Pages

Saturday, January 11, 2014

Flashback from Jan 2012

Mengenang 2 tahun lalu sejak keberangkatan saya ke Jerman... ga ada salahnya ya saya flashback apa saja yang sudah saya raih selama 2 tahun di jerman ini..

Berawal dari adaptasi di Jerman. Saya yang datang ke Jerman sendiri, tidak punya keluarga & saudara, hanya bisa bersyukur. Sang Pencipta menjaga saya dari segala kejahatan & keburukan. Ini juga berkat doa orang tua, keluarga dan teman-teman semua. Seminggu pertama saya hanya berdiam di kamar. Tidak kuat dengan dinginnya kota Hannover. Keluar rumah hanya sekedar belanja atau foto-foto, maklum ini kali pertama saya ke Eropa hehe. Saya masih belum bisa menghafal jalan. Bersyukur saya tidak sendiri, Hilmi & Natan, teman seperjuangan saya selalu menemani saya. Mereka terkadang seperti kakak, adik, kadang body guard bahkan porter yang suka bawain barang-barang berat saya :D Teringat betapa ndesonya kita, ketika pertama kali melihat salju turun. kita kegirangan layaknya anak kecil yang diberi sekarung cokat. 

Sang Pencipta pun berkata lain, kita ternyata harus berpisah, mungkin agar kita bisa mandiri dan tidak bergantung satu sama lain. Hilmi di Hannover, saya di Halle dan Natan di Konstanz. Dan sampe detik ini, bertemu dengan Natan itu lebih susah dibanding bertemu dengan artis Ibu Kota :p

di Halle saya memiliki keluarga baru. Keluarga Müller, Mute, ka Chana, ka Rizka, ka Niwi, ka Fara, ka Olla, ka Tami, ka Chila, Heni, Osel, ka Diani, ka Jan, teman2 seperjuangan M Kurs yang rajinnya tak tertandingi Albert, Grand, Karen, Anne, Sahid, Vania, Banu, Emily, Fairuz dan semuanya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih untuk satu tahun yang tak terlupakan!

Lulus FSP saya pun berimigrasi ke Berlin. menemukan keluarga keluarga baru lagi, belajar banyak hal hal baru dari mereka, mereka selalu mengingatkanku jika aku melakukan kesalahan, mereka bagaikan keluarga kedua ku di Jerman.

oya mengenai pekerjaan.. sedikit banyak saya disini menjelma juga menjadi kuli hehehhe. pekerjaan pertama saya yaitu loper koran. saya bekerja selama hampir 1 bulan dengan gaji sangat minim, 7€ per hari. setelah itu saya merangkap sebagai cleaning service di hotel. pekerjaan yang sangat melelahkan dan bikin tangan saya pegal pegal setelah sampai rumah. kelebihannya gaji besar sekitar 9€ per jam dan saya terbiasa menjadi orang super bersih (efek samping jadi cleaning service). lalu saya melanjutkan bekerja di pabrik mobil. saya sendiri ga ngerti, kenapa saya dikasih kerjaan disini. saya harus memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Satu barang yang sangat kecil saja, beratnya saya perkirakan sampai 1 kg lebih. Saya tidak kuat kerja disini walaupun mendapatkan gaji 8,5€ per jam. Pasalnya pekerjaan ini berat, dan saya adalah pekerja wanita satu satunya disana. Bekerja dikelilingi para lelaki berotot, berpakain hanya kaos kutang membuat saya takut sendiri hehehe. Lalu di Berlin, saya mendampingi siswa siswi yang baru sampai di Jerman, dari melaporkan diri, perpanjang visa, aktivadi rekening Bank dll. Setelah saya berimigrasi ke Gießen, saya mulai mendapatkan pengalaman kerja baru yang menarik. Pertama saya mencoba menjadi Tourguide. Saya menemani tamu dari perusahaan Indonesia berkeliling Swiss Perancis dan Italy. Saat itu saya hanya meminta upah 200€, dimana menurut traveler sejati, upah tersebut sangatlah minim. Tak apalah, untuk pengalaman pertama :) Dan yang terakhir saya bekerja di Pflegeheim, yaitu tempat tinggal untuk orang cacat dan orang yang sudah tua. Gajinya cukup besar, 9€ per jam. Alhamdulillah nya lagi, tempat kerjanya tidak jauh dari rumah saya. Pekerjaan saya adalah merawat mereka. Dari mulai memandikan, menyuapi, membersihkan mereka jika mereka BAK & BAB, mengajak mereka berinteraksi dsb. Meskipun awalnya saya merasa jijik, sekarang saya pun sudah memulai terbiasa. Toh jika saya sudah jadi dokter, saya pun akan banyak berinteraksi dengan aktivitas ini :))))

