Pages

Tuesday, August 18, 2015

Drama Coklat

Layaknya seorang wanita yang takut ditinggal oleh kekasihnya.. merasa gelisah jika kekasihnya pergi. Sama seperti yang saya rasakan hari ini ketika kerja. Bukan dengan kekasih, melainkan teman kerja saya, Salma (nama disamarkan) hehe. Pasalnya sudah 4 hari saya dan Salma bekerja bersama di mesin yang sama, yang SELALU ngadat. Julius nama mesin tersebut. Julius ini mengemas coklat-coklat kelinci Bunny dengan baju berwarna gold. Sayangnya ia seringkali ngadat, membuat saya dan Salma kewalahan. Saya juga makin kebakaran jenggot kalo Salma meninggalkan saya hanya untuk ke toilet atau istirahat 10 menit. Itu berarti ketika Julius rewel, saya harus memperbaikinya sendiri. Saya harus memasukkan coklat Bunny secara manual ke dalam cetakan dalam mesin berjalan secara cepat, bersamaan dengan itu saya juga harus memperhatikan coklat Bunny yang lain agar tidak menumpuk dan sebagainya.. Sementara mesin tidak boleh diberhentikan. Karena setiap waktu kerjanya, kami harus memproduksi coklat minimal 400kg. Seperti kebakaran jenggot. Rasanya ingin menangis sudah :(

Sudah dua hari juga kepala bidang bagian produksi "COKLAT MINIS" kami diwakili oleh orang lain. Mendengar obrolan dari para pekerja disini, mereka kurang senang dengan si ibu wakil ini. Entah kenapa, yang jelas semua terlihat "malas" dengannya. Benar saja.. ketika saya ketemu dan melemparkan senyuman,  ternyata dia hanya melihat saya dengan muka datar, namun tidak kepada pekerja lainnya. Tak lama Salma meminta izin kepadanya agar saya dan Salma diizinkan pergi sholat sebentar. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya datar namun sedikit sinis.

Ibu : "Wo wollt ihr denn beten?" - "Emang kalian mau ibadah dimana?"
Salma : "Da, hinter der Treppe." - "Disana, dibalik tangga."
Ibu : "Weiß du, dass es verboten ist?!", - "Kamu tau kalo itu ga boleh?!" , tanyanya dengan logat rusia yang kental. "Ich hatte einmal jemand mit der Tür geschlagen, da sie hinter der Treppe gebetet hat. Selber Schuld! Ich musste ja dringend auf Toilette. Hahahaha!!" - "Gue pernah nabrak orang kena pintu, pas dia lagi ibadah di belakang tangga. Ya, salah sendiri! gue kan mau buru-buru ke toilet hahahaha", tawanya terbahak-bahak.

Salma : "Egal Syifa.. kommt!" - "Bodo amat Syifa, ayo!", Salma pun langsung menarik tanganku  dan menghiraukan ibu tersebut yang sedang menertawakan hal yang sebenarnya sangat tidak lucu. Sekejap pikiran suudzon saya keluar, apakah ibu ini tidak suka dengan saya dan Salma. Mungkin karena kita berdua memakai jilbab. Entahlah.

Ketika kami selesai shalat, Salma berkata padaku.

Salma : "Egal Syifa, was die Kafiren zu uns machen. Allah wird immer bei uns Enscha Allah. Mach Dua, hoffentlich schaffen wir ein Beten Raum zu realisieren. Ein Chef von Lindt ist ja auch ein deutscher Muslim." - "Terserah Syifa, apa yang orang kafir lakuin ke kita, Allah akan selalu bareng kita InsyaAllah. Doakan semoga kita bisa merealisasikan satu ruangan khusus untuk solat. Salah satu bos disini juga seorang muslim asli Jerman."

Hari berikutnya di ruang istirahat. Ibu perwakilan itu berbisik kepada Nihad, salah satu pekerja disana. Tak lama 4 pasang mata tertuju kepada saya, disusul yang lain, yang ikut menoleh dan berbisik. Hä, ada apa ini, pikir saya ragu. 

