Pages

Wednesday, October 1, 2014

Sistem Kuliah Kedokteran di Jerman


Sebenarnya impian awal saya setelah lulus SMA adalah kuliah kedokteran di Universitas Indonesia. Ternyata Allah SWT berkehendak lain dan menempatkan saya menjadi mahasiswi kedokteran di Justus Liebig University Giessen, Jerman. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan tentang sistem kuliah kedokteran di Jerman (khususnya Giessen).

Sampai saat ini terdapat dua sistem berbeda untuk mencapai pendidikan dokter di Jerman. Regelstudiengang dan Modelstudiengang. Perbedaan nya terdapat pada ujian negara dan sistem Blok. Dalam Modelstudiengang tidak ada ujian negara pertama (Physikum) dan sistem perkuliahannya menggunakan sistem Blok. Misalnya bagian pertama belajar mengenai Jantung. Mahasiswa dituntut mempelajari Jantung dari sisi Anatomi, Fisiologi dan Pathologi nya. Lalu bagaimana sistem Regelstudiengang?

Universitas saya menggunakan sistem ini, ya.. Regelstudiengang. Semester 1-4 adalah Pre-Klinik dan 5-10 adalah Klinik.

Semester 1


Pada awal semester 1 di JLU (singkatan dari nama universitas saya) terdapat program Einführungswoche. Disini semua mahasiswa baru diperkenalkan bagaimana lingkungan kampus, organisasi-organisasi kampus, juga mendapatkan informasi seperti buku apa saja yang biasa digunakan oleh mahasiswa, bagaimana trik belajar, tips agar lulus ujian. Para Tutor juga menceritakan karakter masing-masing dosen. Tak lupa juga mahasiswa baru mendapatkan Stetoskop gratis dari Doccheck buku dan pulpen gratis dari berbagai sponsor.


Mata pelajaran yang didapat di Semester 1 adalah :

  1. Biologi (lecture + praktikum)
  2. Anatomi + Histologi (membedah mayat + lecture)
  3. Terminologi (Seminar)
  4. Kimia (lecture)
  5. Fisika (lecture)
  6. Berufsfelderkundung (Seminar + pelatihan/hospitation)
  7. Psikologi & Sosiologi (lecture)
dan ujian yang ditulis di semester 1
  1. Biologi 1 & 2 
  2. Anatomi dasar & sistem pergerakan tubuh (ujiian lisan)
  3. Terminologi
  4. Kimia
  5. Fisika
ya.. di bulan ke dua perkuliahan mahasiswa sudah kontak langsung dengan mayat.. yang pasti ini mayat asli.. hehehe. 1 kelompok terdiri dari 8 orang. Setiap siswa memiliki daerah bedah masing-masing. Misalnya saya pertama kali memilih bagian kaki. Awalnya saya rasa akan menarik. Namun ternyata salah. Karena di bagian kaki, terutama telapak kaki adalah bagian yang sulit untuk dibedah. Disitu juga terdapat banyak pembuluh darah dan syaraf yang strukturnya sangat kecil, dan pastinya tidak boleh kita potong atu bahkan dibuang. Tugas mahasiswa adalah mengenali setiap struktur tubuh manusia misalnya otot, syaraf, pembuluh darah beserta nama dan fungsi serta organ lainnya. Pertama-tama kami harus memisahkan kulit dengan lapisan dibawahnya. Agak sulit untuk memisahkan kulitnya dan akan tercium bau amis bila mayat tersebut memiliki lemak yang berlebih. Setelah kulit terpisah, kami harus mengenali otot beserta syaraf dan pembuluh darah yang melewatinya. Jika pembedahan sudah jauh, kami mulai membedah organ dalam seperti paru-paru, jantung, usus, hati dan organ lainnya.

Alat ''bedah'' yang biasa mahasiswa gunakan.
Sumber : http://cdn2.spiegel.de/images/image-46415-panoV9-caun.jpg

Sumber : http://www.haz.de/Nachrichten/Wissen/Uebersicht/Leichen-fuer-die-Medizin-kein-Mangel-an-Spendern
Kurang lebih beginilah suasana präp-Kurs (Kursus membedah) di universitas-universitas di Jerman. Mayat yang digunakan adalah mayat yang didonasikan langsung biasanya oleh keluarga. Tertulis dalam artikel sumber foto di atas, bahwa Jerman tidak pernah kekurangan mayat untuk dipakai sebagai bahan pelajaran mahasiswa kedokteran. Bahkan banyak keluarga yang menawarkan mayat keluarganya, walaupun rumah sakit sudah memiliki cukup ''stock'' saat itu.

Semester 2

Mata pelajaran :
  1. Kimia (praktikum)
  2. Fisika (praktikum, sebelum memulai praktikum mahasiswa akan diberi pertanyaan dan jika tidak bisa menjawab akan dikeluarkan dari ruangan dan tidak boleh mengikuti praktikum pada hari tersebut)
  3. Anatomi + Histologi (lecture + praktikum)
  4. Fisiologi (lecture)
  5. Biokimia (lecture)
  6. EKM (seminar, bertujuan mengenalkan mahasiswa dalam lingkungan klinik dan rumah sakit)
  7. Psikologi (lecture)
Ujian :
  1. Kimia
  2. Fisika
  3. Anatomi + Histologi (Kepala-Leher-Thorax, Organ dalam)
  4. Wahlfach
 Semester 3

Mata pelajaran :
  1. Anatomie + Histologi (lecture + praktikum)
  2. Fisiologi (lecture + praktikum + seminar)
  3. Biokimia (lecture + Seminar)
  4. Psikologi (seminar)
Ujian :
  1. Fisiologi
  2. Biokimia
  3. Anatomi + Histologi (Sistem syaraf dan otak manusia)
  4. Psikologi & Sosiologi
Semester 4
  1. Biokimia (Praktikum + Lecture + Seminar)
  2. Fisiologi (Seminar + Lecture)
  3. Psikologi (Praktikum + Seminar + Lecture)
Ujian :
  1. Biokimia

Sebelum memasuki semester klinik, kami harus melakukan ujian kedokteran bagian pertama yang dikenal dengan nama PHYSIKUM. Ujian ini adalah ujian yang ditakuti hampir semua mahasiswa semester 4. Pasalnya jika tidak lulus, mahasiswa tidak dapat melanjutkan ke semester berikutnya. Kesempatan untuk melakukan ujian ini juga terbatas, hanya 3 kali. Jika ada yang tidak lulus setelah 3 kali ujian terpaksa harus pindah ke jurusan lain yang tidak ada mata pelajaran yang sama seperti di kedokteran. Jadi mahasiswa terpaksa harus membanting stir ke jurusan misalnya seni atau filsafat. Sekitar bulan Maret 2015 nanti saya juga akan menulis Physikum ini, mohon doanya agar saya lulus dalam kesempatan pertama dan langsung masuk ke semester klinik di bulan April 2015 nanti :D

Oh ya.. syarat agar bisa menulis physikum adalah lulus ujian-ujian semester yang tertulis diatas. Selain itu mahasiswa juga harus melakukan Pflegepraktikum selama 3 bulan di Rumah Sakit dan melakukan pelatihan Erste Hilfe Kurs (kursus pelatihan pertolongan pertama). Buat temen-temen yang penasaran apa itu Pflegepraktikum dan apa saja yang harus kita lakukan, bisa baca di http://syifamaisani.blogspot.de/2014/02/praktikumstage.html :)

Bagian Klinik dilakukan mulai semester 5-10. Setelah itu mahasiswa menulis ujian kedokteran bagian ke dua. Setelah lulus dari ujian tersebut mahasiswa melakukan Praktisches Jahr atau mmungkin di Indonesia dikenal sebagai KOAS. Sayangnya saya belum mencapai semester klinik, jadi belum bisa berbagi cerita tentang ini dengan detail :) mungkin ada teman-teman yang bisa menmbahkan?