Sekarang saya sedang menjalani Semester 2 di dunia perkuliahan kedokteran. Alhamdulillah puji syukur, sampai saat ini kuliah saya lancar. Awalnya saya memang tidak terlalu terobsesi menjadi dokter. Namun setelah memulai kuliah, ternyata banyak hal baru yang saya temukan. Menjelajahi Anatomi tubuh manusia. mempelajari proses proses kimia yang ada di dalam tubuh. mengenal penyakit beserta penyebabnya. secara tidak langsung, saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Hebat, yang telah menciptakan makhluknya dengan sangat terperinci. 

Akhir kata dari ke-melow-an saya hari ini hehe saya minta doanya agar studi saya dilancarkan dan cita-cita saya pun tercapai. sehingga saya bisa jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. saya pun berharap yang sama untuk teman teman semua!

Saturday, January 4, 2014

Motivatorku..

Setiap Rabu sore di semester 2 saya masuk ke kelas EKM (Einführung in die klinische Medizin). Disini kita mendengarkan seminar langsung dari dokter spesialis di bidangnya masing-masing. Para dokter menjelaskan hubungan antara teori yang sedang kita pelajari di pre klinik ini dengan praktik kedokteran sesungguhnya. Hari itu, Rabu 20 November 2013 saya benar-benar tidak ada keinginan untuk masuk ke kelas ini. Pasalnya jam 8 malam nanti, saya harus mengikuti ujian Fisika pertama saya. Du lieber Gott, ujian macam apa malam-malam seperti ini, ketika gedung-gedung kampus sudah sepi dan kantinpun sudah tutup saya masih harus menulis ujian. Namun mau tidak mau saya harus datang ke kelas EKM ini, karena ini adalah kelas wajib.

Ternyata saya tidak menyesal datang ke kelas EKM pada hari itu. Karena dokter cantik spesialis kandungan lah yang memberikan materi Seminar. Namanya dr. med Yasemin Tastan. Dari namanya terdengar seperti turunan Turki. Ketika beliau memasuki ruangan, temanku berkata ''Hööö.. wer ist sie?'' Hey, siapa dia?.. Kami semua menyangka bahwa ada mahasiswi lain yang salah masuk ke ruangan kami. Namun ternyata dia lah si pembicara kita pada hari itu. Dia sangat cantik, masih muda dan terlihat tipe periang. Pikiran pertama yang muncul di kepala saya adalah ''Saya semakin termotivasi untuk menjadi Dokter spesialis kandungan''. Dia ternyata menyampaikan seminar dengan cara yang berbeda. Tanpa Slideshow dan menjelaskan sembari duduk. Dia mengawali seminar dengan menceritakan bagaimana dia bisa jadi Gynäkologin. Sejak kecil ia ingin sekali menjadi dokter, tepatnya Pädiatrie, dokter spesialis anak. Namun dari hasil rapornya, hampir semua guru mencibirnya. Bagaimana dia bisa menjadi dokter, kalau nilai rapor dia semua jelek. Guru-guru nya pun menawarkan agar dia mengambil jurusan lain. Ternyata dia adalah tipe kepala batu, setelah lulus sekolah dia mendaftar jurusan Kedokteran di Gießen. Dengan nilai yang pas pas an, akhirnya dia pun mendapatkan tempat disana.  Selanjutnya dia menceritakan bahwa dia tetap ingin menjadi dokter anak. Ketika harus melakukan Praktikum, dia melamar di stasiun bagian Anak. Namun karena kehabisan tempat untuk Praktikum disana, dia pun mencoba Praktikum di stasiun Kandungan. Awalnya dia merasa jijik. Melihat para wanita terbaring lemah di atas kasur, dengan darah yang berceceran.. ''Ohhh nein..... das ist schlimm!'' Oh tidak... ini parah!, sahutnya. Ingin rasanya praktikum di stasiun ini segera berakhir, pikirnya. Namun ketika dia menemani dokter di ruangan praktiknya, untuk mendengarkan konsultasi para pasiennya, hilanglah semua keraguan pada dirinya.

