Pages

Thursday, January 15, 2015

Pre- & Post- Biochemie-Klausur

Der Titel scheint es so, wie Begriffe in der Biochemie.

Emang!! hehe. Hari ini lagi campur aduk perasaannya karena ujian Biokimia ini. Kali ini saya mau cerita gimana suasana sebelum-sedang-dan sesudah ujian Biokimia.

Pukul 18.10 CET gedung Kimia dan Fisika sudah mulai dipenuhi olah mahasiswa kedokteran Giessen, yang sebagian besar berada di semester 4. Semua sibuk masing-masing. Ada yang masih belajar, ada yang ngerokok *anak kedokteran kok ngerokok :/*, bercanda dengan temannya, panik dsb. Pintu utama gedung Kimia pun dibuka. Para mahasiswa berbaris teratur, menyiapkan kartu mahasiswanya sebagai tanda terdaftar menulis ujian. Para mahasiswa sibuk mencari tempat paling nyaman untuk menulis ujiannya. Yang jelas barisan paling belakang biasanya paling cepat penuh. Sebagian besar mahasiswa duduk berdekatan dengan temannya mainnya, entah apa motifnya. 

http://home.arcor.de/lc-pit/homepage/mathe/tutorium/HSB.JPG


Pukul 18.30 Prof. Niepmann mulai menjelaskan syarat menulis ujian, hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tidak lupa juga menjelaskan cara mengisi jawaban pada lembar jawaban. Sistemnya mirip UN, karena lembar jawaban akan diperiksa oleh komputer. Tapi kita ga perlu melingkari, menyilangkan jawaban di dalam lingkaran saja sudah cukup. 

Saya gugup, karena saya ingin dan harus lulus ujian ini. Persyaratan untuk ujian negara saya bulan Maret nanti. Teman sebelah saya, Anna, membuat situasi semakin mencekam.

''Syifaaaa... das ist so traurigggg!!'' - ''Syifa... ini begitu menyedihkan!!''
''Das ist wahrscheinlich unsere letzte Klausur, die wir zusammen schreiben.'' - ''ini mungkin ujian terakhir kita, yang kita tulis bareng-bareng.'' 

Saya ga mau ambil pusing.. Cuma kasih senyum ke dia, terus minta permen buat bikin tenang sedikit hehe.

Soal dibagikan, ujian pun dikerjakan. Saya membuka halaman pertama.. Soal pertama? bisa.. Soal kedua? bisa.. Soal ketiga? hmmm... tandain dulu.. Sampe ke soal terakhir, saya baru nyadar cuma yakin 16 dari 30 soal. Padahal syarat kelulusan minimal 18 poin. Saya menggerutu dalam hati, ''Kenapa soalnya lebih susah dari alte Klausuren yang saya kerjakan :(''. Atas izin Allah SWT, saya bisa menjawab soal tersebut, 50% yakin, 50% menebak hehe. 

Selesai ujian para mahasiswa meninggalkan ruangan dan menunggu di aula. Menunggu apa? Menunggu kunci jawaban dibagikan oleh Prof. Niepmann. Ketika Prof. Niepmann datang, sekitar 70 mahasiswa ini mengerubunginya layaknya anak ayam yang kelaparan sedang meminta makan. Aula tiba-tiba menjadi ramai, lalu mendadak jadi sunyi. Semua mahasiswa sibuk menyamakan jawaban mereka dengan kunci jawaban.

''Ich will die Antwort gar nicht wissen..'' - ''saya ga mau tau jawabannya sama sekali'', kata saya pada Anna.

Dia tidak memedulikan saya, lalu lanjut mengoreksi jawabannya.. 

''Ahhh... Ich hätte von dir nicht abschreiben sollen!!'' - ''Ahhh.. seharusnya gue tadi ga nyontek dari lo!'', teriak salah satu cewek dari ujung sana.

''Juhuuu! Ich hab die Klausur bestanden!!'' - ''Yuhuuu.. gue lulus!!'', teriak mahasiswa lain.

Saya menoleh pada Anna, ''Wie viel hattest du?'' - ''Berapa kamu dapet?''
''Zehn...'' - ''Sepuluh..'', jawabnya dengan pelan.

Anna pun pergi meninggalkan saya tanpa berkata apapun.. Schade.. keliatannya dia sangat kecewa karena belum lulus (lagi) ujian biokimia ini. Saya mengamati lagi suasana sekitar. Ada yang teriak kegirangan, sampai lupa teman sebelahnya ada yang sedih karena tidak lulus. Ada yang kesal sambil menghentak-hentakkan kaki menunjukkan kekesalannya. Ada yang santai karena belum lulus lalu melanjutkan obrolan dengan teman lainnya. 

Saya menoleh jam.. Bus datang 20 menit lagi. Masih ada waktu.. Ah tapi raga saya tidak mau berada disini. Tidak suka melihat ekspresi teman-teman yang lulus dan tidak, seperti melihat drama. Saya pergi meninggalkan gedung Kimia itu. Berjalan menuju halte Bus sambil memikirkan, apa yang sedang Anna lakukan malam ini, disaat rasa kecewanya sedang memuncak. Maaf belum bisa jadi teman baikmu.



Gießen, den 15.01.2015
sambil-menikmati-deru-suara-kereta-api

Tuesday, January 13, 2015

Post-physiologie-klausur


Marktplatz, Gießen. 13.01.2015 21.10 CET

Hari ini...
schlechte Laune karena sulit mengerjakan soal ujian fisiologi..
semakin sedih karena ketinggalan bus yang-baru-aja-lewat-dihadapanku
sampai jadinya ketinggalan-bus-untuk-kedua-kalinya
dan akhirnya terdampar di pusat kota Gießen di malam hari

Memang Allah punya rencana yang indah..
sambil menunggu bus datang
menikmati rintikan hujan
di tengah kota Gießen yang------------sepi

Aku berdiri di bawah hujan..
Memejamkan mata..
Menikmati setiap rintikannya..