Atau mungkin bercerita tentang sistem perkuliahan di kota/negara nya? ;)


Thursday, September 25, 2014

Pengalaman "Norak" di ICE

Frankfurt, 19.09.2014 pukul 07.30. Pagi ini saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Pasalnya banyak hal lucu yang terjadi sejak tadi pagi. 

Hari ini saya melakukan perjalanan ke Berlin. Besok saya akan mengikuti Seminar yang diadakan oleh salah satu yayasan kedokteran di Jerman. Seminar ini gratis, bahkan penginapan dan transport nya pun sudah disediakan. Karena semuanya serba gratis, saya memilih perjalanan menggunakan kereta cepat ICE. Tiket pulang pergi seharga 110€. Bisa dua atau tiga kali lipat lebih mahal dari harga transport Bus. Namun lagi-lagi, karena ini gratis jadi saya memanfaatkannya.

Selama saya tinggal di Jerman, ini adalah kali ke dua saya menaiki ICE. pengalaman pertama ketika saya bekerja menjadi tour guide. Saya tidak pernah mau mengeluarkan uang pribadi untuk menaiki ICE. Harganya sangat tidak pas untuk kantong mahasiswa. 

Kata orang, ketika menaiki ICE telinga merasa sedikit sakit. Saking cepatnya kereta ini. Tapi kursinya jauh lebih empuk dari kereta regional biasa. Atmosfer nya pun akan terasa berbeda. Penumpang ICE kebanyakan berpenampilan rapi menggunakan jas dan membawa koper.

Pukul 07.00 saya sudah menunggu kedatangan ICE saya di peron 8. Nampaknya kereta datang telat. Maklum hari ini hari kerja. Kereta pun datang. Saya berkali-kali menatap tiket saya. "Reservasi tempat duduk gerbong A No. 106". Mengingat sudah mereservasi tempat duduk, saya berjalan santai menaiki kereta.
Tidak perlu berjubel-jubel berebutan kursi dengan para pekerja yang berpakain sangat rapi ini. Tapi sudah 5 menit di kereta, saya masih belum menemukan tempat duduk saya. Hmmm apa saya salah menaiki kereta. Berkali-kali saya melihat tiket untuk memastikan saya berada di kereta yang benar. 

Akhirnya saya menemukan kursi nomor 106 itu. Namun kursi ini berada di ruangan extra seluas 1,5 x 1 m2 ini. "Apa ini untuk kelas 1? Tidak kok.", pikir saya dalam hati. Saya pun langsung memasuki ruangan kecil ini. Seperti ruangan karaoke, pikir saya sedikit norak. Hanya ada 6 kursi di ruangan ini. 4 kursi telah penuh dan semua diisi oleh pria berumur 30 ke atas. 2 orang berseragam polisi dengan pistol yang mereka bawa dan 2 orang lainnya menggunakan jas rapi. Sementara saya? Hanya T-Shirt bermotif strawberry dengan cardigan, memakai rok jeans, sepatu sport dan membawa ransel. Haha rasanya saya ingin menertawakan diri sendiri. Saya pun lekas menyapa mereka dan mengambil tempat duduk yang kosong. 

Diperjalanan saya merasa lapar. Sejak tadi pagi, perut saya belum terisi sama sekali. Saya hanya membawa bekal susu 1L dan telur rebus. Oh God... apa jadinya saya mengupas telur rebus di ruangan kecil ini, di sebelah pak polisi. Bisa-bisa saya ditembak, pikir saya geli. Saya pun memutuskan untuk menahan lapar dan berusaha berpikir keras untuk melakukam sesuatu agar saya terlihat sedikit "kece" diantara bapak-bapak ini. Akhirnya saya mengeluarkan buku bacaan saya. Tapi......

Lagi-lagi saya ketawa kecil. Melihat pembatas buku saya bergambar beruang yang sedang makan. Saat itu saya merasa seperti anak-tk-ditengah-lautan-pria-berjas-hitam. Rasa kantuk pun datang setelah beberapa halaman buku saya baca. Saya berniat mengeluarkan bantal leher saya yang berbentuk Snoopy. Namun ups! Menyadari di ICE bantal sudah tersedia, saya merasa percuma membawanya. Lagipula saya gengsi mengeluarkan si Snoopy ini di depan mereka :D

Sambil memejamkan mata, pikiran saya menerawang mengingat kejadian-kejadian pagi ini. Nampaknya saya masih belum cocok berada diantara bapak-bapak ber jas hitam rapi ini. Meskipun umur sudah memulai kepala 2, saya masih cocok dengan style saya sekarang. Full-colour-seperti-anak-sd. Toh ketika sudah bekerja, saya tidak akan memakai jas hitam, melainkan jas putih ;)


Thursday, September 4, 2014

Liburan Murah ke Swiss!

Yap! Liburan murah! Terlalu auffälig sih dengan kata murah, apalagi disatukan dengan kalimat liburan ke Swiss hehe. Kenapa saya bilang murah? karena liburan saya kali ini hanya mengeluarkan biaya transportasi saja, tanpa biaya makan dan penginapan. Gimana bisa? Jadi gini ceritanya..

Day 1 (Google-Uetliberg-FIFA)

Dari kota Frankfurt pukul 02.30 dini hari saya bersama dua orang teman lain memulai perjalanan menuju Zürich menggunakan Bus. Harga transportasi Bus Frankfurt - Zürich 18€ per orang. Perjalanan ke Zürich memakan waktu 6 jam. Sengaja kami mengambil perjalanan malam, agar bisa menghemat waktu dan biaya. Di Jerman memang sedang booming berpergian menggunakan bus. Selain harganya yang jauh lebih murah dibanding kereta, waktu yang ditempuh menggunakan bus pun tidak terlalu lama. Ditambah lagi penumpang tidak perlu transit untuk sampai tempat tujuan. Dan tidak lupa juga, di dalam bus ada fasilitas internetnya :) Jadi penumpang bisa nyaman dan duduk anteng ketika bepergian.


Sekitar pukul 08.30 kami dibangunkan oleh suara Pak Supir. Ternyata bus yang kami naiki tertangkap oleh polisi di daerah perbatasan. Semua penumpang dipaksa turun dari bus dan berbaris sambil membawa koper dan barang masing-masing. Kami pun harus mengumpulkan Passpor kami untuk diperiksa. Satu per satu dari kami ditanya mengenai isi koper kami. Apakah kami membawa minuman beralkohol, barang terlarang atau daging. Saat itu kami tenang-tenang saja. Karena saya pribadi aman dari semua hal yang dicurigakan. Namun saya tersentak kaget. Teringat kami membawa bekal Sosis di dalam ransel. Dan jumlahnya pun tidak sedikit. Mulai lah kami panik. Pak Polisi pun membawa anjing pelacaknya untuk mengecek satu per satu isi barang penumpang. Saya pasrah......... jika memang Sosis kami harus diambil. Tapi.......... ternyata si anjing melewati kami begitu saja. Mengendus normal tanpa curiga sedikitpun. Akhirnya saya pun bisa bernapas lega. Kami pun melanjutkan perjalanan, setelah hampir satu jam diperiksa di daerah perbatasan Jerman-Swiss.