Saat itu dia sedang melihat data pasien yang akan masuk. Sepasang suami istri. Diapun menerka sang istri bukanlah warga negara Jerman, karena nama yang asing yang tidak ia kenal. Ketika pasangan ini datang, dokter di ruangan tersebut dan dia pun tertegun. Ternyata mereka adalah pasangan homoseksual! Mereka menceritakan, betapa mereka ingin memiliki anak dari rahim sang ''istri'' sendiri. Mereka siap berkorban, siap mengeluarkan uang berapapun asalkan mereka bisa memiliki anak. Dokter pun menolaknya, dengan banyak pertimbangan. Pasangan ini pun pulang dengan kecewa. Selama menemani dokter di ruang Prakteknya, dia selalu menemukan cerita-cerita menarik dari dari pasangan suami istri yang mendambakan seorang anak. Akhirnya dia pun memantapkan diri setelah lulus kedokteran umum untuk mengambil spesialis Obstetri & Gynäkologie (Spesialis kebidanan dan kandungan)

Singkat cerita sekarang dia bekerja di Uni Klinikum Gießen juga sebagai dokter yang menangani perancangan kehamilan untuk pasangan yang sulit memiliki anak. Ada satu cerita mengharukan yang ia ceritakan juga. Sepasang suami istri ini sudah lebih dari 4 kali mencoba künstliche Befruchtung  (Assisted reproductive technology) untuk bisa mendapatkan anak. Sayang mereka belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Datanglah pasangan ini pada dokter Yasemin. Dia pun menjelaskan dari awal bagaimana proses ini dilakukan, kemungkinan gagal dan sebagainya. Dengan mengeluarkan biaya sekitar 5000€ pasangan ini pun menyetujuinya. 7 bulan kemudia sang istri pun hamil, dan ajaibnya ia mengandung 4 orang anak sekaligus. Seiring berjalannya waktu, dokter Yasemin pun mendiagnosa bahwa sang istri mengalami gangguan jiwa. Setiap harinya ia berkata pada dokter bahwa ia hanya ingin mengambil dua anak saja, dua lainnya pun diadopsikan.  Ia terus memilih 2 anak yang ingin dia ambil dan pilihannya pun selalu berubah. Sampai waktunya tiba 4 buah anak tak berdosa pun lahir, dia memilih 2 anak yang keluar dari rahimnya pertama kali. 2 anak yang lain ia titipkan pada sang ibu. Setahun kemudian, pasangan ini menyadari bahwa anak yang mereka pilih semuanya cacat. Sang ibu lalu dengan mudahnya menukarkan si anak dengan anak yang dia titipkan pada ibu nya. Sampai sekarang,  dokter Yasemin pun belum mendengar lagi kabar dari sang Ibu dan para anaknya. Namun ia sangat menyayangkan atas sikap yang sang ibu ambil, sungguh malangnya nasib si anak.

Sejak pertemuanku dengan dokter Yasemin ini.. hatiku semakin terpaut untuk menjadi dokter spesialis kandungan.. mohon doanya, semoga mendapatkan yang terbaik :)

Friday, September 27, 2013

Surat cinta untuk cucu tersayang




"Syifa sayang,

terimakasih untuk surat cinta yang kamu tulis, kami disini sangat senang sekali! Kami kangen sekali dengan kamu dan kami selalu memikirkanmu. Bagus mendengar kamu pergi ke Köln, Aachen, Mastricht dan Brussel! terima kasih juga untuk Foto yang cantik saat di Köln! Studimu memang susah, TAPI kamu pasti bisa! Waktu-waktu yang terasa sulit - jangan takut - mereka akan cepat berlalu. Semoga kamu mendapatkan teman disana, hal ini sangatlah penting! Kami selalu menyemangatimu, untuk setiap Ujian dan dengan ini semua akan berjalan baik untukmu.

kami memelukmu!

Opa & Oma mu

All the best for you!"