Aku rindu Bogor.....................

''Ich hab mein Herz in Bogor verloren''


Gießen, 14.01.2015

PS : tulisan ini bukan puisi :p



Saturday, January 10, 2015

11 Januari #edisi ke 3

Genap sudah hari ini
Tiga tahun menetap di tanah eropa..
Berbatas jarak ribuan kilometer
Bersama hati dan jiwa
Jauh dari yang tersayang..

Sudah 3 tahun disini..
Apa yang sudah kau lakukan?
Apa dedikasimu selama ini?
untuk keluarga?
negara?
agama?

Malam ini aku hanya ingin merenung
Tak lupa juga bersyukur..

Aku masih dalam perjalanan..
Tunggu saja jika waktunya telah tiba




Gießen, 11.01.2015
merenung-dalam-kesepian

ask.fm/gehtlosss


punya pertanyaan seputar kuliah di Jerman?
atau pengen tau hal-hal lain tentang Jerman?

Feel free to ask questions! :)
ask.fm/gehtlosss

Wednesday, December 31, 2014

Salju

http://dreamatico.com/snow/1/

Malangnya nasib si Salju..
ketika ia datang, semua mengelu-elukannya

Namun,
ketika ia sudah bersahabat dengan tanah
semua melupakannya

Layaknya manusia,
yang ketika terlahir ke dunia
tangisannya sebagai rasa haru bahagia

dan setelah kematiannya..
setelah bercampur dengan tanah..
siapa yang masih ingat?

Frankfurt, 31.12.2014

Friday, December 26, 2014

Buku Informasi Studi di Jerman




Setelah satu tahun buku ini diterbitkan, akhirnya saya baru bisa membacanya plus testimonial pengalaman pribadi saya mengenai pengurusan studi di Jerman. Agak kaget karena tulisan saya ternyata dimuat sampai 3 halaman! hehe.. 

Übrigens.. seperti judulnya, buku ini mengumpulkan berbagai macam Informasi mengenai studi di Jerman. Diantaranya adalah gambaran umum mengenai Jerman, persiapan studi, apa itu Studienkolleg, apa pentingnya Studienkolleg, bagaimana cara mendaftarnya, bagaimana persiapan menuju perguruan tinggi, perbedaan Universität & Fachhochschule, info beasiswa, hal-hal yang harus dilakukan ketika berada di Jerman, apa yang harus dilakukan setelah selesai studi di Jerman, daftar penerjemah tersumpah dan masih banyak info lainnya..




Buku ini bisa dikatakan sebagai buku pedoman agar tidak ''tersesat'' di Jerman :)) So... selamat membaca!! 

Spesifikasi Buku
Judul : Informasi Studi di Jerman
Penulis : WUSKI Team
Penerbit : World University Service Komite Indonesia
Tebal buku : 230 Halaman
Kontak : WUSKI Indonesia




Gießen, 26.12.2014
sambil menghabiskan tegukan terakhir Good Day Mocacinno

Saturday, December 13, 2014

Tetangga Sebelah & Menikah



Malam itu saya tiba-tiba mendapatkan pesan Whatsapp dari tetangga sebelah, Lennart. Intinya dia cuma mau tanya apakah musik dia mengganggu saya, terlebih ketika tengah malam. Ternyata ada hal yang lebih menarik dari pembicaraan musik. Dia bertanya, apakah foto bayi di Profpict Whatsapp saya itu adalah anak saya. 

Saya bertanya balik, ''Apa saya terlihat seperti sudah menikah?''

Mungkin dia merasa aneh dengan pertanyaan saya tersebut. Dia pun menjawab pertanyaan saya, dengan pertanyaan lain, ''Kenapa harus menikah dulu untuk bisa menjadi ibu? Orang kan juga bisa punya anak tanpa harus menikah dulu...''

Aha.. saya baru menangkap arah pembicaraan dia. Saya lupa bahwa saya sedang berbicara dengan mereka, yang hidup di negara bebas, dan bahwa menikah bukanlah hal yang wajib. Pembicaraan kami lewat Whatsapp pun berlanjut. Mengalir dengan tema agama.. 

Sepertinya hal tersebut membuat dia benar-benar penasaran. Saya kira pembicaraan kami sudah selesai. Ketika di dapur, dia melanjutkan lagi tema ini. Saya pusing dibuatnya. Kalau saja saya bisa menjelaskan ke dia dengan bahasa indonesia, atau kalau saja saya bisa lancar berbahasa jerman sampai-sampai bisa menerangkan tema rumit ini dengan sederhana. 

Sampai pada titik pembicaraan kami, dia mengakui bahwa menikah adalah pilihan terbaik daripada hanya ''Zusammenleben'' atau tinggal bersama. Namun jika orang menikah, dan nantinya harus bercerai, proses itu sangatlah rumit menurutnya. Sehingga dia-dan sebagian besar orang jerman- memilih untuk hanya tinggal bersama tanpa terikat hukum. Sampai satu hal mengganjal dalam hati nya. Bagaimana kita bisa tau, bahwa pasangan kita saat itu adalah yang terbaik? Dia lebih cenderung memilih-dengan merasakan tinggal bersama-sehingga tau apakah wanita yang bersamanya adalah cocok untuknya.

Saya pun bertanya pada diri sendiri. Lalu bagaimana jika cinta itu dipertemukan karena cinta kepada Yang-Maha-Pencipta, Yang-Maha-Kuasa? Sehingga ke-tidak-cocokkan bukanlah hal yang berarti, dia hanya sebatas penghias kehidupan?