Foto ketika barang bawaan kami diperiksa.

Seharusnya kami sampai di Zürich pukul 09.00. Karena insiden pengecekan tersebut, perjalanan kami tertunda 1,5 jam. Sesampainya di Zürich kami dijemput oleh Kak Reni, mahasiswi Indonesia yang tinggal di Zürich. Di tempat Kak Reni pula kami menginap selama 2 malam kedepan. Kebetulan suami Kak Reni, bekerja di Google dan kami diajak makan siang bersama disana.

Pukul 13.30 kami sampai di kantor Google. Kami pun langsung diajak ke kantin kantor ini. Banyak sekali pilihan, ada makanan Asia, Pizza dll. Kami pun memutuskan untuk makan Sushi. Tidak cuma Sushi, disana juga tersedia Banana mit Kokonus atau istilah bahasa Indonesia nya adalah Kolek Pisang :D Setelah makan, kami diajak berkeliling ke setiap sudut kantor ini. Ada banyak ruang istirahat dengan fasilitas layaknya di Cafe, ruang bermain seperti di Time Zone dan banyak lainnya. Sayangnya disini kami tidak boleh mengambil foto. Jadi kami hanya mengabadikan foto di luar gedung kantornya saja.

Menu makan siang! Foto diambil dari Tiara.





Perjalanan kami dilanjutkan ke Uetliberg. Bukit tertinggi di kota Swiss. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan seluruh kota Zürich.






Puas dua jam menikmati keindahan kota Zürich dari bukit Uetliberg, kami pun mengkahiri perjalanan hari itu dengan berkunjung ke FIFA. Sayang sekali, Museum FIFA nya baru saja tutup 10 menit sebelum kami datang. Alhamdulillah kami masih diizinkan untuk masuk sebentar dan berfoto-foto.





Selama kami mengelilingi kota Zürich ini, kami menggunakan Tiket 3 Zona seharga 16.8 CHF atau sekitar 14 €.

Day 2 (Zürich-Luzern-Brienz-Interlaken-Bern-Geneve)

Jadwal perjalanan kami di hari ke-2 adalah mengelilingi kota Swiss. Seperti judulnya, kota-kota tersebut lah yang kami kunjungi. Perjalanan kami dimulai pukul 06.00. Dibekali sarapan oleh kak Reni (alhamdulillah, lagi-lagi tidak mengeluarkan uang :D) kami menikmati sarapan pagi di kereta. Perjalanan dari Zürich ke Luzern hanya 1 jam. Sayangnya kami hanya sebentar di Luzern. Cuaca pagi yang masih mendung membuat kami berencana melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.


Luzern sekitar pukul 07.30

Perjalanan dari Luzern ke Brienz ist wunderbar, karena kami menggunakan panorama train. Panorama train ini dirancang khusus dengan jendela yang sangat lebar, juga pada bagian atap kereta. Jalur perjalanannya pun sengaja dipilih, agar penumpang dapat menikmati keindahan Swiss menggunakan kereta. Panorama train ini seperti membelah dua bukit, melewati danau besar dan pemandangan indah lainnya.

Pemandangan kota yang diambil dari panorama train.
Sesampainya di Brienz, kami menunggu datangnya kapal menuju Interlaken. Kota Brienz pun sangan cantik. Pemandangan kota dihiasi danau dan gunung-gunung yang mengelilinginya. 



Ketika kapal datang, kami pun langsung mengantri dan memilih tempat duduk yang paling pas untuk melihat pemandangan. Saat itu kami pergi bersama rombongan wisatawan dari Israel. Jadi kami harus bergerak cepat agar tidak kehabisan tempat duduk. Perjalanan dari Brienz ke Interlaken memakan waktu sekitar dua jam. Namun dua jam terasa cepat sekali, karena kami sibuk melihat pemandangan indah selama perjalanan. 








Sesampainya di Interlaken sekitar pukul 13.00, kami langsung mencari jadwal kereta ke Bern. Hari itu tepat hari Jumat, dan kami ingin merasakan Shalat Jumat di salah satu Masjid di Swiss. Bergegaslah kami melanjutkan perjalanan ke Bern. Tapi ada satu hal yang menarik di kota Interlaken. Hampir di setiap papan petunjuk wisata, terdapat terjemahan dalam bahasa Arab. Disini pula saya melihat banyak sekali pengunjung wanita yang berhijab. Kabarnya wisatawan arab senang datang kesini dan mendaki ke Mount Titlis atau Jungfrau Joch, puncak gunung dimana saljunya terdapat sepanjang tahun. 

Di Bern kami langsung mencari masjid terdekat untuk menunaikan shalat. Memang rezeki kami, setelah shalat kami berkenalan dengan Pak Kuncoro dan Pak Pendi yang kami temui di masjid. Kami pun diajak makan siang bersama (Alhamdulillah, lagi-lagi tidak mengeluarkan uang makan :p) Ternyata Pak Kuncoro ini adalah orang penting ke dua di KBRI Bern :D Setelah mengobrol dan makan siang kami pun berpamitan kepada Pak Kuncoro dan para Staff KBRI. Karena jam sudah menunjukkan pukul 16.00, kami harus melanjutkan perjalanan ke Geneve. Walaupun kami tidak sempat mengelilingi kota Bern, tapi setidaknya kami memiliki banyak kenalan baru di kota ini.

Tempat kami ditraktir Durum oleh Pak Kuncoro.

KBRI Bern.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 di Geneve. Kami hanya punya waktu dua jam untuk mengelilingi Jenewa. Karena kereta kami ke Zürich berangkat pukul 20.00 darisini. Kami pun bergegas mencari Tourist Information dan mengambil peta kota ini. Belum pergi ke Jenewa namanya kalo kita belum mengunjungi gedung PBB. Ya.. tujuan pertama kami adalah gedung PBB dan Monumen kursi besar yang patah. Sayangnya matahari sudah mulai terbenam dan kami pun tidak mendapatkan hasil foto yang bagus. Setelah puas berfoto disana, kami sibuk mencari jalan untuk pergi ke monumen garpu besar. Sayangnya tidak ada petunjuk di dalam peta. Kami pun bertanya kepada penduduk lokal disana. Mereka pun tidak tahu. Hmm.... kami jadi ragu apakah garpu besar itu benar ada di Jenewa atau bukan. Akhirnya sisa waktu kami, kami pakai untuk menikmati pemandangan kota ini. Dari Jet d'Eau Jenewa, air mancur besar ini, kami bisa melihat pancaran pelangi yang indah. 



Dan berakhirlah perjalanan kami di hari ke dua. Untuk mengelilingi Swiss dengan fasilitas kereta Regional, Inter City dan kapal, kami membeli tiket COOP seharga 49 CHF atau seharga 40,6 €.