Malaikat dari Halle : Kehangatan Nenek Gisella & Kakek Igor

Berawal dari perkenalan singkat bersama sepasang kakek&nenek yang sudah berumur 70 tahun lebih ini di kota Halle, saya belajar banyak hal dan disinilah saya memiliki keluarga baru.

Pertama kali berkunjung, saya datang bersama 3 teman saya ke rumah pasangan ini untuk minum teh bersama. Kami dijemput di Haltestelle1 dekat rumah mereka oleh Kakek Igor sekitar jam 4 sore. Awalnya saya merasa canggung luar biasa. Karena saya baru sekitar 4 bulan di Jerman, dan belum tahu bagaimana tatakrama bertamu di Jerman. Ketika kami masuk, kami disambut oleh pelukan hangat nenek ini. Ya, Nenek Gisella memberikan kami pelukan hangat walaupun ini adalah kali pertamanya kami bertemu. Dia tidak peduli bahwa kami adalah orang yang baru ia kenal dan kami penduduk asing di Jerman.

Setelah itu, dipikiran saya adalah mencari dimana ruang tamu berada. Tapi ternyata Nenek Gisella mengajak kami mengelilingi seisi rumahnya. Dia menunjukkan kami dimana dapur, kamar mandi, ruang tv, makan dan ruang tamu, serta ruang tidur mereka. Tak lupa dia juga menjelaskan secara singkat beberapa foto yang dia pajang di rumahnya.


Barulah setelah itu kami pergi ke ruang tamu dan kami disuguhi banyak makanan. Ternyata Nenek Gisella membuatkan kami banyak sekali kue. Kakek Iron pun membelikan kami berbagai macam ice cream, sampai kami pun speechles begitu senangnya. Dan mulailah perbincangan kami yang berawal dari memperkenalkan keluarga masing-masing sampai obrolan masa penjajahan Belanda.  Sampai waktu menunjukkan pukul 10 malam, kami pun pulang ke rumah.

Ruang tamu rumah kakek&nenek

Kunjungan kami yang pertama ini membuat saya sangat senang bukan main. Saya merasa memiliki keluarga baru dan tidak merasa kesepian lagi. Disela-sela waktu sekolah, saya sempatkan untuk menelpon mereka hanya sekedar menanyakan kabar. Minimal sebulan sekali kami berkunjung ke rumah mereka. Nenek Gisella juga rajin mengirimkan surat, kartu pos, kalender bahkan coklat kepada keluarga kami di Indonesia. Kakek Iron mengantarkan makanan jika kami sakit. Mereka membantu tugas-tugas sekolah kami, membantu kami mencarikan rumah. Nenek Gisella mengundang kami datang ke kebunnya di waktu musim panas, dan kami bersama kakek Iron memetik buah Strawberry bersama. Pergi menonton konser musik dan berburu makanan di Weihnachtsmarkt adalah kegiatan kami di musim dingin. Nenek Gisella juga mengajarkan saya cara membuat keramik. Ketika mereka berulang tahun, kami juga datang untuk merayakannya. Dan kami merayakan bersama kunjungan Mama saya di Jerman. Tak terasa lambat laun kami seperti benar-benar keluarga.

Sampai akhirnya saya harus meninggalkan kota Halle. Berarti saya meninggalkan Nenek Gisella dan Kakek Igor, meninggalkan keluarga baru saya. Hari terakhir saya di Halle, saya berkunjung ke rumah mereka dan memberikan sebuah figura. Nenek Gisella pun menangis atas kepergian saya. Hari itu, menjadi hari yang sangat mengharukan.

Tak disangka-sangka, sebulan setelah kepergian saya Nenek Gisella & Kakek Igor mengirimkan saya banyak sekali kertas kosong beserta amplop. Ternyata mereka ingin agar saya selalu mengirimkan kabar kepada mereka, karena mereka sangat khawatir terhadap saya. Saya pun mulai mengirimkan surat tentang pengalaman pertama kuliah saya, bagaimana kehidupan saya disini. Saya pernah hanya mengirimkan surat berisikan saya lulus ujian Anatomy tanpa kata-kata lain dan mereka pun membalas surat saya dengan ucapan selamat yang bertubi-tubi. Tepat di hari ulang tahun saya, Briefkasten2 saya penuh dengan paket berisi coklat dari mereka. Sampai ketika saya berencana pulang ke Indonesia, kakek Igor mengirimkan saya banyak keramik untuk keluarga saya.