Setelah itu Nihad pun menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ternyata si ibu tersebut menginvestigasi Nihad, apakah kemarin dia membantu saya dan Salma ketika memproduksi coklat. Pasalnya kemarin Julius memang ngadat terus, dan kami hanya berdua. Salma beserta saya, yang hanya seorang mahasisiwi dengan pengalaman kerja baru 3 hari. Ibu itu tidak percaya bahwa kita hanya berdua mengerjakannya. Karena ternyata kemarin kita berhasil memproduksi 470kg coklat!! Lebih dari yang seharusnya, dan belum pernah sebelumnya ada yang berhasil mengerjakan sebanyak ini.

"Na.. siehst du! Allah hilft uns, Alhamdulillah. Egal was die Kafiren sagt, hauptsache arbeiten wir ehrlich. Enscha Allah heute schaffen wir 600 kg!!" - "Nah liat kan.. Allah bantu kita. Terserah orang-orang kafir itu mau ngomong apa, yang penting kita kerja dengan jujur. InsyaAllah hari ini kita bis produksi 600kg!!", katanya dengan tawa sumringah.

"He.. eh..", saya tertawa pasrah. 600 kg badan saya jadi apa habis ini :")










Aachen, 18 Augustus 2015
sambil-menikmati-dinginnya-Aachen-hari-ini







Thursday, August 6, 2015

Kerja di Pabrik Coklat Lindt

Assalamu'alaikum :)

Pada tau kan coklat Lindt? Produk coklat yang berasal dari Kilchberg, Swiss. Nah, di liburan musim panas ini saya berkesempatan bekerja disalah satu pabriknya yang terletak di Aachen. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya bekerja disana.


Belehrung

Belehrung artinya "Pengajaran atau Informasi". Pada hari pertama, semua pekerja wajib mengikuti Belehrung ini. Disini kita akan diinformasikan mengenai hal-hal apa saja yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang terjadi jika ada kecelakaan dsb. misalnya :

  • Pekerja diwajibkan memakai weißer Kittel (jas/mantel kerja) yang disediakan oleh Lindt.
  • Pekerja diwajibkan memakai Sicherheitsschuhe (sepatu yang dibuat khusus untuk melindungi kaki).
  • Pekerja dilarang menggunakan Schmuck (perhiasan) ketika bekerja, juga jam tangan dsb.
  • Pekerja diwajibkan menggunakan Haube (penutup kepala) dan tidak boleh ada rambut yang terlihat di luar Haube. Pekerja yang menggunakan Kopftuch (kerudung etc.) harus memakai weißes Kopftuch (kerudung berwarna putih).
  • Dilarang memakai Nagellack (kutek etc.)
  • Diwajibkan menggunakan Handschuhe (sarung tangan) ketika bekerja.
  • Pekerja diperbolehkan memakan coklat (SEPUASNYA :D) ketika kerja namun dilarang membawanya pulang. Bagi yang melanggar peraturan akan diberhentikan saat itu juga. 
  • Hanya coklat yang berada pada kantong putih yang boleh dimakan. Coklat yang berada di kantong merah atau di lantai harus dibuang.
Selain itu, kita juga diajak mengelilingi pabrik dan mengenal bagian-bagian produksi Pabrik. Serunya, sepanjang perjalanan kita akan menghirup aroma sedap dari coklat yang sedang diproduksi. Lecker!!

Hari Pertama

Hari pertama kerja saya ditempatkan di bagian produksi. Tugas saya saat itu menyiapkan kardus-kardus kosong untuk diisi coklat yang sudah jadi. Saya juga harus menempelkan Etikett pada coklat yang sudah ditimbang dan siap dipaketkan. Tidak rumit, namun kecepatan sangat diperlukan. 