Day 3 (Zürich-Frankfurt-Gießen)

ya.... ternyata tenaga kami sudah habis di hari ke-tiga ini. Rencana awal kami untuk mengelilingi kota Zürich mulai pukul 07.00 pagi pun gagal. Mata kami baru bisa terbuka pukul 07.30 :D Setelah sarapan santai di rumah kak Reni, kami pun melanjutkan perjalanan kami di hari terakhir liburan ini. Sekitar pukul 10.30 kami pergi menggunakan kereta ke arah kota. Di stasiun kota kami naik kapal ke arah China Garten. Siang itu Zürich sedang mendung. Dan ternyata untuk masuk ke China Garten pun kami harus membeli tiket.. Sementara kaki kami rasanya tidak ingin bekerja sama. Akhirnya kami pun hanya duduk-duduk santai di pinggir pintu masuk China Garten dan menikmati pemandangan Zürich See. Pukul 14.45 bus yang akan kami tumpangi pun datang. Kami bergegas menaiki bus dan mencari tempat duduk yang paling nyaman. Alhamdulillah perjalanan Zürich-Frankfurt selama 6 jam pun tidak terasa. Sesampainya di Frankfurt pukul 21.30 kami bergegas mengambil kereta ke Gießen. Dan akhirnya... pukul 23.00 kami sudah bisa merasakan kenyamanan kasur masing-masing! Dan ternyata pada hari itu kami hanya mengeluarkan uang 8.5 CHF atau sekitar 7€ untuk tiket Zürich Zona 1, dan Bus ke Frankfurt seharga 18€.






Zürich Main Station


Jadi..............liburan kami selama tiga hari di Swiss ini hanya menghabiskan 97,6 € atau sekitar Rp 1.561.600 saja... Sebenarnya bukan harga yang murah sih, tapi setidaknya biaya liburan ini hasil dari keringat sendiri ;)

Sunday, July 6, 2014

Rasanya seperti mimpi..

Rasanya seperti mimpi..
Merasakan tubuh ini memasuki ruangan beraroma khas
Ruangan dimana higienitas menjadi nomor satu
Ruangan dimana semua orang berpakaian sama
Ruangan dimana alat-alat besar berada, yang saya sendiri tak tahu apa fungsinya

Rasanya seperti mimpi..
Ketika melihat semua orang sibuk pergi kesana kemari mempersiapkan sesuatu
Seseorang sibuk menyiapkan alat-alat yang sekilas saya lihat seperti alat-alat reparasi mobil
Semua orang menghiraukan kehadiran saya
Saya seperti invisible dihadapan mereka

Satu jam pun berlalu..

Rasanya seperti mimpi..
Ketika Aktor di ruangan ini pun datang..
Berkata kepada saya dengan gaya nya yang berwibawa
Lalu pergi kembali menghiraukan saya
Itulah Sang Aktor, yang bermain di lapangan operasi untuk dua jam kedepan

Rasanya seperti mimpi..
Ketika dinginnya air menyentuh tangan saya
Sentuhan dingin desinfektan membuat panas dan perih tangan saya yang sedang terluka
Ya.. rasanya seperti mimpi.. saya mencuci tangan saya agar steril, mempersiapkan kerja pertama saya di ruang operasi

Rasanya seperti mimpi..
Ketika seseorang memakaikan baju steril kepada saya
Memakaikan sarung tangan putih
Saya memutarkan badan saya, untuk mengikatkan baju steril ini
Lalu melipat tangan saya agar tidak tersentuh oleh benda-benda tidak steril
Persis seperti di dalam video-video yang sering saya lihat di youtube

Ya.. saya berpakaian steril..

Rasanya seperti mimpi..
Ketika suasana sekejap menjadi hening..
Satu cahaya menerangi arena kerja kami
Semua orang fokus menatap kepada satu tubuh yang berbaring di tengah

Rasanya seperti mimpi..
Ketika melihat sang Aktor mengeluarkan pisaunya yang tajam
Menyayat perlahan-lahan lapisan kulit yang tebal
Cairan berwarna merah pekat pun mulai tampak
Alat-alat kecil berbagai bentuk mulai digunakan

Rasanya seperti mimpi..
Saya mulai mempertajam indra penglihatan saya
Bersiap-siap kapankah pekerjaan saya dimulai
Tangan saya sigap
Ketika tangan penuh bercak darah memberikan komando kepada saya
Saya menahan kuat lapisan otot arena operasi
Satu, dua, tiga menit…
Kekuatan saya masih penuh
15 menit setelahnya otot saya terasa keram dan kaku

Rasanya seperti mimpi..
Hampir tiga jam lebih saya berdiri
Melihat bagaimana arena operasi disayat, dipalu, dibor dan sebagainya
Mata saya mulai buram
Saya pun mulai mengkhayal
Bersyukur atas pekerjaan baru ini
Tidak menyangka
Mendapatkan kesempatan luar biasa, meskipun saya baru menginjak semester 3 pre Klinik

Giessen, 04.07.2014

Wednesday, March 26, 2014

#selfreminder

dan untuk para wanita shalihah, kita harus perhatikan poin-poin ini..

1. Bulu Kening.

Menurut Imam Bukhari: Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu keningnya." Riwayat Abu Daud Fi Fathul Bari.

2. Kaki (tumit kaki).

"Dan janganlah mereka (perempuan) memhentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan." (QS: An-Nur: 31)

3. Wewangian.

"Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina." (Riwayat Nasaii, Ibnu Khuzaimah dan Hibban)

4. Dada.

"Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi dada-dada mereka." (QS: An-Nur:31)

5. Gigi.

"Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya." (Riwayat At-Thabrani)
"Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

6. Muka dan Tangan.

Asma Binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja." (Riwayat Muslim dan Bukhari)

7. Tangan.

"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya." (Riwayat At Tabrani dan Baihaqi).

8. Mata.

"Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangannya." (QS: An-Nur : 31)
Sabda Nabi Muhammad SAW: "Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama, pandangan seterusnya tidak dibenarkan." (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

9. Mulut (suara).

"Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik." (QS: Al Ahzab: 32)
Sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya akan ada umatku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, Yaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi." (Riwayat Ibnu Majah).

10. Kemaluan.

"Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. "(QS: An-Nur : 31).
"Apabila seorang perempuan itu sembahyang lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya." (Riwayat Al Bazzar).
"Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah." (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah).

11. Pakaian.

"Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhirat nanti." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibnu Majah)
"Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya." (Riwayat Bukhari dan Muslim).
"Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS: Al Ahzab : 59)

12. Rambut.

"Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim).




Semua poin-poin ini sangat menyentil saya. Karena banyak sikap saya yang masih salah. Alhamdulillah, saya bersyukur. Allah memberikan saya hari ini petunjuk sekaligus mengingatkan saya di waktu yang tepat, dengan perantara teman saya ini. 


Semoga bisa jadi ibroh buat kita bersama.
Barakallahu fikum.

Tuesday, February 18, 2014

Praktikumstage

Haloo semuanya! Mulai kemarin, 17.02.2014 Praktikum saya di Rumah Sakit dimulai. Rencananya, saya akan menulis hal-hal apa saja yang menurut saya ''baru'', agar kita bisa sedikit membandingkan dengan kondisi Rumah Sakit di Indonesia. sooooo... geht's los!