Hampir dua taun saya mengenal mereka, saya belajar bagaimana cara menyatukan budaya, agama, cara pandang dan prinsip yang berbeda. Belajar untuk selalu membuat senang orang-orang di sekitar, belajar mensupport satu sama lain, belajar untuk tidak pernah lelah membantu orang, belajar untuk selalu berlaku baik, belajar untuk selalu semangat dan tegar menjalani hidup dan belajar untuk saling menyayangi. Saya bersyukur kepada Allah SWT diberi kesempatan untuk mengenal pasangan ini, yang telah memberikan saya banyak pelajaran berharga.








Haltestelle1 – Halte
Briefkasten2 – Kotak Pos

Monday, December 31, 2012

Halo haloooooo! Ketemu lagi hehe. Labil banget yah nulis pertama kali bulan September & baru nulis lagi sekarang, Desember akhir. Maklum emang saya ga bakat buat nulis, entah kenapa juga kepikiran buat bikin blog :O

Well, sebenernya saya mulai ada Lust buat nulis lagi karena bingung aja ga ada kerjaan di malam terakhir taun 2012 ini hehe. Keluarga saya bukan keluarga yang suka merayakan pergantian tahun, tapi doch kita dulu-dulu selalu berkumpul bersama di malam pergantian tahun. Kita selalu berkumpul di Villa atau di rumah nenek, terus main kembang api bersama. Tapi setelah nenek meninggal, anak dan cucunya pun mulai sibuk dengan urusan masing-masing, perlahan ritual itu menghilang. Dan yaaaah ayah ibu saya memang terlahir tidak suka keramaian mungkin ya, jadi kita tidak pernah berkumpul bersama di malam pergantian tahun lagi hehe, alhasil sekarang saya juga cuma duduk di depan laptop sambil selimutan..

Mengingat setahun yang lalu, saat malam pergantian tahun lampu rumah sudah mati semua dan semua penghuni rumah sudah tidur. Jengkel sih, tapi rasa jengkel itu tertutupi dengan rasa gusar. Gusar karena kurang dari 2 minggu lagi, saya akan pergi ke Jerman dan menetap dengan waktu yang cukup lama.



Yap! tepat tanggal 11 Januari 2012,setahun yang lalu, saya terbang ke Jerman dan meninggalkan keluarga & teman teman tersayang :''


   

Saturday, September 8, 2012

die Sterne greifen

Saatnya saya mencoba untuk menulis perjalanan kehidupan di negara dimana saya harus berjuang mati-matian demi masa depan.  Ya, Jerman. Apa yang orang pikirkan saat mendengar kata "Jerman". Eropa? Bola? Negara maju? Tak jauh seperti itulah yang ada di dalam benak saya saat Ambu (panggilan untuk mama) menawarkanku untuk melanjutkan kuliah disana.  


Memang saat duduk di bangku SMA kelas 1, sudah terpikirkan oleh saya bersama Jova, teman saya, untuk melanjutkan kuliah di luar negri dengan beasiswa. Ternyata sangat sedikit beasiswa yang diberikan untuk Bachelor dibanding Master dan Doktor. Saya coba untuk mendaftar beasiswa ke banyak tempat, termasuk beasiswa ke Jepang yang sangat terkenal, yaitu Monbukagakusho. Sayangya saya tidak lolos seleksi. Suatu hari, datang sebuah agen Pendidikan ke sekolah saya yang menawarkan kulaih S1 di Jerman. Dalam benak saya, ah Jerman! Negara Eropa.. Kualitas pendidikan kedokteran yang bagus.. aaah saya mau kesana.. Ditambah lagi, agen tersebut megatakan bahwa kuliah di Jerman tidak dikenakan biaya dan hanya membutuhkan minimal nilai 7 di rapot.  Mudah sekali untuk kuliah di Jerman dibanding di Indonesia, dimana masuk Universitas unggul melalui jalan PMDKpun membutuhkan nilai rapot minimal 8,5. Ditambah lagi biaya kuliah di Indonesia yang sangat mahal. Alhasil saya pun tertarik dengan tawaran tersebut. Tapi ternyata biaya pengurusannya tidaklah murah. Sayapun mulai mencaritahu agen pendidikan yang lain dan membandingkan harganya, tapi ternyata semua menawarkan biaya pelayanan pengurusan yang tidak jauh berbeda. Sedikit perasaan tidak enak pada orangtua  menghantui saya, saya tidak mau membebani orangtua dengan biaya semahal itu. Walaupun memang nantinya saya tetap akan kuliah dengan biaya yang gratis seperti info yang didapat.