Setelah dua jam bekerja, saya dipindahkan ke bagian lain. Yaitu, Flasche aussortieren. Ini adalah salah satu kerjaan yang "agak" gabut hehe aber macht totzdem Spaß. Saya harus mengecek satu per satu coklat yang berbentuk botol Bir. Ketelitian dibutuhkan untuk meng-eliminasi coklat yang tidak dibungkus rapi atau sudah rusak. Setelah kerjaan saya selesai, kepala bagian melihat hasil kerja saya dan ternyata SALAH :" hehe. Jadi ternyata masih banyak coklat yang menurut mereka "jelek" tapi masih saya masukkan dalam kategori "bagus". Alhasil saya harus mengulangi kerjaan tersebut sampe Feierabend (waktu kerja selesai) tiba. Pada akhirnya saya baru mengetahui. Tidak heran kenapa coklat yang masuk kategori bagus harus benar-benar bagus, ideal dan mendekati sempurna. Karena harga 6 biji coklat (1 biji hanya sebesar ibu jari) seharga 13 Euro atau sekitar 190.000 rupiah :" Sayangnya saya tidak bisa mencoba coklat mahal ini karena ia mengandung alkohol.

:)


Aachen, 06.08.2015

Wednesday, July 29, 2015

Sampai nanti, Anankku!

Bis später, Baby!
Social freezing, beruhigt in die Zukunft.

Judul ini tertera pada sebuah artikel dalam salah satu majalah jerman. ''Jelas saya ingin memiliki anak, namun tidak sekarang". Seperti itu lah berpikirnya sebagian besar wanita di Eropa saat ini. Antara waktunya yang tidak pas karena alasan pekerjaan yang tidak memungkinkan memiliki anak, atau karena memang belum menemukan pasangan ''yang tepat''. Alasan-alasan tersebut dapat membuat keinginan memiliki anak ditempatkan pada pilihan terakhir. 

Namun banyak wanita yang tidak berpikir bahwa kesuburan menurun seiring bertambahnya umur (ab Anfang 30). Sel telur tersebut akan menempel pada rahim namun tidak akan berkembang pada tahap berikutnya. 

Faktor umur, juga faktor lainnya seperti makanan, rokok, obsesitas etc. memungkinkan kerusakan pada Kromosom. Hal tersebut mengakibatkan penurunan produksi sel telur.

Pada usia 34 tahun, sekitar 40% sel telur sudah tidak memiliki Kromosom yang normal. Dengan itu sulit untuk Embryo tumbuh dan berkembang. Proses penuaan ini dapat dihentikan, salah satu caranya adalah dengan diambilnya sel telur ketika wanita masih dalam usia kesuburan. Sel telur ini disimpan dalam cairan Nitrogen pada -197 derajat, dan akan digunakan nanti ketika wanita tersebut sudah siap untuk memiliki anak. Cara ini sebenarnya sudah dilakukan beberapa tahun lalu untuk sperma pria. Di Jerman, proses ini memakan biaya sekitar 4000€ untuk biaya penanganan dan obat. Pasien yang memiliki asuransi kesehatan ''gesetzlich'' cukup membayar 50% dari biaya tersebut. 

Menarik! Namun saya tidak setuju dengan menunda proses kehamilan ini apalagi dengan alasan kerja dsb. Bagaimana pendapat kalian? :)



Sumber : Kinderwunschzentrum Darmstadt

Tuesday, July 28, 2015

Praktikum di Bagian Penyakit Dalam, Darmstadt


Assalamu'alaikum!! Lass mich heut über mein Innere-Kurs in Darmstadt erzählen :D

Di akhir semestr 5 ini, kami para mahasiswa wajib untuk mengikuti "Klopfkurs". Yaitu Praktikum di bagian Inneremedizin atau penyakit dalam. Setiap mahasiswa diberi kesempatan memilih 3 tempat yang diinginkan. Pilihannya yaitu di kota Giessen, Wetzlar, Friedbeg, Bad Homburg, Bad Hersfeld, Darmstadt, Berlin juga di Swedia. Beberapa klinik menyediakan juga tempat menginap untuk para mahasiswanya.

Pada akhirnya saya terdampar di kota Darmstadt. Saya bersama 5 teman lainnya melakukan praktikum ini di Alice-Hospital Darmstadt, di bawah bimbingan Prof. Dr. Heidt.