*Praktikumstag = hari praktikum

Praktikumstag 1

1. Mitarbeiter (Karyawan) di Rumah Sakit semuanya ramah-ramah sekaliiii
2. Antara Dokter dan Perawat tidak ada jarak
3. Semua alat-alat kesehatan setelah digunakan pasien, masuk ke satu wadah unsteril untuk disterilkan (desinfizieren)
4. Perawat juga membantu membersihkan kotoran pasien setelah BAB dan BAK jika pasien tidak mampu
5. Perawat membantu menyuapi pasien
6. Kesehatan tenaga medis juga sangat sangat sangat diperhatikan

Praktikumstag 2
1. Dokter melakukan tindakan sederhana yang jarang saya temukan di Rumah Sakit di Indonesia, seperti mmebersihkan kotoran Pasien dan mengambil darah

2. Laufmaschine, mesin penggerak kaki yang menurut saya sangat canggih. Sehingga pasien yang hanya mampu berbaringpun tetap dapat bergerak di tempat tidur dengan mesin ini.

3. Kontak antara Perawat dengan Pasien sangatlah dekat

4. künstlicher Stuhlgang, defecation tidak melalui Anus tetapi langsung melewati perut. Salah satu bagian usus besar diberi lubang, setalah itu lubang tersebut disambungkan dengan kantung. Sehingga kotoran dapat langsung keluar melalui usus besar tanpa melalui Anus lagi

Praktikumstag 3
1. Hari ini lucu, liat dokter ngetik data di komputer tapi sambil jongkok. Karena semua kursi penuh dipake perawat-perawat yang kelelahan. Kalo di Indonesia mungkin hal ini langka ya...

2. Mesin penghacur kertas. Mungkin saya yang memang agak kuno, tapi saya baru menemukan mesin penghancur kertas canggih ini. Bisa mencabik-cabik kertas sekeciiiilll mungkin sampai tidak bisa terbaca lagi isinya. Fungsinya agar data ''rahasia'' pasien tidak tersebar kepada pihak lain

3. Sempet ngobrol dengan Herr Brück yang dua hari lagi akan pulang ke rumah. Dia bilang kalo dia lebih betah di rumah sakit dibanding di rumahnya sendiri. Karena disini semua tersedia, butuh sesuatu tinggal tekan bel, satu menit kemudian perawat datang ;)

4. Kebodohan yang saya lakukan, gugup membawa Herr Kohav di kursi roda untuk menyebrang jalan... jalan tidak rata main saya seruduk aja. Alhasil bapak ini menjerit kesakitan karena kakinya sakit :(

Praktikumstag 4
1. irgendwieee agak risih sama ke-hygienis-an rumah sakit di Jerman. Tadi pagi saya bawa alas tidur yang masih bersih ke kamar pasien untuk diganti. Alas tersebut saya taro di meja pasien yang lain. Lalu perawatnya bilang, saya harus ambil alas yang baru dan alas yang saya ambil dimasukkan ke mesin cuci. Ditambah lagi ketika saya mengambil sarung tangan dan itu haampirrrrrrrr jatuh ke lantai, tapi tetap saya harus ganti dengan sarung tangan yang baru. Dipikir-pikir sayang sekali buang-buang alat kesehatan, tapi sebenernya yang benar adalah seperti ini. Karena kuman dan bakteri dapat menyebar dimana-mana, bahkan dari kontak antara dua material yang tak terduga.

2. Hari ini saya melakukan kebodohan (lagi). Karena gugup dan takut disuruh membawa pasien ke ruang rontgen, saya tersesat tidak menemukan ruangan tersebut. Padahal.................... kalo aja setelah keluar lift saya menoleh ke kiri, saya langsung menemukan ruangannya. Namun setelah keluar dari lift, saya malah menoleh ke kanan dan muter-muter sampai ke Station Geriatrie sambil mendorong Herr Müller di kursi roda, yang kakinya habis dioperasi. Untungnya Herr Müller sangat baik bahkan beliau tidak marah sama sekali.

Praktikumstag 5
Hari ini tidak ada sesuatu yang baru di rumah sakit. Hanya ada pengalaman menarik, ketika itu saya dipanggil perawat untuk membersihkan kaki Herr Czempiel yang baru selesai dioperasi. Saya pergi ke kamarnya, mengambil wadah berisi air hangat dan lap untuk membersihkannya. Sambil membersihkan kakinya, kita ngobrol tentang banyak hal. Lebih banyak mengenai kehidupan saya, bagaimana saya bisa ke Jerman, bagaimana saya belajar bahasa jerman dll. Tak lama datang Frau Czempiel istrinya, yang ternyata juga akan dirawat disana. Kata para perawat, istrinya cerewet sekali. Tak disangka, ternyata benar! Dia ngoceh ini dan itu selama saya ada disana. Setelah saya selesai, istrinya pun sibuk membuka lemari suaminya dan mencari sesuatu. Saya disuruh menunggu. Ternyata saya diberi uang :D Meskipun hanya 5€, saya senang tak terkira hoho.

Pada saat itu, datang lagi satu pasien bernama Frau Walter. Saya diminta perawat untuk melayani dia. Saya membawakan secangkir kopi untuknya. Namun dia menolak. Akhirnya saya kembali lagi ke dapur, dan membawakan dia secangkir kopi. Karena dia merasa tidak enak karena telah membuat saya bolak balik ke dapur, dia meminta maaf dan menanyakan nama saya. Karena saya tidak punya banyak kerjaan, akhirnya saya duduk di kamar Frau Walter dan kita ngobrol tentang banyak hal. Saya suka dia, dia memperlakukan saya seperti anaknya. Sebelum saya meniggalkan kamarnya, dia berkata ''Syifa.. wenn du Zeit hast, gehen wir in die Cafetaria ok ;)'' - Syifa.. kalo kamu ada waktu kita pergi bersama ke Cafetaria oke ;). Saya hanya menjawab dengan kedipan mata. Senang rasanya banyak menemukan orang-orang baik, jadi kita tidak merasa asing dan sendiri di tempat perantauan :p

Praktikumstag 6 - frei
Praktikumstag 7 - frei

Praktikumstag 8
Minggu ini saya memulai dinas siang. Ternyata dinas siang tidak terlalu hektisch dibanding dinas pagi. Sedikit tenang. Kita pun bisa melakukan istirahat dengan tenang. Hari ini saya belajar satu hal. Saya adalah orang sok tau yang suka melakukan pengamatan asal-asalan hehe. Saya mengamati bahwa rata-rata orang jerman yang berpendidikan memiliki pola pikir yang hebat. Jika suatu kesalahan terjadi, mereka akan meminta maaf meskipun itu sebenarnya bukan kesalah dia. Contoh kejadian misalnya :


  • Saya bertanya sesuatu kepada Frau Weber. Saya mengulang kalimat itu 2 kali. Dia hanya diam. Saya tau dia tidak mengerti apa yang saya katakan, bahasa jerman saya terlalu jelek. Akhirnya saya meminta maaf kepada Frau Weber. Lalu dia menjawab ''Ah.. anda tidak perlu meminta maaf kepada saya. sepertinya hari ini pendengaran saya jelek. Sehingga saya tidak mendengar jelas apa yang anda katakan. Saya yang seharusnya meminta maaf''
  • Kejadian selanjutnya ketika saya membawa Herr Müller dengan kursi roda memasuki lift. Saya dengan bodohnya tidak memperhatikan kaki dia yang terbentur dinding lift. Herr Müller meraung kesakitan. Saya langsung merasa bersalah dan meminta maaf berkali-kali, lalu Herr Müller menjawab ''Tidak apa.. saya yang justru minta maaf pada Anda, karena saya tidak mengingatkan Anda untuk memperhatikan kaki kiri saya. Karena kaki kiri saya ini baru kemarin selesai dioperasi''
indah bukan jika kita tidak saling menuduh seperti cerita di atas? :)

Herr Benhardt bersama boneka yang dia buat sendiri dari tangan yang dikepal, koin sebagai mata dan handuk sebagai rambutnya.