Mulai saya mencari informasi sebanyak banyaknya lewat Internet dan menambah kenalan pelajar-pelajar Indonesia yang bersekolah di Jerman melalui Facebook. Bisa dibilang rasa malu saya sudah hilang, semua pelajar Indonesia di Facebook yang berada di Jerman saya kirimi Message yang kurang lebih isinya  untuk berkenalan dan  mengetahui lebih banyak Info tentang Study di Jerman. Alhamdulillah ternyata banyak yg merespon positiv dari pesan saya ini.

Berawal dari Facebook ini akhirnya saya bisa mengenal Ka Bambang Sutrisno, Ka Andi, Ka Ali dan teman-temannya. Mereka adalah pelajar lulusan Jerman dan sekarang berada di Indonesia. Pernah suatu hari saya diajak untuk datang ke acara 'Stammtisch' PAJ (Perhimpunan Alumni Jerman) di daerah Kemang Jakarta. Agak kikuk memang pada saat itu, karena pasalnya saya hanya mengenal ka Bambang di acara itu namun akhirnya saya diperkenalkan dengan teman-temannya yang lain dan alhasil saya mendapat banyak pengalaman cerita dari mereka mulai dari perbandingan Studi di Indonesia dengan di Jerman, cara hidup pelajar Indonesia disana, cara belajar, pemasalahan dalam bahasa dan banyak lagi. Oh iya! Disana sayapun bertemu dengan Dr.-Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA. Beliau adalah anak pertama dari Pak Habibie dan Ibu Ainun (alm). Sekarang beliau menjabat sebagai Ketua Umum PAJ ini. Sayangnya.. saya tidak sempat berfoto bersama beliau..

Dari pertemuan di PAJ itu, saya mulai mengenal ka Andi. Beliau adalah mahasiswa lulusan TU Berlin yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan di Indonesia dan menduduki jabatan yang tinggi. Walaupun beliau sibuk, beliau masih bisa meluangkan waktunya untuk saya dan Sarah untuk belajar bahasa Jerman setiap Weekend. Dan juga Ka Ali, beliau adalah seorang Konsultan dan bekerja di perusahaan yang ia bina sendiri, lewat Ka Ali saya diperkenalkan oleh Pak Munir. Beliau sudah lebih dari 50 tahun tinggal di Jerman, melebihi Pak Habibie ujarnya. Beliau tinggal di Berlin dan setiap 3 bulan sekali beliau terbang pulang ke Indonesia untuk menegoki rumahnya di Jakarta. Pak Munir berkata, kalau saya sudah di Jerman, beliau sangat senang jika saya mengunjungi rumahnya di Berlin dan beliau akan siap membantu semampu beliau jika saya membutuhkan bantuan. Sure, saya tidak menolak tawaran itu!