Hari pertama praktikum kami sudah dibuat capek dengan Laufenrunde. Awalnya kami diminta berkumpul di Ärztehaus pukul 07.50. Setelah itu kami dilempar ke bangsal 1B untuk bertemu dengan Prof. Heidt. Kami dioper lagi ke bangsal 4, karena katanya beliau ada disana. Sampai akhirnya kami disuruh ke bagian CPU (Chest Pain Unit) dimana Prof. Heidt sebenarnya berada. Setelah masing-masing memperkenalkan diri, kami pun memulai aktivitas kami, mengikuti Prof. Heidt untuk melakukan Visite. Menarik!! Suasana baru dengan aura baru. Kami memasuki kamar pasien satu per satu, mendengarkan obrolan Prof. Heidt dengan pasiennya. Mengamati bagaimana cara beliau berkomunikasi dsb. Prof. Heidt senang bercanda. Hampir setiap pasien dibuatnya bercanda, namun ada juga pasien yang terlalu serius dan menganggap perlakuan Prof.Heidt adalah sebuah pelecehan. Ketika mendatangi pasien banyak hal seru yang terjadi, misalnya Prof. Heidt akan menunjukkan mimik senang atau bertingkah seperti bersyukur kepada Tuhan dengan tangan ke atas jika melihat pasien yg "menarik" untuk kami periksa. Menarik disini berarti, pasien tersebut memiliki penyakit yang bagus untuk kami (para mahasiswa) pelajari. Misalnya katup mitral stenosis, insufisiensi mitral, COPD, efusi pleura.

Dalam praktikum ini kami belajar melakukan anamnesa pada pasien sesungguhnya. Kami dibolehkan melakukan pemeriksaan tubuh seperti auskultasi dan palpasi paru, jantung dan organ perut, memeriksaan fungsi 12 syaraf kranial, reflex otot dan status nada pada bagian kanan dan kiri tubuh pasien.Prof. Heidt adalah mentor kami disini, beliau adalah dokter spesialis penyakit jantung dan pembulu darah. 

Di hari kedua praktikum, Prof. Heidt menunjukkan kepada kami proses memasang katether pada pembuluh darah arteri femoralis. Beliau mengizinkan kami untuk ikut dalam ruangan operasi dan melihat proses dari beliau menyiapkan segala peralatan, membius lokal dan memasukkan benang ke arteri femoralis tersebut. Ketika benang sudah sampai ke daerah yang dituju, monitor sudah siap menunjukkan gambar Arteri femoralis itu bersama cabang-cabangnya. Lewat monitor ini kita bisa mengetahui apakah ada pengecilan atau penutupan aliran pembuluh darah pada lokasi tersebut. 

Pada hari-hari berikutnya kami diajak ke ruangan radiologi untuk melihat proses CT / Tomografi terkomputasi pada jantung. Kami juga diajak pergi ke Elisabeth Stift dimana disana terdapat mesin angiografi terbaru dan terbaik di Jerman. Sayangnya saya tidak berani untuk mengambil gambar. Satu hal yang tidak kalah menarik, adalah ketika saya memberikan defibrilasi pada salah satu pasien wanita yang menderita Aritmia atau gangguan detak jantung. Pasien sebelumnya diberikan bius oleh Prof. Heidt sehingga ia tidak sadarkan diri. Setelah itu Prof. Heidt memberi aba-aba dengan suara lantang agar tubuh saya tidak menyentuh kulit pasien ataupun tempat tidur pasien. Alhasil jantung saya juga jadi berdenyut lebih cepat dari sebelumnya. Saya sedikit panik karena hal ini baru untuk saya. Prof. Heidt memberikan aba-aba untuk memulai, lalu saya & teman saya memberikan ''sengatan listrik'' pada dada pasien tersebut secara bersamaan. Dan.. Bummmm!!! Tubuh pasien seperti loncat seketika. Pasien seperti tersedak namun kembali tidak sadarkan diri. Sepertinya bukan hanya si pasien saja yang terkena schock pada saat itu, namun saya juga haha :D