Praktikumstag 9
Saya semangat sekali hari ini untuk datang ke rumah sakit. Karena saya membawakan gantungan kunci berbentuk rumah tradisional khas Indonesia. Saya ingin memberikannya kepada Frau Walter, ''ibu'' saya. Seperti biasa, dinas dimulai dengan Übergabe, penyerahan dinas dari perawat sebelumnya. Ketika salah satu perawat berkata ''Kamar 322 sekarang diisi oleh Herr Schneider. Dia memiliki masalah bla bla bla bla''. Saya langsung terkejut. Dan rasanya lemas tidak ada semangat lagi. Kamar 322 itu kamar Frau Walter. Dia sudah pulang ke rumah :( saya belum sempat menemui dia lagi. Menanyakan alamat rumah atau yang lain, agar kita tetap bisa berkomunikasi :( hari itu, semangat yang ada menghilang seketika..

Praktikumstag 10
Banyak orang berkata bahwa, orang jerman selalu berkata jujur walaupun itu menyakitkan. Sore ini sekitar jam 4 sore, saya dan perawat sedang melakukan istirahat. Kita makan siang bersama. Tiba-tiba datang salah satu dokter dan berkata ''Saya butuh data pasien yang akan dioperasi besok. Tolong carikan''. Lalu salah suster Christina beranjak dari kursinya dan pergi untuk mengambil data-data. Perawat yang lain terlihat marah. Perawat lain berteriak kepadanya ''Christina! kamu kan sedang istirahat. Ayo duduk disini, lanjutkan makanmu! Dokter itu harusnya mengerti bahwa sekarang adalah waktu istirahat kita''. Saya spontan langsung kaget. Saya yakin dokter tersebut ada di sebelah suster Christina, dan dia pasti mendengar teriakan perawat ini. Menurut saya ini fair, tidak memandang jabatan lebih rendah atau lebih tinggi. Jika seseorang mengambil hak kita, kita harus bilang. Sikap tersebut yang masih harus saya latih pada diri saya. Mental saya masih mental dijajah :/

Praktikumstag 11
Sebelum bercerita tentang praktikum, saya punya sebuah cerita yang tidak kalah seru :))) pagi itu sepulang dari Ausländerbehörde saya ngidam Bretzel mit Schnittlauch nya Ditsch. Saya menyengajakan pergi ke daerah Oswaldgarten untuk membeli Bretzel itu. Setelah itu saya langsung tancap gas menaiki Bus arah pulang, karena saya harus bersiap-siap untuk praktikum. Sedang asik makan Bretzel sembari menunggu Bus, berdiri di depan saya seorang nenek. Sepertinya saya telah menghalangi papan jadwal Bus yang ingin dia lihat. Sayapun sedikit bergeser sambil tersenyum kepada nenek itu. Tak lama nenek itu berkata pada saya. ''Na.. Der kommt in 5 Minuten'' - Na.. Bus itu datang 5 menit lagi. Sayapun hanya menjawab dengan senyuman. Tampaknya dia mengamati saya yang sedang asik makan Bretzel. Dia menghampiri saya dan bertanya ''Apakah kamu mahasiswa disini?''. Spontan saya berhenti mengunyah roti itu dan menjawab pertanyaan nenek tersebut. Akhirnya kami pun larut dalam perbincangan. Perbincangan ringan di pagi hari, antara seorang mahasiswi asing dengan seorang wanita separuh baya. Bus pun datang dan kami pun menaikinya dan duduk bersama. Kami melanjutkan perbincangan. Nampaknya nenek ini penasaran kenapa saya bisa tersesat beribu-ribu kilometer dari Bogor, tempat tinggal saya. Sayapun akhirnya bercerita seputar kehidupan saya. Bagaimana saya bisa ke Jerman, kenapa saya memilih Jerman, bagaimana saya dengan kuliah saya dan lain-lain. Saya pun mengacuhkan air mata yang menetes di pipi nenek ini. Entah apakah kehidupan saya terlalu menyedihkan sehingga membuat nenek ini meneteskan air mata? Tak lama kemudian dia merogoh tasnya dan memberikan saya uang 5€. ''Ini buat jajan kue'', katanya sambil tersenyum. Dipikiran saya langsung muncul banyak khayalan. Apakah nenek ini sebagai nenek ke dua saya di Jerman setelah nenek Müller?  Tak lama kamipun turun dari Bus dan berpisah. Sebelum berpisah, saya mengucapkan terimakasih banyak kepada nenek itu dan berharap dapat bertemu lagi. Sayang saya lupa menanyakan dimana dia tinggal. Namun nenek Lukart, biasa orang memanggilnya, sudah membuat pagi saya berwarna :)

Di rumah sakit tempat saya praktikum berjalan seperti biasa. Pasien datang dan pergi. Kami mempelajari status mereka, menanyakan keadaan mereka, membagi makan malam dan memberikan Heparin lewat subkutan Injektion. Frau Czempiel memberi saya Duplo (lagi). Sebagai tanda perpisahan sebelum dia pulang ke rumah. Sore itu ketika saya dan perawat lain sedang istirahat, datang lagi si dokter mengganggu kami. Wajah para perawat terlihat muak dengan dokter ini. Saya mengamati kartu identitas yang menggantung di jas putihnya. Prof. Dr. med. Gunther Schwetlick. Chefarzt Orthophädie. - Dokter kepala Orthopaedi. Wooow ternyata dia adalah dokter kepala. Badannya yang tinggi, kerutan di wajahnya menunjukkan dia sudah berumur dan wajahnya yang tidak pernah tersenyum membuat saya agak segan menyapa dokter ini. Saya takut.