Ingin kuliah di Jerman, tentu harus bisa berbahasa Jerman. Walaupun nanti kalian akan kuliah di jurusan dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris, kalian tetap harus menguasai bahasa Jerman untuk percakapan sehari-hari. Saya belajar bahasa Jerman dari dasar. Dulu saat masih di SMA, bahasa asing yang saya pelajari adalah Perancis, sehingga saya benar-benar buta dengan bahasa Jerman. Mulai lah saya mengikuti kursus bahasa di Goethe-Institut Jakarta. Saya mengikuti kursus ini setelah saya selesai mengikuti Ujian Nasional. Dari senin sampai Jumat, mulai jam 8 pagi sampai jam 1 siang saya belajar di Goethe ini. Karena saya tinggal di Bogor, mau tidak mau saya harus menjadi ‚Anak Kereta‘ setiap harinya. Berangkat jam setengah 6 pagi, berjuang dengan para pekerja untuk merebutkan kursi di kereta hehe.. Tapi akhirnya sayapun punya siasat agar saya tidak harus berebut kereta dengan mereka. Saya berangkat lebih pagi lagi jam 5 subuh! Lalu saya dengan leluasa bisa memilih tempat duduk di kereta dan melanjutkan tidur hehe. Sekitar jam setengah 7 pagi saya sampai di Goethe, barulah saya memulai sarapan di Kelas. Yaaa cara ini saya rasa lebih enak, dibanding saya berangkat agak siang dan harus berdiri selama perjalanan Bogor-Jakarta. Di Goethe saya bisa belajar bahasa Jerman dengan leluasa. Disana juga ada perpustakaan yang nyaman banget. Bisa dibilang, itu adalah perpustakaan pertama yang bisa bikin aku berjam-jam betah stay disitu. Disana kita bisa membaca buku tentang Budaya Jerman, info-info pendidikan, kita bisa nonton Film dan Musik Jerman.. Guru-gurunya pun sangat mendukung kita, jika kita punya pertanyaan seputar pendidikan atau meminta saran, mereka dengan senang hati bersedia membantu seperti guru saya Frau Lela, Olly, Ratna, Irma, Merry dan Tamo. Tak terasa juga, saya cepat akrab dengan temen-temen di Goethe ini. Malah kita sudah seperti saudara karena kita punya tujuan yang sama dan akan sama sama berjuang di negara yang sama. Sarah, Gemma, Sheryl, Kinda, Regina, Bena, ka Helmi, ka Saras, Dira, Hafidz, Hilmi, Natan, Bram, Kefas, Om Hur, Marcello, Sabda, Koko, Bang Almon, Kiki, Ariel, Eland... Sooo.. Ich vermisse euch sehr! Ehrlich! Hehe..

Bena, Dira, Regina, Kinda, Saya di A1-Kurs
Kinda, Gemma, Regina, Saya, Sarah di B1-Kurs
Sheryl, Saya, Regina & Ka Helmi di Pameran ''Jerman für Anfanger''. Acara ini diadakan setiap tahun. Di Pameran ini kita bisa tahu segala info tentang Jerman dari mulai Budaya, Gaya Hidup orang Jerman, Festival-Festival yang ada di Jerman, Sejarah, Sepak Bola dan lain lain.
 Ini Foto kelas B1 bersama Herr Latschan, reporter dari Deutsche Welle setelah saya, Kiki, Koko Daniel, dan Regina diwawancara oleh beliau seputar Traumberuf.




Abschlussparty! Akhirnya kita punya Zertifikat-Deutsch untuk bisa mendaftar Studienkolleg di Jerman! Endlich..





Yaaa singkat cerita, akhirnya saya bisa melewati semua persyaratan agar saya bisa terbang ke Jerman! Tanggal 20 Desember 2011 pukul 11.30 saya mendapatkan telefon dari Deutsche Botschaft (Kedutaan Besar Jerman) bahwa saya sudah memiliki izin untuk pergi ke sana! Rasanya senang sekali bahwa saya tidak harus menunggu lama, tapi perasaan saya sekaligus sedih karena harus benar benar jauh dari keluarga :(

Sedikit info untuk kamu yang mau melanjutkan Study S1 di Jerman :
  • Biaya pendidikan di Jerman tidak semuanya gratis. Ada beberapa kota yang masih memungut biaya namun banyak juga yang sebelumnya bayar sekarang menjadi gratis. 
  • Arti kata gratis pun bukan gratis benar-benar tidak ada biaya yang dikeluarkan. Kita tetap harus membayar misalnya Semesterbeitrag, yaitu biaya layanan sosial dan administrasi. 
  • Di Jerman ada dua Sistem Perkuliahan yaitu Uni dan FH. Buat kalian yang mau kuliah disini, jangan sampai salah memilih atara FH & Uni ya!
  • Buat kita sebagai orang asing dan bukan berasal dari negara Uni Eropa harus mengikuti Pre-College terlebih dahulu. Lamanya sekitar 1-2 Semester. Namun ada juga banyak cara untuk langsung mendaftar kuliah tanpa harus mengikuti Pre-College. Pre-College ini lebih dikenal dengan Studienkolleg.
Dan ini adalah langkah-langkah singkat untuk kuliah S1 di Jerman :
  1. Kita harus mampu menguasai bahasa Jerman minimal sampai tingkat B1
  2. Mengikuti Zertifikat Deutsch Prüfung
  3. Menerjemahkan dokumen-dokumen di salah satu penerjemah Tersumpah yang sudah terdaftar di Kedutaan Besar Jerman seperti :
    • Ijazah SMA
    • SKHUN
    • Rapor SMA 2 semester terakhir 
    • Akta Kelahiran (untuk kalian yang berumur dibawah 17 tahun)