Sampai pada akhirnya waktu seminggu terlewati. Praktikum kami selesai dan kami ber-enam pulang kembali ke Gießen dengan membawa sejuta bekal pengalaman juga pengetahuan baru :)))





Gießen, 28.07.2015
sambil-menikmati-Gießen-yang-mulai-dingin


Sunday, July 5, 2015

Buka Puasa Bersama Muslim & Non-Muslim

Pada tanggal 4 Juli 2015 kemarin, IGG e.V, masjid Buchara dan IRH membuat acara berjudul "Sichtbare Integration miteinander und gemeinsam für Toleranz und Frieden in Gießen" - Integrasi satu sama lain, toleransi dan kedamaian bersama di Gießen. Acara ini diawali oleh sambutan dari masing-masing organisasi islam. Terlihat juga sambutan dari perwakilan kota Gießen juga dari organisasi kristen di Gießen. Acara pun dimeriahkan juga oleh penampilan anak-anak kecil yang menyanyi lagu islam dalam bahasa jerman di depan panggung acara. Acara diakhiri dengan buka puasa & makan bersama pada pukul 21.45.

















Friday, July 3, 2015

Hikmah Wanita Haid Dilarang Shalat & Berpuasa

Siang hari kemarin saya dilanda rasa lapar yang memuncak, ditambah rasa haus yang tak tertahankan. Hari itu matahari sedang semangat menyinari bumi bagian eropa. Karena saya sedang berhalangan sehingga tidak berpuasa, saya bergegas ke dapur untuk memasak. Tak lama tetangga saya yang orang jerman pun masuk ke dapur. 

Aryo : "Hej.. kochst du schon für heute Abend??" - Hei.. udah masak aja buat nanti malem?
Saya : ''Mmm.. Nein.. ich faste heut nicht.." - mmm.. engga.. saya ga puasa hari ini.
Aryo : "Warum denn? zu heiß? :D" - Kenapa emang? kepanasan ya? :D
Saya : "Haha nö... wenn die Frauen ihre Tage haben, dürfen sie nicht fasten" - Haha bukan, kalo perempuan lagi kedatangan bulan, mereka ga boleh puasa.
Aryo : "Na toll.. aber Harry muss immer fasten" - "ya.. tapi Harry (menunjuk tetangga saya yg muslim) harus selalu puasa.
Saya : "Männer müssen immer..." - laki-laki harus selalu puasa..

Berawal dari percakapan itu saya jadi bertanya-tanya.. Iya juga ya.. apa alasannya perempuan yang sedang haid ga boleh solat dan puasa. Sayang, pertanyaan saya dalam hati ini lebih menunjukkan keraguan daripada keingintahuan. Sedangkal itu ilmu saya, sehingga belum apa-apa sudah meragukan ketetapan yang sudah Allah SWT berikan.

Rasa penasaran yang memuncak membuat saya terdorong mencari tahun tentang hal tersebut. Dan... Alhamdulillah Allah SWT memberikan jawabannya..

Apa benar wanita yang sedang haid itu tidak suci?

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : 

“Dari Aisyah r.a ia berkata: “Nabi Muhammad SAW berkata kepadaku, “Berikan kepadaku sajadah kecil dari masjid!”, lalu aku berkata, “Tapi aku sedang haid”, maka Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan pada tanganmu”.

Dari hadits ini dapat kita pahami bahwa tubuh wanita haid itu tidak najis. Yang kotor dan najis hanyalah darah haid tersebut.  Darah haid yang keluar itu tidak menjadikan seluruh tubuh wanita menjadi najis.

Mengapa wanita haid dilarang shalat & puasa? 

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. bahwa Nabi SAW bersabda kepada para wanita... "Bukankah para wanita bila mendapat haidh tidak boleh shalat dan puasa? Para wanita itu menjawab, Benar. Itulah yang dimaksud dengan kurangnya agama mereka."