30 menit sebelum jam pulang tiba, saya duduk dengan santainya di ruang perawat. Tiba-tiba dokter Schwetlick datang lagi dan menatap saya. Dia berkata ''Kamu, temani saya visit ke ruang pasien''. Degggggggggggggg!!!!!!!Tiba-tiba otot-otot sayapun berkontraksi, kadar hormon adrenalin, cortisol, aldosteron saya meningkat dan sistem saraf simpatis saya bekerja. Saya-sangat-takut. Saya tidak pernah ikut visit bersama dokter. Sama sekali. Apalagi bersama dokter kepala. Lalu sekarang? Saya diminta mendampinginya. Mendampingi dokter kepala yang sikapnya sangat dingin dan menyeramkan. Satu persatu kamar kami masuki. Setiap memasuki kamar, dokter Schwetlick menanyakan kabar pasien, menanyakan kenyamanan rumah sakit bagi pasien dan mengganti perban bekas jahitan operasi. Tetapi.............tetap dengan tatapan dingin. ''Tolong guntingkan Hansaplast sekitar 22cm'' pintanya kepada saya. Petir kedua pun menyambar. Saya lemah dalam mengira-ngira ukuran. Seberapa panjang 10cm saja saya tidak tahu, apalagi diminta tepat 22 cm. Saya hanya pasrah memohon kepada Tuhan, menggunting Hansaplast dengan sok tahu dan alhamdulillah........... benar!!!! Saya cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil melanjutkan visit ke kamar lain. Mengandalkan kesok-tahu-an saya, saya bisa memotong Hansaplast seperti yang dokter Schwetlick minta. 15cm, 7cm, 27cm, mungkin 13,456cm pun sekarang saya bisa :p

Setelah selesai melakukan visit, kami berdua tetap berdiri di lorong rumah sakit. Dengan wajah dinginnya dokter Schwetlick  bertanya pada saya dan kami terlibat dalam perbincangan kecil.

dokter Schwetlick : ''Anda sudah berapal lama di rumah sakit ini?''

Saya : ''Baru satu minggu dok'' (padahal sejujurnya saya sudah hampir dua minggu disini)

dokter Schwetlick : ''Kamu murid sekolah atau mahasiswa?''

Saya : ''Saya mahasiswa kedokteran di semester 2 dok''

dokter Schwetlick : ''Good. Anda berasal dari Indonesia kan? Anda tahu di Indonesia terdapat rumah sakit katolik? Bisakah Anda membantu saya mencarikan alamat Herr Siahaan, dokter kepala orthopaedi disana. Dia adalah sahabat dekat saya''

Saya : ''Wah oke dok akan saya usahakan untuk mencarikannya, tapi saya tidak bisa janji''

dokter Schwetlick : ''No problem. Jika Anda ada waktu, Anda bisa ikut saya melihat jalannya operasi. Jika Anda butuh sesuatu, Anda juga bisa menghubungi saya kapan saja. Ingat, pelajaran preklinik yang paling sulit adalah Biokimia. Anda harus serius mempelajarinya. Terimakasih Anda sudah menemani saya visit. Selamat malam.''

Saya : ''Selamat malam dok............''

Lalu dokter Schwetlick pun pergi perlahan tetap dengan tatapan yang dingin. Saya mengamati cara berjalan doker ini dari belakang. Ini adalah sikapnya, dibalik sikap dinginnya dia sangatlah ramah. Mungkin karena posisi dia sebagai dokter kepala, yang memaksa dia harus bersikap berwibara dan ''ditakuti''. Terimakasih dok, saya sangat kagum pada anda :)

 Prof. Dr. Schwetlick 


Praktikumstag 12 - nichts besonderes (tidak ada yang istimewa)
Praktikumstag 13 - nichts besonderes
Praktikumstag 14 - nichts besonderes

Praktikumstag 15
hari ini kembali lagi praktikum dinas pagi. bangun jam 5 pagi, berangkat gelap-gelap dingin. beraaaaattt sekali rasanya. Hari Senin awal bulan. Station Chirurgie kami sedang ramai. Karena banyak Famulan (Mahasiswa kedokteran tingkat tinggi) yang akan memulai praktikumnya. Saat itu saya sedang sibuk di ruang bersih-bersih, menggosok-gosok peralatan rumah sakit agar kembali steril. Lalu dokter-dokter melakukan visit dari satu kamar pasien ke kamar lainnya, diikuti dengan para Famulan tersebut. Miris rasanya............. saya juga mahasiswa kedokteran. Tapi saya disini sibuk kerja fisik, sementara mahasiswa itu membuntuti dokter. Yah.. sebenarnya akan datang waktunya saya juga seperti mereka, tapi... tetep aja sekarang melihatnya miris hehe..

Tak lama kemudian, Herr Professor (dokter Schwetlick) mengajak saya untuk melihat operasi tulang pinggul. Singkat cerita, dengan penuh rasa takut, haru, dan penasaran saya datang ke ruangan operasi tersebut lengkap dengan ''kostum'' yang harus dipakai ketika operasi.

Operasi pun sedang disiapkan. Saya hanya bisa duduk dipojokan memperhatikan mereka. Pasien sudah dibius. Saya mulai mengamati siapa saja orang-orang ini. Mungkin ada perawat, dokter anastesi, dokter asisten.. Namun saya belum melihat dokter Schwetlick. Ketika operasi akan dimulai, muncullah dokter Schwetlick layaknya bintang yang akan memainkan panggung operasi ini.. hahaha. Dia melirik kepada saya. Lalu menganggukan kepala dan berkata ''Na.. alles klar? Hat der Oberarzt Sie geschimpft?!'' - Na.. apa semua baik-baik saja? apakah dokter senior memaki maki anda?. Dengan sok lugunya saya hanya bisa senyum-senyum saja di depan dokter Schwetlick. Toh dia hanya melihat mata saya, karena saya pakai masker hehe.

Operasi pun dimulai. Saya dibolehkan mengamati hanya pada jarak tertentu. Karena disekeliling arena panggung operasi haruslah steril. Dokter Schwetlick sempat menjelaskan ekstra kepada saya tahapan-tahapan operasi. Sejujurnya saya sudah pernah lihat operasi seperti ini ketika saya di Indonesia. Jadi saya agak bosan, dan pada saat itu saya belum sarapan sehingga tidak bisa konsentrasi. Setelah dua jam berlalu selesailah operasi tulang pinggul ini. Sang bintang langsung keluar dari panggung arena, ketika kami masih sibuk membereskan alat-alat operasi.

Siang pun mulai berlalu dan saya tidak bertemu kembali oleh dokter Schwetlick pada hari itu. Malamnya saya memutuskan untuk menulis email kepada dia, mengirimkan kata-kata terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk melihat jalannya operasi..

Namun... saya tidak yakin apakah dokter Schwetlick membaca email saya..

Praktikumstag 16 - Libuuurrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!

Praktikumstag 17 
Semangat praktikum saya dimulai dari suara berat diujung sana. ''Vielen Dank für Ihre freundliche Email!!!'' - Terimakasih banyak atas email anda!!! sapa dokter Schwetlick pada saya. Saya hanya bisa menjawab dengan senyum sumringah. Ya hari ini tidak begitu istimewa selain sapaan ramah dari dokter Schwetlick. Saya melihat dia seperti sosok ayah. Dibalik sosok angkuhnya, dia memiliki rasa kasih sayang yang tinggi, pikir saya. Oh ya... hari ini saya dapat uang lagi dari pasien lain, kali ini dari Herr Pospischil :D

Praktikumstage 18-35
war ruhige Tage. Praktikum hari ke 18-35 tidak banyak hal baru yang didapat. karena kebetulan saya sudah 2 minggu magang disini, jadi saya sudah mulai terbiasa, eingelebt. Kegiatannya tidak ada yang baru, walaupun pasien silih berganti. Karakter pasien pun bermacam-macam. Ada yang nyebelin karena banyak maunya hehe, ada juga yang nyenengin karena ramah dan minta maaf melulu karena ngerasa suka nyusahin perawat-perawat disini. Kita pun banyak gabut nya. Pasalnya Prof. Dr. Schwetlick sedang liburan. Jadi hampir tidak ada jadwal operasi pada minggu-minggu tersebut kecuali operasi kecelakaan yang ditangani oleh dokter lain. Dipikir-pikir, kasian juga ya para pasien. Mau operasi saja, harus menunggu sang dokter selesai liburan. Tapi................... dilihat dari posisi dokter, dokter juga manusia, butuh liburan :D :D