Info : Dokumen dapat di Scan dan dikirim via E-Mail kepada Penerjemah dan hasil terjemahannya akan dikirim ke alamat kamu, tapi sebaiknya bicarakan dahulu oleh Penerjemahnya. Lamanya waktu penerjemahan bisa 1-4 Minggu.

    4. Membuka rekening Deutsche Bank       
4.1 Mengirim E-Mail ke db.student@db.com untuk meminta pembukaan rekening Deutsche Bank. Email bisa dalam bahasa Jerman atau Inggris. Lampirkan Info siapa kamu, berapa umurmu, mau apa kamu di Jerman, apa tujuan kamu mengirim E-Mail.
Contoh permintaan Pembukaan Rekening Deutsche Bank
                                            
 4.2 Kamu akan mendapatkan balasan E-Mail yang berisi lampiran Form yang harus kamu isi
 4.3 Setelah kamu isi (pastikan Form belum ditandantangan dan semua Data yang kamu isi sudah benar), bawa Form tersebut beserta fotokopi passpor kamu ke Kedutaan Jerman untuk melegalisasi Form tersebut
 4.4 Setelah dilegalisasi, kirim Form tersebut ke alamat Deutsche Bank Hamburg
 4.5 Tunggu konfirmasi E-Mail dari mereka bahwa Rekening kamu sudah dibuka
 4.6 Setelah mendapat Informasi, kamu bisa mengirimkan uang sebesar yang ditentukan ( Tahun 2011 : 8040€)
 4.7 Setelah mendapat konfirmasi bahwa rekeningmu sudah terisi uang dengan sejumlah uang yang diminta, kamu akan mendapatkan lampiran surat melalui E-mail dan surat itu adalah salah satu syarat untuk apply visa.
Sebaiknya sebelum Formulir dikirim, kamu scan dahulu Formulir tersebut sehingga misalnya Deutsche Bank belum memberikan konfirmasi Opening Account dalam waktu yang lama, kamu bisa mengirimkan Email ke mereka agar waktunya bisa dipercepat dan jangan lupa melampirkan Scan Formulir tersebut sebagai tanda kamu memang sudah mengirimkannya.
     5. Mendaftar Studienkolleg (Sekolah untuk Pre-College)

  • Untuk persyaratan Pendaftaran kamu bisa liat di website Studienkollegnya masing-masing atau bertanya melalui E-Mail. Daftar Studienkolleg bisa kamu lihat di :  http://www.studienkollegs.de
  • Pendaftaran bisa melalui Uni Assist atau langsung ke Studienkollegnya ( tergantung permintaan masing-masing Universitas)
  • Menunggu surat Undangan dari Studienkolleg
         Penting! Dokumen yang kamu kirim ke Studienkolleg adalah Dokumen yang sudah di fotokopi legalisir.
             
    6. Membuat janji untuk apply Visa

    7. Apply Visa! 

Kamu juga bisa konsultasi mengenai pendidikan di jerman ke Kantor DAAD :
DAAD Jakarta Office
Jl. Jend. Sudirman, Kav. 61-62
Summitmas II, Lantai 14,
Jakarta 12190
Tel.: +62 (21) 520 08 70, 525 28 07
Fax: +62 (21) 525 28 22
E-mail: info@daadjkt.org 

Untuk kursus bahasa Jerman : Goethe Institut http://www.goethe.de/ins/id/jak/deindex.htm


Info Langkah-langkah ini saya tulis seperti yang saya lakukan dahulu. Tidak menutup kemungkinan bahwa banyak cara lain yang bisa juga dilakukan :D

Yap ini lah perjalanan singkat saya menuju ke Jerman. Memang  tidak lengkap, tapi semoga bermanfaat buat kalian yang membaca. Semoga jadi motivasi juga untuk melanjutkan studi di Jerman. Yuk penuhin Jerman dengan orang Indonesia hehe..