Jika dilihat dari segi kesehatan, sangatlah masuk akal mengapa wanita haid dilarang shalat dan berpuasa. Ketika sedang haid, wanita akan kehilangan banyak darah sehingga rentan mengalami anemia dan kehilangan zat besi bersama keluarnya darah haid. Kehilangan banyak darah berarti juga kehilangan banyak sel darah putih. Dimana sel darah putih sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh. Ketika tentara penjaga pertahanan tubuh ini berkurang, tubuh akan rentan terhadap berbagai penyakit. 

Nah.. gerakan shalat seperti rukuk dan sujud membuat dinding-dinding rahim berkontraksi dan mengakibatkan meningkatnya peredaran darah ke rahim. Darah tersebut nantinya akan dikeluarkan sebagai darah menstruasi. Semakin banyak melakukan rukuk dan sujud menyebabkan semakin banyaknya sel rahim dan indung telur menyerap darah. Hal itu akan membuat wanita haid banyak kehilangan darah dan mudah lelah. Tidak lupa juga bersama darah menstruasi hormon yang penting untuk wanita akan ikut terbuang, sehingga kadar emosi wanita haid akan naik dan turun. 

Wanita haid juga dilarang berpuasa agar tetap dapat menjaga asupan gizi yang ada dalam tubuh. Tidak terbayang kan jika wanita sudah kehilangan banyak darah, ditambah tidak bisa minum dan makan? Wanita akan rentan terkena anemia, juga dehidrasi akibat hilangnya banyak cairan dalam tubuh. Karena itu wanita yang sedang haid dianjurkan untuk banyak minum air putih dan menjaga asupan gizinya seperti makanan yang kaya akan zat besi & magnesium, tinggi protein, tinggi serat, juga buah-buahan. 

Lewat hal ini kita dapat mengetahui hikmah besar, mengapa wanita haid dilarang shalat dan berpuasa. Kita harus yakin bahwa semua ketentuan yang Allah SWT berikan, pasti memiliki manfaat untuk makhluk-Nya.



Sunday, June 28, 2015

Ramadan in Gießen (Maroko, Bosnia & Afghanistan)

Malam itu cahaya matahari masih menerangi langit kota Gießen. Sekitar pukul 21.00 saya bersiap-siap untuk pergi ke Masjid Buhara, masjid milik Turki. Tentunya bersiap-siap untuk Iftar dan shalat magrib berjamaah disana. Setiap weekend, masjid turki ini ramai oleh para jamaahnya yang sebagian besar tentunya orang Turki. Beberapa orang tua tidak bisa berbahasa Jerman, hanya bahasa Turki. Sehingga seringkali kita berbicara menggunakan bahasa tubuh. Namun para remajanya sangat fasih berbahasa jerman dan turki. Ya, sebagian besar dari mereka lahir dan besar di Jerman. 

Malam ini tapi berbeda dari biasanya. Hanya sedikit jamaah wanita yang datang ke masjid. Bahkan di tempat ibadah wanita hanya ada dua wanita yang sedang duduk di sudut belakang masjid, dan satu lainnya sedan shalat. Saya pun mengucapkan salam kepada dua wanita tersebut dan bergegas untuk shalat sunnah. 

Setelah selesai shalat, wanita lain yang sebelumnya sedang shalat menghampiri saya. Mengucapkan salam dan memeluk saya. Ternyata dia adalah Nira, teman baru saya dari Maroko. Kami memang baru berkenalan sekitar 3 hari yang lalu. Namun rasanya kami sudah seperti saudara dekat. Nira bercerita pada saya bahwa akhir-akhir ini dia tidak berani pergi ke masjid dan menetap sampai shalat tarawih. Pasalnya shalat tarawih selesai sangat larut, sekitar pukul setengah 1. Beberapa waktu lalu ia dan temannya tertinggal bus yang harusnya ia naiki untuk sampai ke rumah. Lalu datang seorang pria jerman yang sedang mabuk dan memukul salah satu teman Nira. Mereka pun ketakutan namun juga melakukan perlawanan. Si pria mabuk ini bekata dengan keras bahwa wanita berkerudung harus pergi, pulang ke negara asal. Miris.. saya mendengar ceritanya. Sampai akhirnya polisi datang dan membawa pria mabuk tersebut ke kantor polisi. Memang... sebagian besar penduduk Jerman tidak rasis terhadap suatu kelompok agama, negara atau apapun. Namun tetap saja penduduk yang nicht ausgebildet (tidak berpendidikan) dan tukang mabuk masih banyak di sini dan melakukan tindakan sangat tidak wajar.