Lorong rumah sakit yang sepi



Praktikumstag 36
Hari itu entah kenapa saya kesaaaaaal sekali. Pasalnya ada satu pasien yang banyak maunya. Saya tahu dia sedang sakit, mungkin psikis nya juga agak terganggu. Tapi saya juga manusia, yang banyak dosa, yang tidak bisa menahan marah :( pagi itu kita sedang chaos dengan rangkaian ritual pagi. Membangunkan pasien, menggiring mereka ke toilet, membantu memandikannya, membersihkan kasurnya, mengukur tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi dan temperatur. Lalu si ibu tiba-tiba meminta saya untuk menutup jendela kamar karena dia merasa kedinginan. Belum selesai saya menutupnya, dia minta jendelanya di buka saja. Tak lama, dia meminta tolong untuk mengambilkan coklatnya yang jatuh di bawah kasur. huhuhuhuhu kesal rasanya. Kita ada disini, bekerja disini, bukan untuk membantu hal-hal kecil seperti itu. Manja sekali si ibu ini, kesalku dalam hati.

Karena jengkel, saya menumpahkan kekesalan saya dengan makan. Saya sudah membuat rencana untuk makan siang yang enak di Cafetaria nanti. ''Pokoknya saya harus makan enak!!'' kataku dalam hati. Jam makan siang pun tiba, tidak ingin satu menitpun terlewat, saya bergegas pergi ke Kantin rumah sakit. Saya melihat menu makan. Alhamdulillah! hari ini ada Kartoffeln-Gratin mit Gemüse und Käsesoße. Untuk Dessert pun bukan Joghurt seperti biasanya, tetapi Panna Cotta, dessert khas italia. Yuhuuuuu! Saya lekas berdiri dalam antrian setelah itu mencari tempat duduk yang paling nyaman. Lagi asiknya menyantap makanan, saya melihat dokter Schwetlick sedang antri mengambil makanan. Gawat! Saya takut dia duduk di dekat saya.

Dengan sekejap saya tidak bisa menikmati lagi makanan di hadapan saya. Saya takut dokter ini duduk bersama saya. Nanti perbincangan apa yang bisa kita bahas. Saya mati kutu. Bahasa jerman saya masih begini, jelek banget. Benar saja, setelah selesai mengambil makanan beliau berjalan ke arah saya dan duduk di depan saya. Sebagai bonus untuk saya, dokter kepala yang lain juga ikut dan duduk di sebelahnya. Semua mata tertuju kepada saya. Heran melihat seorang mahasiswi asing yang sedang magang, didekati oleh dua dokter kepala di rumah sakit ini. Dan saya merasakan aura itu. Hmmmmm saya cuma bisa senyum-senyum sambil makan.  Lalu dokter Schwetlick memulai perrcakapan kami..

Sch : Bagaimana kabar anda? Apakah anda tidak berminat lagi untuk melihat operasi?
Syi : Kabar saya baik, bagaimana dengan anda? yaa.. saya ingin sekali sebenarnya. Tapi saya tidak tahu apakah saya dibolehkan oleh suster kepala
Sch : A ja.. anda tanyakan saja kepada suster Fabiola
Syi : *manggut-manggut sambil menghabiskan makanan dengan cepat*

lalu dokter Schwetlick membicarakan hal yang lain dengan dokter Askevold yang duduk disebelahnya. Tak lama percakapan pun kembali kepada saya.

Sch : Siapa yang membiayai sekolah dan hidup kamu disini?
Syi : Orang tua saya dok.. tapi sekarang saya juga sedang mencari beasiswa, dan saya juga bekerja kadang-kadang.
Sch : Anda bisa minta uang pada dokter Askevold, dia ini punya banyak sekali uang tidak terpakai.

*lalu kami bertiga pun tertawa hambar*

Lalu saya menengok ke arah piring makan saya. Yes! makanan saya sudah habis. Sekarang saya memutar otak, bagaimana saya bisa pergi dari tempat duduk ini sementara mereka masih makan. Saya berpikir, kata-kata apa yang pantas saya ucapkan kepada dua dokter kepala ini. Detik pun terasa seperti menit. Akhirnya saya pun berdiri dan berkata ''Ich muss wieder hoch gehen. Ich wünsche Ihnen, schönen Tag noch!'' - Saya harus pergi ke atas lagi. Saya ucapkan semoga hari anda indah.

Sambil berjalan ke luar kantin, saya mengulang perkataan saya tadi. Kayaknya ada yang salah dalam kalimat itu. Kalimat yang mana yang benar.. ''Ich wünsche Ihnen, schönen Tag noch'' atau ''Ich wünsche Ihnen noch einen schönen Tag''.. Na ja..... ist doch egal.. hehe kadang-kadang saya suka sekali mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini.

Ketika kembali ke Station, saya menceritakan hal ini kepada Sara, teman saya. Dia langsung tertawa dan dia bilang ''Siehst du! Er hat dich gemocht'' - lihat kan, dia sepertinya suka kamu! *suka disini bukan dalam artian seorang laki-laki menyukai wanita ya*

Praktikumstage 37-41

tidak ada hal baru yang saya dapatkan di hari hari ini selain kosakata bahasa Jerman yang baru. Karena saya sudah sebulan lebih magang disini, sehingga semua terasa seperti rutinitas.

Praktikumstag 42

Hari ini adalah hari terakhir saya disini *yeayyyyy* Alhamdulillah geschafft! Akhirnya tidak terasa semua terlewati. Mengawali hari terakhir magang, saya sangat berharap tidak ricuh dan sibuk. Dan alhamdulillah hari ini santaaaiiii sekali. Setelah dinas selesai, saya pun dibuat terharu oleh teman-teman perawat.  Satu persatu menyalami dan memeluk saya, mengucapkan kata terima kasih dan berdoaa untuk kehidupan saya. Air mata saya tidak bisa terbendung lagi. Namun rasanya saya malu sekali jika terlihat menangis. Tak lama suster Beate menghampiri saya dan memberikan bingkisan coklat dan sebuah amplop kecil sebagai kenang-kenangan dari teman-teman perawat di Station 3A-chirurgie. ya... siang itu saya dibuat terharu oleh mereka. Saya merasa sangat dianggap, dihargai dan dipandang sebagai adik oleh mereka. 42 hari yang menyenangkan. Saya belajar banyak disini. Pengalaman dari bidang kedokteran juga pengalaman berbahasa Jerman sebagai alat komunikasi saya, yang sampai-sekarang-saya-rasa-sangat-sulit. Terimakasih banyak Station 3A-Chirurgie.  Terimakasih St. Josefs Hospital!!!

Syifa yang kami cintai..

Kita ucapkan yang terbaik untuk kamu kedepannya! Terima kasih banyak atas bantuannya.

Your Team, Station 3A/IMC

Gießen, 01 April 2014