelenjar tiroid, siklus hypophyse-hypothalamus, proses transkripsi dan terakhir fungsi Glutathion bersama NADPH, dann 20 Minuten schon vorbei. Alhamdulillah Biokimia berjalan lebih mulus dari yang saya duga.
Setelah Can melewati Anatomi nya, saya lanjut dengan ujian pelajaran fisiologi bersama Professor Skrandies. Dimulai dengan tema pernapasan, inspiratorische reverse Volumen, dan diakhiri dengan tema Perimetrie-yang-tidak-saya-pelajari-secara-dalam. Dengan banyak menebak jawaban dan raut wajah Professor Skrandies yang tidak puas, ujian pun berakhir. Saya dan Can Luo diminta untuk keluar ruangan sebentar, sementara para dosen mendiskusikan apakah kita lulus atau tidak, jika ya berapa nilainya. Tak mau menebak-nebak hasilnya, saya hanya pasrah menyerahkan semuanya pada Allah SWT. Tanpa disangka saya diumumkan lulus, bahkan dengan nilai yang tidak saya duga! Yeah... Dongeng cerita tentang Physikum berakhir dengan bahagia dan saya pun sekarang sedang menikmati indahnya Indonesia tanpa terbayang-bayangi “harus belajar apa hari ini?” :D

Prof. Preissner-Me-Prof. Skrandies-Prof. Middendorf



Jakarta, 24.03.2015
sambil-menyelesaikan-makan-tempe-kecap