Waktu berbuka sebentar lagi tiba. Saya dan Nira bergegas pergi ke halaman belakang masjid. Disana ada tenda tempat kita berbuka puasa. Sebelum keluar masjid, dua wanita lain yang duduk di sudut belakang memberhentikan kami. Lalu salah satu dari mereka bertanya, "Entschuldigung.. wo kann man hier fastenbrechen?" - Permisi.. dimana kita bisa buka puasa?. Ternyata dua wanita ini baru pertama kali datang ke masjid ini. Saya dan Nira pun mengajak mereka ke halaman bersama.

Setelah berkenalan, ternyata dua wanita ini berasal dari Bosnia. Edita adalah si ibu, dan wanita satu nya adalah anaknya. Melihat percakapan Edita bersama anaknya yang menggunakan bahasa inggris, saya sangat penasaran dibuatnya. Ternyata Edita baru 1 tahun tinggal di Jerman. Sebelumnya ia bersama suaminya yang berasal dari Algeria dan 3 anak perempuannya tinggal di USA selama 15 tahun. Semakin seru perbincangan, saya pun mengetahui bahwa Edita bekerja di Alloheim, panti jompo tempat saya bekerja sekitar setahun yang lalu. Saya seperti membuka memori lagi.. Kenangan selama bekerja disana.. mengurus anak-anak dan orang tua yang sudah tidak bisa hidup normal. Saya bertanya pada Edita mengenai keadaan mereka. Alex, Katty, Herr "Küschi" dan lainnya.. Ah, saya masih ingat mereka.. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15. Saya harus bergegas untuk pulang, karena bus terakhir saya datang pukul 22.22. Edita cepat-cepat memberikan nomor hp nya pada saya, karena dia ingin mengundang saya & teman-teman untuk berbuka puasa bersama hari Minggu ini di masjid arab. Dia tahu bahwa saya masih pelajar dan tidak punya kendaraan pribadi. Sementara transportasi di Minggu malam selalu sulit. Sehingga dia menawarkan untuk menjemput & mengantar saya pulang selepas berbuka puasa di masjid malam nanti. Saya tersenyum riang..

Di perjalanan pulang, saya harus transit di Berliner Platz untuk bisa naik Bus yang menuju arah rumah saya.. 15 menit saya bersama teman saya duduk di halte. Bersama dengan "kawula muda" Jerman yang sedang bersiap memulai malam minggu mereka. Selagi menunggu bus, datang seorang pria dan satu wanita menghampiri kami. Mereka menyapa menggunakan bahasa yang tidak kami kenali. Sedikit mirip bahasa arab, namun juga sepertinya bukan? Si pria pun mencoba menggunakan bahasa inggrisnya yang kami pun tetap sulit mengerti. Ah.. ternyata mereka adalah pengungsi yang datang dari Afghanistan. Mereka ingin pergi ke tempat penampungan yang ada di daerah Rödgen sana. Dengan komunikasi yang sangat terbatas, kami pun membantu mereka menemukan bus untuk pergi ke penampungan pengungsi disana. Kasihan, mereka terlihat sangat lelah. Tidak terbayang  juga bagaimana sulitnya bagi mereka harus terpaksa mengungsi ke negara yang bahasa dan budaya nya saja sudah berbeda. Namun apadaya, mereka tidak punya pilihan lain selain mengungsi. Negara mereka sekarang tidak bisa disebut ''rumah''.

Semoga Allah menguatkan hati-hati kami, hati-hati kaum muslimin dimanapun berada. Aaamiinn...







Perpustakaan Universitas Gießen
28 Juni 2015
*doakan saya untuk ujian semester ini :D*